BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikan

Trisno Nugroho: Ekonomi Bali Tumbuh 5,85 Persen Dorong Pemerataan Ekonomi Bali Lebih Berkualitas, Merata dan Berkelanjutan

Jbm.co.id-DENPASAR | Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, Trisno Nugroho menilai perekonomian Bali masih menunjukkan ketangguhan ditengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik.

Meski mencatat pertumbuhan 5,85 persen pada Triwulan III 2026, Bali dinilai masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas, merata, dan berkelanjutan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bali pada Triwulan III 2026 tumbuh 5,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan Triwulan II 2026 sebesar 5,78 persen dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang Januari-September 2026 mencapai 5,74 persen. Namun, capaian tersebut masih sedikit di bawah pertumbuhan Triwulan III 2025 yang mencapai 5,88 persen.

Menurut Trisno Nugroho, kondisi ini menunjukkan ekonomi Bali tetap memiliki daya tahan, tetapi penguatan struktur ekonomi harus terus dilakukan agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada pariwisata.

Pariwisata Masih Dominan, Sektor Pendukung Menguat

Sektor akomodasi dan makan-minum masih menjadi motor utama ekonomi Bali dengan kontribusi 22,87 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pertumbuhan 6,23 persen.

Kinerja tersebut ditopang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 0,94 persen dan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 4,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, pertumbuhan sektor akomodasi dan makan-minum melambat cukup signifikan dibandingkan Triwulan III 2025 yang mencapai 10,94 persen. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 1,20 persen.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pengembangan pariwisata Bali tidak cukup hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Peningkatan kualitas destinasi, produktivitas usaha, dan nilai tambah ekonomi harus menjadi perhatian serius.

Disisi lain, sejumlah sektor ekonomi justru mencatat pertumbuhan positif. Konstruksi tumbuh 8,91 persen, industri pengolahan 8,07 persen, perdagangan 7,35 persen, serta jasa keuangan dan asuransi mencapai 9,00 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,43 persen dan tetap menjadi penopang utama ekonomi. Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi riil tumbuh 8,74 persen, didukung aktivitas investasi dan peningkatan belanja modal pemerintah.

Trisno Nugroho menilai investasi ke depan harus diarahkan pada sektor produktif yang memberikan manfaat jangka panjang. Prioritasnya mencakup infrastruktur transportasi, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, energi bersih, industri pengolahan, hingga pengembangan ekonomi kreatif.

Investasi, menurutnya, tidak boleh sekadar menambah bangunan atau kapasitas usaha, tetapi harus mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga daya dukung lingkungan Bali.

Pertanian dan UMKM Jangan Tertinggal dari Pariwisata

Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah belum optimalnya pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sektor yang memiliki kontribusi 12,19 persen terhadap perekonomian Bali tersebut baru tumbuh 2,55 persen. Padahal, pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan, stabilitas harga, kesejahteraan petani, kelestarian subak, serta keberlanjutan pariwisata.

Oleh karena itu, keterkaitan antara sektor pertanian dan pariwisata perlu diperkuat. Hotel, restoran, dan industri pariwisata diharapkan semakin banyak menyerap produk pertanian, perikanan, kerajinan, kuliner, serta produk kreatif masyarakat lokal.

Trisno Nugroho juga mendorong UMKM naik kelas melalui digitalisasi, akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk, dan perluasan pasar.

Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menjadi sektor yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga menjadi lokomotif yang menggerakkan ekonomi petani, nelayan, perajin, seniman, pelaku UMKM hingga masyarakat desa.

Pengangguran Turun, Ketimpangan Wilayah Masih Terlihat

Dari sisi kesejahteraan, sejumlah indikator sosial ekonomi Bali menunjukkan perkembangan positif.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali pada Agustus 2026 turun menjadi 1,42 persen. Proporsi pekerja formal juga meningkat menjadi 51,31 persen. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali naik menjadi 80,03 dan telah masuk kategori pembangunan manusia sangat tinggi.

Namun, tantangan pemerataan masih cukup besar. Jumlah penduduk bekerja sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, kesenjangan pembangunan manusia antarkabupaten/kota masih terlihat.

IPM Kota Denpasar mencapai 86,33, sedangkan Kabupaten Karangasem tercatat 72,41.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pembangunan Bali tidak cukup hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi. Penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pemerataan kesempatan ekonomi juga harus menjadi indikator utama.

Lima Agenda Strategis Ekonomi Bali Menuju 2027

Memasuki akhir 2026 dan menyongsong 2027, Bali dinilai memiliki modal pertumbuhan yang cukup kuat. Namun, berbagai tantangan seperti gejolak ekonomi global, tekanan inflasi, kemacetan, persoalan sampah, keterbatasan air bersih, serta alih fungsi lahan pertanian tetap membutuhkan perhatian serius.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Trisno menekankan lima agenda strategis pembangunan ekonomi Bali.

Pertama, memperkuat pariwisata berkualitas. Kedua, mempercepat investasi produktif dan pembangunan infrastruktur. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan. Keempat, mendorong UMKM serta penciptaan lapangan kerja berkualitas. Kelima, memperluas pemerataan pembangunan antar wilayah.

Agenda tersebut sejalan dengan arah Transformasi Ekonomi Kerthi Bali dan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menempatkan keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, kelestarian alam, dan penguatan budaya sebagai fondasi pembangunan.

Trisno Nugroho menegaskan, pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,85 persen patut diapresiasi. Namun, capaian tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pembangunan ke depan.

Keberhasilan ekonomi Bali tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya angka pertumbuhan, tetapi juga seberapa besar manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat, seberapa merata kesempatan ekonomi yang tercipta, serta seberapa baik alam dan budaya Bali tetap terjaga.

Bali harus terus tumbuh dan semakin tangguh. Namun, pertumbuhan tersebut harus semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, tanpa kehilangan jati diri dan jiwa Bali bagi generasi mendatang.

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button