WBT dan Putu Dunia Bersatu di Besakih Momentum Akhiri Perbedaan Arah Pemikiran Tegaskan PHDI Satu

Jbm.co.id-KARANGASEM | Umat Hindu menyambut gembira bersatunya kembali dua tokoh umat Hindu, yakni mantan Ketua Umum PHDI Pusat Mayor Jenderal TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya (WBT) dan Ketua Umum Perkumpulan Darmopadesa Nusantara Pusat Marsekal TNI (Purn.) I.B. Putu Dunia.
Perbedaan yang terjadi selama ini lebih berkaitan dengan perbedaan arah pemikiran bukan semata-mata konflik.
“Saya adalah orang yang paling bahagia, karena apa yang terjadi selama ini bukanlah sebuah konflik, melainkan adanya arah pemikiran yang berbeda,” kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Binmas) Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, saat acara Masimakrama di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Sabtu (24/10/2026).
Nengah Duija mengapresiasi kesediaan kedua tokoh untuk kembali membangun kebersamaan dan menjaga perdamaian di kalangan umat Hindu.
Menurut Nengah Duija, bersatunya kembali kedua tokoh tersebut menjadi teladan penting bagi generasi muda sekaligus momentum untuk memperkuat persatuan umat Hindu di Indonesia.
Sebagai perwakilan pemerintah, Nengah Duija menyampaikan terima kasih kepada Wisnu Bawa Tenaya (WBT) dan I.B. Putu Dunia atas sikap yang ditunjukkan dalam menjaga keutuhan organisasi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
Nengah Duija juga menyinggung dukungan pemerintah atas pelaksanaan Mahasabha XIII PHDI. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya persatuan dalam organisasi umat Hindu.
“Harapan kami sebagai perwakilan pemerintah, kedepan PHDI hanya ada satu dan tidak ada PHDI dua atau tiga. Astungkara, hal ini terwujud melalui Mahasabha XIII, dimana kami juga turut terlibat di sana,” kata Nengah Duija.
Sementara itu, Wisnu Bawa Tenaya (WBT) dan I.B. Putu Dunia sepakat mengajak seluruh elemen umat Hindu menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan musyawarah.
Seruan tersebut disampaikan dalam Masimakrama, serangkaian kegiatan Mejaya-Jaya Pengurus PHDI Pusat masa bakti 2026-2031 di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (24/10/2026).
Wisnu Bawa Tenaya (WBT) mengajak para tokoh dan pemimpin umat Hindu memperkuat kebersamaan demi mewujudkan kehidupan umat yang lebih sejahtera, termasuk umat Hindu yang tinggal di luar Bali.
“Kita ingin bersatu untuk membangun umat kita lebih sejahtera. Ngiring para pengelingsir juga, supaya kita jangan mau diadu domba. Kita bersatu,” kata Wisnu Bawa Tenaya (WBT).
WBT mengingatkan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai pegangan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, menurutnya, harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk dalam menghadapi perbedaan pandangan.
WBT juga mendorong para tokoh agama, akademisi, kalangan puri, dan berbagai unsur masyarakat menjadi ruang dialog ketika muncul persoalan di tengah umat.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalau ada masalah, ada persoalan, kita selesaikan,” ujarnya.
Menurutnya, persatuan tidak cukup dibangun melalui seruan semata. Para tokoh perlu terlibat langsung mendengarkan persoalan umat dan bersama-sama mencari jalan keluar.
WBT juga mengajak umat Hindu yang memiliki kemampuan, baik berupa pemikiran, tenaga, maupun dana, untuk membantu saudara-saudara mereka yang masih menghadapi kesulitan, khususnya umat Hindu di luar Bali.
“Bila punya pikiran, punya tenaga, punya dana, ayo kita bantu umat kita yang masih kesulitan di luar Bali,” katanya.
WBT turut menyerukan pentingnya kebersamaan dengan mengibaratkan seluruh elemen umat seperti lidi yang disatukan menjadi sapu. Ia juga menyinggung kedekatannya dengan I.B. Putu Dunia yang sama-sama pernah bertugas di Magelang, meski berada pada matra berbeda. “Saya di darat dan Putu Dunia di udara,” ungkapnya.
Disisi lain, Putu Dunia menekankan pentingnya pembenahan internal sebelum PHDI menjalankan berbagai program pengembangan organisasi.
Putu Dunia mengibaratkan organisasi seperti tubuh manusia yang perlu menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala. Jika ditemukan penyakit, persoalan tersebut harus ditangani terlebih dahulu sebelum upaya meningkatkan kondisi tubuh dilakukan.
Menurut Putu Dunia, prinsip yang sama perlu diterapkan dalam pembenahan PHDI. Berbagai persoalan internal harus diidentifikasi dan diselesaikan agar organisasi dapat menjalankan program secara lebih efektif.
Kemudian, Putu Dunia menggunakan perumpamaan pertanian untuk menggambarkan pentingnya membersihkan hambatan sebelum mengembangkan organisasi.
“Kalau tanaman itu, tanaman itu selalu dipupuk, di mana kalau ada rumput, ada perusak tanaman, kita biarkan, kita pupuk, maka yang akan hidup itu adalah gulma itu. Padinya akan mati,” kata Putu Dunia.
Oleh karena itu, Putu Dunia menilai berbagai persoalan yang menghambat organisasi perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum program pengembangan dijalankan secara maksimal.
“Maka sebelum melaksanakan pemupukan seperti apa yang direncanakan itu, ambil dulu gulma-gulmanya dulu, bersihkan dulu, sehingga padi-padi, tanaman-tanaman kita bisa rapi,” terangnya.
Putu Dunia juga menyinggung perlunya mengkaji kembali aspek-aspek mendasar dalam organisasi PHDI, termasuk penggunaan nama Parisada Hindu Dharma Indonesia, sebagaimana disampaikan dalam pidatonya.
Pesan kedua tokoh tersebut menjadi penekanan, bahwa persatuan umat Hindu perlu disertai kemauan menyelesaikan perbedaan, melakukan pembenahan organisasi, serta memperkuat kepedulian atas eksistensi umat Hindu di berbagai daerah.
Sementara itu, Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semara Putra berharap penyatuan tokoh-tokoh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menjadi momentum memperkuat persatuan umat Hindu sekaligus meningkatkan perlindungan bagi umat Hindu di luar Bali.
Harapan tersebut disampaikan Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semara Putra, saat menghadiri rangkaian upacara Mejaya-Jaya dan Masimakrama Pengurus PHDI Pusat Masa Bakti 2026-2031 di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (24/10/2026).
Ida Dalem Semara Putra menyambut gembira terbentuknya kepengurusan baru PHDI Pusat.
Menurutnya, penyatuan para tokoh di tubuh organisasi keagamaan Hindu tersebut memberikan harapan baru setelah umat sempat dihadapkan pada perbedaan pandangan internal.
Lebih lanjut, Ida Dalem Semara Putra mengakui, perbedaan yang terjadi sebelumnya sempat membuat masyarakat kebingungan dalam menentukan sikap, karena masing-masing pihak dinilai memiliki pandangan dan pertimbangan yang baik.
“Selama ini kita bingung, pilih yang mana, karena semua baik. Jadi, mohon, yang ini baik, yang itu juga baik, tetapi memang ada yang perlu disepakati bersama,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai persoalan yang masih mengganjal perlu dibicarakan secara terbuka dan diselesaikan dengan cara yang baik. Dengan demikian, umat Hindu dapat menjalankan kehidupan beragama dengan tenang tanpa terus dibayangi persoalan internal organisasi.
“Semoga ada kesempatan bahwa kita tetap bersatu dan apabila ada hal-hal yang mengganjal, dibicarakan secara baik-baik. Jadi, buat kami umat beragama bisa tenang,” kata Ida Dalem Semara Putra.
Ida Dalem Semara Putra juga menegaskan persatuan menjadi hal penting bagi umat Hindu yang merupakan kelompok minoritas di Indonesia. Oleh karena itu, perbedaan pandangan hendaknya tidak berujung pada perpecahan yang berpotensi melemahkan posisi umat.
Selain mendorong rekonsiliasi internal, Ida Dalem Semara Putra khusus meminta pengurus PHDI Pusat yang baru memberikan perhatian atas perlindungan umat Hindu di berbagai daerah di luar Bali.
Oleh karena itu, Ida Dalem Semara Putra berharap umat Hindu di seluruh Nusantara dapat menjalankan aktivitas keagamaan dengan aman, nyaman, dan tanpa gangguan.
Menurutnya, toleransi harus menjadi prinsip bersama yang diterapkan secara merata di seluruh Indonesia.
“Tolong umat kita yang di luar Bali untuk dilindungi. Supaya mereka bisa menjalankan tugas agamanya dengan baik, tidak diganggu oleh yang lain-lain. Toleransi itu jangan hanya di Bali, tetapi berlaku untuk seluruh Indonesia,” tegasnya.
Ida Dalem Semara Putra juga menyoroti pentingnya membangun pemahaman terhadap perbedaan tradisi dan pandangan keagamaan agar tidak mudah memicu pertentangan di tengah umat.
Ida Dalem Semara Putra mengibaratkan berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber ketidakcocokan seperti gulma yang perlu dikenali dan dianalisis sebelum ditangani.
“Perbedaan-perbedaan yang ada, mungkin seperti gulma-gulma yang dulu menjadi sumber ketidakcocokan, supaya dianalisis dengan lebih baik. Kira-kira gulma yang bagaimana yang perlu dihilangkan,” ujarnya.
Menurutnya, penyelesaian persoalan membutuhkan pemahaman yang jelas dan menyeluruh. Perbedaan tidak seharusnya langsung dipandang sebagai pertentangan, melainkan perlu dikaji agar ditemukan titik temu yang dapat diterima bersama.
Ida Dalem Semara Putra turut mengingatkan pentingnya memahami landasan ajaran Hindu mengenai Tuhan Yang Maha Esa.
Pemahaman tersebut, menurutnya, perlu dijaga agar kehidupan beragama tidak terjebak pada pengultusan tokoh atau individu tertentu.
“Jadi, bukan kepada satu tokoh atau kepada perorangan. Mungkin itu yang perlu kita tuju bersama,” paparnya.
Ida Dalem Semara Putra juga berharap kepengurusan baru PHDI Pusat dapat menjadikan momentum penyatuan dan rekonsiliasi sebagai langkah mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, serta memperjuangkan kepentingan umat Hindu di seluruh Nusantara.
Dengan persatuan yang semakin kuat dan komunikasi yang terbuka, Ida Dalem Semara Putra berharap PHDI dapat menjalankan perannya dalam menjaga kehidupan beragama yang harmonis sekaligus memperjuangkan hak umat Hindu untuk menjalankan keyakinannya dengan aman dan damai.
Pewarta: Ace Wiguna
Editor: Putu Wiguna



