BaliBeritaDaerahDenpasar

Krisis BBM di Bali: Belajar dari Covid-19 Jangan Terprovokasi Propaganda Waspadai Serangan Kognitif

Catatan Senja I Made Somya Putra

Jbm.co.id-DENPASAR | Ditengah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Bali dan gejolak ekonomi global, masyarakat dihimbau tetap tenang, tidak panik serta bijak menyikapi informasi yang beredar di media sosial.

Pesan tersebut disampaikan Advokat I Made Somya Putra melalui tulisan bertajuk Catatan Senja.

Somya Putra menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai serangan kognitif terhadap Indonesia, yakni upaya memengaruhi pola pikir masyarakat melalui informasi dan narasi yang berpotensi memicu ketakutan, perpecahan, serta ketidakpercayaan terhadap negara.

Sebagai penonton setia Bennix yang mengulas geopolitik dan ekonomi, Jro Somya mengaku tidak ingin menyalahkan pemerintah pusat maupun daerah atas situasi kelangkaan BBM yang terjadi saat ini.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat dalam konteks dinamika geopolitik dan ekonomi global yang telah diprediksi sebelumnya.

“Serangan kepada negara kita bertubi-tubi, tetapi kita tidak perlu panik,” tulis Jro Somya dalam catatannya.

Somya Putra menilai pemerintah telah berupaya mengantisipasi tantangan energi melalui berbagai kebijakan, termasuk pengembangan biodiesel B50, peningkatan penggunaan campuran etanol dalam bahan bakar melalui program E20, serta pemberian insentif kendaraan listrik.

Somya Putra juga menyoroti keputusan pemerintah untuk mempertahankan subsidi BBM bagi masyarakat kecil di tengah kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan pilihan yang memiliki konsekuensi terhadap kondisi fiskal dan devisa negara.

Somya Putra memahami situasi tersebut bukan perkara mudah bagi pemerintah. Bahkan, menurutnya, sejumlah pejabat dan anggota legislatif turut berupaya membantu masyarakat menghadapi kesulitan mendapatkan BBM.

Setelah BBM, Somya Putra Ingatkan Potensi Gejolak Ekonomi

Dalam tulisannya, Somya Putra mengingatkan bahwa perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada persoalan BBM. Ia menyebut pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), potensi pemadaman listrik atau blackout, hingga prediksi kelangkaan minyak dalam jangka panjang sebagai isu yang perlu disikapi secara cermat.

Somya Putra memandang rangkaian isu tersebut sebagai bagian dari apa yang disebutnya serangan kognitif terhadap negara.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan penilaiannya terhadap situasi yang berkembang. Dugaan adanya serangan kognitif yang terkoordinasi maupun prediksi pemadaman listrik dan kelangkaan minyak selama lebih dari satu tahun memerlukan bukti dan verifikasi tersendiri.

Somya Putra mengajak masyarakat lebih kritis dalam membaca informasi, terutama ketika narasi yang beredar hanya berisi kecaman kepada pemerintah atau menonjolkan kelemahan pemimpin tanpa memberikan edukasi dan solusi.

“Sekarang, cara membedakan mana pejuang rakyat dan mana yang politisi, tinggal lihat dan baca di medsos,” tulisnya.

Somya Putra menilai penyebaran narasi yang memperkeruh keadaan berpotensi menguras energi masyarakat dan mengurangi fokus dalam menghadapi persoalan bersama.

Somya Putra juga menyinggung penggunaan istilah “Konoha” untuk menyebut Indonesia dalam berbagai perdebatan di media sosial.

Menurutnya, narasi semacam itu dapat memperkuat sentimen negatif terhadap negara apabila digunakan untuk membangun ketidakpercayaan secara berlebihan.

Belajar dari Pandemi Covid-19

Somya Putra mengingatkan masyarakat agar mengambil pelajaran dari pengalaman pandemi Covid-19, ketika informasi yang tidak terverifikasi, hoaks, serta narasi yang memicu ketakutan dan kebencian menyebar luas di ruang digital.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menerima dan membagikan informasi, termasuk dengan memeriksa sumber berita serta membedakan fakta dari opini maupun prediksi.

Ditengah situasi yang tidak menentu, Somya Putra mengajak masyarakat mengurangi aktivitas bepergian yang tidak mendesak dan menerapkan pola hidup hemat secara bijak.

Ajakan tersebut, menurutnya, sejalan dengan nilai-nilai kearifan leluhur yang mengutamakan ketenangan, keseimbangan, dan kebersamaan dalam menghadapi kesulitan.

“Untuk itu, mari kita seperti air yang mengalir tanpa harus membuat riak ombak,” tulisnya.

Somya Putra menegaskan masyarakat tidak perlu larut dalam kepanikan. Sebaliknya, situasi saat ini perlu dihadapi dengan ketenangan, kehati-hatian, serta semangat gotong royong.

“Tenang saja dan jalani hidup apa adanya. Walaupun susah, percayalah hal ini akan dapat kita lewati. Rahayu,” tutupnya.

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button