BeritaDaerahEkonomiLingkungan HidupNasionalOpiniPariwisataPemerintahanPendidikanPolitikSosialwisata

KPL Nitikan Pacitan Tuai Apresiasi Bakesbangpol Pemprov Jatim, Jadi Pilar Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat. Simak Penuturan Kaban Turmudi

"Kunjungan itu menjadi momentum untuk melihat secara langsung potensi wilayah pesisir selatan Jawa Timur, sekaligus menyaksikan semangat gotong royong masyarakat Pacitan dalam membangun kemandirian pangan dari lingkungan sendiri"

Pacitan,JBM.co.id-Upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat melalui Kampung Pangan Lestari (KPL) di Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, mendapat perhatian dan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Program yang mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan secara ramah lingkungan ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Apresiasi tersebut ditandai dengan kunjungan kerja Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Doni Nugroho Susanto, ke kawasan KPL Nitikan, Kamis (15/10).

Kunjungan itu menjadi momentum untuk melihat secara langsung potensi wilayah pesisir selatan Jawa Timur, sekaligus menyaksikan semangat gotong royong masyarakat Pacitan dalam membangun kemandirian pangan dari lingkungan sendiri.

Kepala Bakesbangpol Pacitan, Turmudi, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk melihat lebih dekat kondisi dan potensi Kabupaten Pacitan. Namun, kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan salah satu program prioritas Bupati Pacitan, yakni pengembangan KPL di Nitikan.

“Kesempatan ini kami manfaatkan untuk memperlihatkan dari dekat KPL yang menjadi program prioritas Pak Bupati di Nitikan,” kata Turmudi, Jumat (16/10).

Menurut Turmudi, keberadaan KPL Nitikan merupakan wujud nyata sinergi berbagai unsur dalam membangun ketahanan pangan. Keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD), kalangan pelajar, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan kawasan produktif yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan warga.

Bagi masyarakat, pekarangan rumah bukan sekadar ruang kosong di sekitar tempat tinggal. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan tersebut dapat menjadi sumber pangan keluarga, terutama untuk memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari. Pemanfaatan pekarangan secara kolektif juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah.

“KPL merupakan kawasan yang dibentuk untuk menyangga kelangkaan komoditas sayuran, terutama untuk masyarakat setempat,” jelas Turmudi kepada wartawan.

Program KPL memiliki arti strategis di tengah pentingnya menjaga ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat. Ketika produksi pangan dapat diupayakan dari lingkungan terdekat, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi sebagian kebutuhan secara mandiri, menekan pengeluaran rumah tangga, sekaligus membangun ketahanan menghadapi gejolak pasokan dan harga komoditas.

Lebih dari sekadar gerakan menanam sayuran, KPL Nitikan memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dapat tumbuh dari kesadaran bersama. Lahan pekarangan yang dikelola secara produktif, didukung partisipasi masyarakat dan sinergi pemerintah, dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi keluarga dan lingkungan sosial yang lebih tangguh.

Semangat inilah yang mendapat apresiasi dari Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur. Menurut Turmudi, Doni Nugroho Susanto bahkan berharap kawasan KPL Nitikan dapat menjadi rujukan bagi daerah lain yang ingin merintis program serupa, khususnya untuk mengantisipasi kelangkaan sayuran dan memperkuat ketersediaan pangan di tingkat lokal.

Harapan tersebut sekaligus menempatkan KPL sebagai model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, gerakan ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dapat tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Masih menurut Turmudi, dalam perspektif yang lebih luas, ketahanan pangan berkaitan erat dengan ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional.

Masyarakat yang mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri akan memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Pada saat yang sama, keterlibatan warga dalam kegiatan produktif bersama turut memperkuat solidaritas, gotong royong, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan serta sesama.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam meneguhkan ideologi kebangsaan. Kemandirian, kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling membantu merupakan fondasi kehidupan berbangsa yang perlu terus dirawat, termasuk melalui program-program pemberdayaan di tingkat desa.

“Ketahanan pangan ini juga bagian dari ketahanan ekonomi dan meneguhkan ideologi bangsa,” tegas Turmudi.

KPL Nitikan, lanjut dia, menjadi gambaran bahwa pembangunan ketahanan nasional dapat berawal dari lingkungan paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari pekarangan rumah, tumbuh ikhtiar untuk menjaga ketersediaan pangan. Dari kerja bersama, terbangun kekuatan ekonomi keluarga. Dan dari semangat gotong royong, terpelihara nilai-nilai kebangsaan yang menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.

Dengan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif warga, KPL Nitikan diharapkan terus berkembang menjadi kawasan produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Pacitan, sekaligus menginspirasi daerah lain untuk membangun kemandirian pangan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan ekonomi dan memperkokoh persatuan bangsa.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button