Nyoman Parta Pantau BBM Langka Keliling Bali Usulkan Pertamina Minta Bantuan TNI-Polri Atasi Antrean Mengular: Tidak Selesai Malam Ini Akan Berlanjut 2-3 Hari Kedepan

Jbm.co.id-DENPASAR | Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali memasuki puncak hari ketiga, Rabu (14/10/2026).
Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) masih mengular, bahkan dilaporkan meluas hingga Selemadeg, Tabanan, dan Kintamani.
Anggota Komisi III DPR RI, I Nyoman Parta turun langsung memantau kondisi antrean BBM di sejumlah SPBU di wilayah Denpasar, Badung, dan Tabanan sejak pukul 14.00 WITA.
Berdasarkan informasi yang beredar melalui media sosial dan WhatsApp, antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan, tetapi juga meluas ke sejumlah wilayah lainnya di Bali.
Menyikapi kondisi tersebut, Nyoman Parta mengusulkan agar penggunaan barcode untuk pembelian BBM ditiadakan sementara waktu, sepanjang secara teknis kebijakan tersebut memungkinkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dipertimbangkan untuk membantu memperlancar pelayanan kepada masyarakat ditengah situasi distribusi BBM yang belum kembali normal.
“Kesimpulan saya ini tidak akan selesai malam ini mungkin akan berlanjut 2-3 hari kedepan,” kata Nyoman Parta.
Ia juga mengusulkan agar Pertamina bersama pengelola SPBU meminta bantuan TNI-Polri untuk membantu kelancaran pengisian BBM di SPBU yang mengalami kepadatan antrean.
Selain itu, pihak SPBU diminta memaksimalkan seluruh mesin pompa atau dispenser beserta nozzle yang tersedia agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih cepat.
Nyoman Parta turut menyampaikan permohonan kepada masyarakat yang masih mengantre di berbagai SPBU agar tetap bersabar menghadapi situasi tersebut.
“Dalam situasi krisis seperti ini saya memohon dengan kerendahan hati kepada semeton yang masih antre di SPBU dimanapun lokasinnya untuk bersabar. Sabar ya Ton dengan hormat minta tolong saya,” kata Nyoman Parta.
Sebelumnya, pantauan pada Rabu pagi sekitar pukul 05.00 WITA menunjukkan antrean kendaraan masih mengular hingga ratusan meter di sejumlah SPBU di Denpasar, diantaranya kawasan Gatot Subroto Tengah, SPBU Ubung, Jalan Ahmad Yani Utara, Gatot Subroto Timur, hingga Tohpati.
Antrean juga meluas ke wilayah Kabupaten Gianyar, seperti SPBU Sakah Batuan, Ketewel, Sanding Tampaksiring, dan Lebih.
Kondisi tersebut berdampak pada kelancaran lalu lintas dan mengganggu aktivitas masyarakat. Pada Selasa (13/10/2026) malam sekitar pukul 21.00 WITA, kemacetan parah bahkan masih terjadi di kawasan perempatan Jalan Marlboro dan Teuku Umar Barat, Denpasar.
Keberadaan dua SPBU di sekitar lokasi dengan antrean kendaraan roda dua dan roda empat membuat arus lalu lintas semakin semrawut.
Sebelumnya, Nyoman Parta juga mendesak pemerintah daerah mengambil langkah konkret untuk mengurangi kemacetan selama distribusi BBM belum kembali normal.
Bahkan, Nyoman Parta meminta Pertamina bergerak lebih cepat dalam mengatasi persoalan tersebut. Menurutnya, kesiapan distribusi yang disampaikan Pertamina harus dibuktikan dengan kondisi nyata di lapangan.
“Pertamina harus lebih gercep lagi, jangan bilang siap, siap, tapi omon-omon,” tegas Nyoman Parta.
Untuk mengurangi mobilitas masyarakat, Nyoman Parta mengusulkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, serta institusi pendidikan mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) selama beberapa hari.
Nyoman Parta juga mendorong kampus dan sekolah menerapkan pembelajaran daring untuk sementara waktu. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi kepadatan lalu lintas sehingga distribusi BBM dari Depo Manggis dan Sanggaran menuju SPBU bisa berlangsung lebih cepat.
“Sehingga mengurangi kemacetan dan mobilitas distribusi BBM dari Depo Manggis dan Sanggaran bisa lebih cepat,” pintanya di Denpasar, Selasa (13/10/2026).
Selain pengurangan mobilitas, Nyoman Parta meminta Kepolisian Daerah (Polda) Bali membantu mengawal distribusi BBM agar pasokan dari depo dapat lebih cepat sampai ke SPBU.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean panjang di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
“Atas nama PT Pertamina Persero, saya selaku Direktur Utama menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, khususnya bagi warga Bali atas kejadian antrean yang beberapa hari ini kita alami bersama, khususnya di SPBU-SPBU yang berada di wilayah Bali,” ujarnya.
Simon menjelaskan, Pertamina terus berupaya memperbaiki distribusi energi agar pelayanan kepada masyarakat kembali berjalan dengan baik.
Simon menyebut salah satu penyebab keterlambatan pasokan adalah kendala pada jangkar kapal saat proses pembongkaran kargo. Akibatnya, jadwal yang semula direncanakan berlangsung sekitar pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA.
“Namun sekali lagi, kejadian ini tidak untuk mencari pembenaran bagi kami. Bagaimanapun juga yang terpenting adalah pelayanan bagi masyarakat. Jadi sekali lagi, untuk kesekian kalinya juga saya menyampaikan permohonan maaf,” kata Simon.
Hingga Rabu (14/10/2026), antrean panjang di sejumlah SPBU masih menjadi persoalan serius di Bali. Usulan penangguhan barcode, pelibatan TNI-Polri, optimalisasi dispenser, serta pengurangan mobilitas masyarakat menjadi sejumlah langkah, untuk membantu mengatasi krisis BBM dan memulihkan kelancaran lalu lintas.
Editor: Putu Wiguna




