Ketika Sampah Organik Kembali Menghidupi Tanah di KPL Nitikan
"Sebuah siklus sederhana yang menjadi gambaran praktik ekonomi sirkular di tingkat masyarakat"

Pacitan,JBM.co.id-Pagi di Nitikan, Pacitan, tak sekadar menghadirkan aktivitas menanam. Di kawasan yang menjadi bagian dari pendampingan berkelanjutan Program Kampung Pangan Lestari (KPL) itu, tanaman dirawat, lingkungan dijaga kebersihannya, sementara sampah organik diolah kembali menjadi kompos.
Dari tanah, sampah kembali menjadi sumber kehidupan. Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam. Sebuah siklus sederhana yang menjadi gambaran praktik ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Pendampingan KPL di Nitikan terus dilakukan secara bertahap dengan menguatkan kebiasaan warga dalam menanam dan merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengolah sampah organik agar memiliki nilai manfaat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, Cicik Roudlotul Jannah, mengatakan keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan program tersebut.
Menurutnya, KPL tidak berhenti pada aktivitas menanam, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu membangun kebiasaan mengelola lingkungan secara utuh. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan, dapat dikembalikan ke tanah dalam bentuk kompos dan digunakan kembali untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
“Prinsipnya adalah bagaimana yang ada di lingkungan kita bisa kembali dimanfaatkan. Sampah organik diolah menjadi kompos, kemudian kompos digunakan untuk media tanam. Jadi ada siklus yang terus berjalan dan memberikan manfaat,” ujar Cicik, Jum’at (25/9).
Perlahan, geliat KPL di Nitikan mulai terlihat. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat warga menanam dan merawat tanaman, tetapi juga berkembang sebagai ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Sejumlah sekolah mulai melakukan kunjungan untuk mengenal lebih dekat tanaman organik dan praktik sederhana ketahanan pangan keluarga.
Para pelajar dapat melihat secara langsung bagaimana tanaman ditanam dan dirawat, sekaligus memahami bahwa menjaga pangan juga berkaitan erat dengan menjaga lingkungan.
Di tengah semakin pentingnya kesadaran terhadap ketahanan pangan keluarga, keberadaan KPL menjadi ruang belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari halaman dan lahan sederhana, anak-anak diperkenalkan pada proses panjang sebuah tanaman hingga menghasilkan pangan.
Bagi DLH Pacitan, geliat tersebut menjadi bagian dari proses membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan. Sebab, ketahanan pangan keluarga tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya, dan kemampuan masyarakat mengoptimalkan apa yang tersedia di sekitarnya.
Konsep ekonomi sirkular pun menemukan bentuknya dalam praktik sederhana di KPL Nitikan. Apa yang semula dianggap sebagai sisa, tidak serta-merta berakhir sebagai sampah. Sampah organik dikembalikan menjadi kompos, kompos menyuburkan tanaman, dan tanaman pada akhirnya dapat mendukung kebutuhan pangan keluarga.
Siklus itu terus dirawat.
Dari kebiasaan kecil tersebut, KPL diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai kawasan yang hijau dan produktif, tetapi juga sebagai ruang bersama untuk belajar bahwa keberlanjutan dimulai dari hal-hal sederhana: menanam, merawat, memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali.
“Di Nitikan, gerakan itu sedang bertumbuh. Perlahan, tetapi nyata. Dari tanah yang dirawat, lingkungan yang dijaga, dan pengetahuan yang ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” pungkas Cicik. (Red/yun).




