Komisi XII DPR RI Kunjungi KEK Kura Kura Bali Tegaskan FSRU Dukung Transisi Energi Bersih Ramah Lingkungan Penuhi Lonjakan Kebutuhan Listrik Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Komisi XII DPR RI menegaskan pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) beserta infrastruktur gas pendukung menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan energi di Bali.
Proyek FSRU ini dinilai penting guna memenuhi lonjakan kebutuhan listrik, mendukung transisi energi bersih, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata hijau.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, saat memimpin Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi XII DPR RI Masa Sidang V Tahun Sidang 2025-2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Kamis, 23 Juli 2026.
Kunker Reses Komisi XII DPR RI diterima Tuti Hadiputranto selaku Presiden Direktur PT Bali Turtle Island Development (BTID) dan Tantowi Yahya sebagaiPresiden Komisaris PT Bali Turtle Island Development (BTID).
Menurutnya, pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali mencapai 8,3 persen atau tertinggi di Indonesia. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di kisaran 4 persen. Kondisi itu membuat cadangan pasokan listrik di Bali semakin terbatas sehingga diperlukan tambahan infrastruktur energi yang andal.
“Meskipun masih ada kurang lebih 40 megawatt (MW) cadangan, tetapi sangat terhentak. Pembangunan FSRU itu adalah sebuah keharusan, tanpa mengurangi aspek-aspek lain, sekali lagi ESG (Environment, Social, and Governance),” kata Sugeng Suparwoto.
Sugeng Suparwoto menjelaskan, sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) masih didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara hingga sekitar 70 persen. Sementara itu, Bali juga masih mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang menghasilkan emisi lebih tinggi.
Oleh karena itu, penggunaan gas bumi melalui FSRU dinilai menjadi langkah transisi menuju energi yang lebih bersih. Meski bukan energi terbarukan, gas dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara maupun diesel.
Pasokan gas dari FSRU nantinya akan digunakan untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkapasitas 200 MW. Tambahan daya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan cadangan listrik Bali, terlebih pulau Bali ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat data nasional yang membutuhkan pasokan listrik stabil tanpa henti.
“Bali ini potensi gasnya luar biasa. Bali Utara ini banyak sekali cadangan gas yang sekarang sudah proven (terbukti). Tetapi pemanfaatannya untuk apa kalau tidak untuk Bali? Maka perlu dibangun FSRU,” tegasnya.
Sugeng Suparwoto mengatakan, gas alam dari Bali Utara akan diangkut dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG), kemudian diregasifikasi melalui FSRU sebelum dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
DPR RI Fasilitasi Dialog dengan Masyarakat
Menanggapi penolakan sebagian masyarakat Desa Serangan atas rencana pembangunan FSRU, Sugeng Suparwoto menegaskan DPR RI telah memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan investor. Menurutnya, proyek tersebut merupakan kerja sama antara perusahaan publik dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sehingga aspek partisipasi masyarakat tetap menjadi perhatian serius.
Sugeng Suparwoto juga menyebut studi kelayakan teknis telah melibatkan tim evaluator dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), termasuk tiga profesor asal Bali, guna memastikan proyek berjalan tanpa merusak lingkungan.
Terkait aktivitas nelayan, Sugeng Suparwoto memastikan operasional FSRU tidak akan mengganggu jalur pelayaran tradisional maupun kegiatan mencari ikan.
“Sudah komitmen bahwa dibangunnya FSRU itu tidak mengganggu lalu lintas nelayan. Dipastikan, karena digambarkan aspek teknisnya. Setiap FSRU, ada radius tertentu yang melarang kegiatan membahayakan karena sifatnya gampang terbakar. Itu standar di seluruh proyek migas,” kata Sugeng Suparwoto.
Diakhir kunjungan, Sugeng Suparwoto optimistis Bali mampu menjadi contoh dunia dalam mengembangkan sektor energi yang selaras dengan pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.
“Insya Allah Bali akan menjadi percontohan dunia bagaimana menggabungkan aspek alam dan aspek ekonomi tetap bisa berjalan seiring dengan lingkungan yang baik,” pungkasnya. (ace).



