Rupiah Terus Melemah, Sparepart Langka: Pengusaha Onderdil di Pacitan Terjepit Krisis Global. Banyak Investor Relokasi Pabriknya Ke Vietnam?
"Beredar pula kabar bahwa sejumlah investor industri komponen otomotif mulai mempertimbangkan relokasi investasi ke Vietnam"

Pacitan,JBM.co.id-Bayang-bayang krisis ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda mulai dirasakan pelaku usaha di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Pacitan. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut telah mencapai kisaran Rp17.860,60 per dolar AS semakin memperberat beban pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada pasokan komponen kendaraan dari luar negeri.
Di tengah tekanan tersebut, beredar pula kabar bahwa sejumlah investor industri komponen otomotif mulai mempertimbangkan relokasi investasi ke Vietnam. Kondisi itu disebut dipicu oleh berbagai tantangan iklim usaha, mulai dari biaya produksi hingga kebijakan yang dinilai kurang kompetitif dibanding negara tetangga.
Dampaknya kini mulai terasa hingga tingkat pedagang. Irfan Hidayat, salah seorang pengusaha toko onderdil kendaraan di Pacitan, mengaku tidak hanya menghadapi lonjakan harga, tetapi juga kesulitan memperoleh pasokan sparepart dari distributor.
“Kalau harga naik masih bisa dipahami karena kurs dolar terus menguat. Yang paling berat justru stok barang. Kami sering memesan beberapa jenis sparepart, tetapi yang datang tidak pernah lengkap. Ada komponen tertentu yang sekarang sangat sulit didapat,” ujarnya, Ahad (28/6/2026).
Menurut Irfan, sebagian besar komponen yang dipasarkan di tokonya diperuntukkan bagi kendaraan niaga, meski tersedia pula onderdil untuk kendaraan penumpang. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, hampir semua jenis komponen mengalami keterbatasan pasokan.
“Sparepart yang biasanya mudah diperoleh sekarang harus menunggu lebih lama. Untuk mobil penumpang tipe tertentu bahkan semakin sulit dicari,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut merupakan dampak berlapis dari kondisi ekonomi global. Gangguan rantai pasok internasional, tingginya biaya impor, hingga pelemahan nilai tukar rupiah membuat importir lebih berhati-hati dalam mendatangkan barang.
“Persoalannya memang kompleks. Rupiah terus melemah, biaya impor meningkat, sementara daya beli masyarakat juga belum pulih sepenuhnya. Akibatnya, semua pelaku usaha ikut merasakan tekanannya,” ungkap Irfan.
Fenomena ini menjadi gambaran bahwa gejolak ekonomi global tidak hanya memengaruhi industri besar, tetapi juga menjalar hingga sektor perdagangan di daerah. Ketika nilai tukar bergejolak dan distribusi barang terganggu, pelaku usaha di tingkat lokal menjadi pihak yang harus berjuang menjaga ketersediaan barang sekaligus mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Para pelaku usaha berharap kondisi perekonomian segera membaik, stabilitas nilai tukar dapat terjaga, serta kebijakan yang mendukung iklim investasi dan kelancaran perdagangan terus diperkuat. Dengan demikian, rantai pasok kembali normal, harga lebih terkendali, dan kebutuhan masyarakat terhadap komponen kendaraan dapat terpenuhi tanpa hambatan berkepanjangan.(Red/yun).




