Yayasan Jati Nusa Lestari Tanam Pohon di Tebing Desa Besan Buat Mitigasi Longsor saat Tumpek Uduh 2026

Jbm.co.id-KLUNGKUNG | Momentum Hari Raya Tumpek Uduh 2026 dimanfaatkan Yayasan Jati Nusa Lestari untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis budaya dan masyarakat adat di Bali.
Melalui program ” Satu Desa Satu Hutan Jati Nusantara”, Yayasan Jati Nusa Lestari menggelar aksi penanaman pohon dan edukasi lingkungan di kawasan Puncak Sari, Pura Puseh, Desa Adat Besan, Klungkung.
Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kawasan hijau berbasis partisipasi masyarakat dengan pendekatan berkelanjutan.
Tumpek Uduh dipilih sebagai momentum pelaksanaan karena memiliki makna spiritual sebagai hari penghormatan terhadap tumbuhan dan alam semesta dalam tradisi masyarakat Bali.
Kegiatan tersebut juga menegaskan implementasi nilai Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, program “Satu Desa Satu Hutan” tidak hanya fokus pada penanaman pohon, tetapi juga mendorong kesadaran ekologis masyarakat serta penguatan budaya lokal.
Penanaman dilakukan di area pinggir tebing sebagai langkah mitigasi bencana untuk mengurangi risiko longsor di wilayah desa.
Selain aksi penghijauan, Yayasan Jati Nusa Lestari juga menggelar program Sekolah Alam Jati Nusantara bersama SDN Besan.
Kegiatan ini melibatkan siswa-siswi dalam edukasi lingkungan, pengenalan ekosistem hutan, hingga praktik penanaman pohon secara langsung.
Melalui program tersebut, generasi muda diperkenalkan pada pentingnya menjaga alam sejak usia dini sekaligus memperkuat hubungan mereka dengan budaya dan lingkungan sekitar.
Dalam kesempatan itu, Pak Guru Osila selaku perwakilan SDN Besan sekaligus pelopor penggerak pelestarian lingkungan di Desa Besan mengapresiasi kegiatan yang dinilai memberikan pengalaman belajar langsung bagi siswa.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran anak-anak terhadap lingkungan sejak dini. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami secara langsung bagaimana menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan dan budaya Bali,” kata Pak Guru Osila.
Ketua Yayasan Jati Nusa Lestari, Novi Dwi Jayanti, menegaskan bahwa gerakan “Satu Desa Satu Hutan” menjadi langkah nyata dalam membangun masa depan desa yang lestari melalui kolaborasi masyarakat adat, sekolah, komunitas lokal, dan generasi muda.
“Tumpek Uduh bukan hanya seremoni budaya, tetapi momentum untuk mengingat kembali hubungan suci manusia dengan alam. Melalui program Satu Desa Satu Hutan dan Sekolah Alam, kami ingin menghadirkan gerakan kolektif menjaga bumi dimulai di desa dan dilakukan oleh generasi muda untuk alam Bali dan Indonesia,” kata Ketua Yayasan.
Kegiatan di kawasan Puncak Sari, Pura Puseh, Desa Adat Besan tersebut diharapkan menjadi awal gerakan berkelanjutan yang dapat diterapkan di berbagai desa lain di Bali maupun Nusantara.
Yayasan Jati Nusa Lestari sendiri merupakan lembaga yang bergerak di bidang lingkungan, pendidikan, kebudayaan, dan mitigasi bencana berkelanjutan dengan pendekatan berbasis kearifan Nusantara. (ace).



