Gubernur Koster Genjot Restorasi Total Besakih, 23 Pelinggih Siap Dibangun Tahun Ini

Jbm.co.id-KARANGASEM | Gubernur Bali Wayan Koster berkomitmen melakukan penataan menyeluruh di Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual umat Hindu sekaligus simbol kesucian Bali yang harus dijaga lintas generasi.
Demikian disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster, dalam podcast di kawasan Besakih, Kabupaten Karangasem, Kamis, 23 April 2026.
Gubernur Koster menekankan bahwa penataan tidak sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari menjaga warisan leluhur Bali.
“Besakih ini bukan kawasan pariwisata biasa. Ini kawasan suci untuk menghaturkan terima kasih dan memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang harus diubah adalah mindset bahwa Besakih bukan objek wisata semata, tetapi pusat spiritual yang harus dijaga kesuciannya,” kata Gubernur Koster.
Penataan Tahap Awal Berbuah Disiplin Baru
Lebih lanjut, Gubernur Koster menjelaskan penataan tahap pertama telah rampung, meliputi penataan parkir, kebersihan, perilaku pengunjung, hingga ketertiban kawasan. Dampaknya langsung dirasakan oleh pemedek yang kini dapat bersembahyang dengan lebih nyaman.
Perubahan mencolok terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan ketertiban, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Dulu banyak yang berjubel sembarang tempat, sampah berserakan. Sekarang setelah selesai tangkil, keluarga-keluarga makan dan minum sambil beristirahat, mereka langsung membungkus sampahnya dengan rapi dan membuang pada tempatnya. Ini berarti kesadaran masyarakat sudah tumbuh,” ujarnya.
Pengawasan kawasan juga diperkuat melalui CCTV yang dipantau langsung oleh gubernur, menunjukkan peningkatan disiplin sebagai pola hidup baru di kawasan suci tersebut.
Restorasi Total Parahyangan Dimulai
Memasuki tahap kedua, Pemerintah Provinsi Bali akan fokus pada restorasi kawasan Parahyangan, termasuk 26 pelinggih yang mengalami kerusakan.
“Ini tempat memohon kerahayuan, tempat membangun kehidupan spiritual. Masa pelinggihnya lapuk, reyot, dan jamuran? Bahkan stana linggih atau rumah Ida Bhatara ada yang rusak. Kalau manusia tinggal di rumah bocor tentu tidak nyaman, apalagi ini rumah Ida Bhatara tempat umat memohon segala berkah,” kata Gubernur Koster.
Sebanyak tujuh pelinggih telah selesai direstorasi, sementara 23 lainnya akan dikerjakan tahun ini dengan anggaran mencapai Rp203 miliar. Ground breaking dijadwalkan berlangsung saat Purnama, 1 Mei, dengan target rampung Desember 2026 setelah rangkaian IBTK.
Gubernur Koster menegaskan seluruh proses restorasi wajib mengikuti pakem warisan leluhur, termasuk penggunaan material dan detail ukiran yang sesuai.
“Selama ini renovasi dilakukan berbeda-beda, ada beton, ada bata, warna abu-abu, warna biru, kualitasnya juga beda-beda. Ada yang sesuai kemampuan dana, ada yang sesuai selera penyumbang. Ini tidak harmonis. Tempat suci tidak boleh begitu,” paparnya.
Tahap Ketiga: Infrastruktur Akses Besakih
Pada tahap berikutnya, pemerintah akan membangun dan memperlebar akses jalan menuju Besakih dari berbagai wilayah di Bali untuk mengurangi kemacetan.
“Jangan sampai orang mau sembahyang malah mengumpat di jalan karena macet. Harus tenang dari rumah sampai tiba di Besakih supaya bisa khusyuk,” ujarnya.
Program ini direncanakan dimulai pada 2027 dengan skema pembiayaan kolaboratif dari sejumlah daerah yang memiliki kemampuan fiskal kuat.
Pengelolaan Mandiri dan Tanpa Pamrih
Gubernur Koster juga mengungkapkan bahwa Badan Pengelola Kawasan Besakih kini telah mandiri secara finansial dengan pendapatan operasional mencapai Rp3,2 miliar.
“Awalnya dari APBD Rp2,5 miliar, sekarang sudah bisa dari hasil pengelolaan sendiri. Ini pertama kali manajemen mampu menghasilkan. Tapi saya tekankan, jangan sampai ada niat yang tidak baik. Jangan ada korupsi. Harus tulus, lurus, fokus ngayah,” tegasnya.
Gubernur Koster menekankan bahwa penataan Besakih harus dilakukan dengan ketulusan, tanpa kepentingan ekonomi maupun pamrih pribadi.
“Ini tempat suci, jangan memikirkan dampak ekonomi. Jangan pamrih. Semua harus dilakukan dengan ketulusan. Kalau kita tulus membenahi pelinggih Ida Bhatara Sesuhunan, Tuhan pasti menganugerahkan berkah yang baik juga,” terangnya.
Ke depan, pola penataan ini akan diperluas ke pura besar lainnya di Bali sebagai bagian dari visi pembangunan berbasis spiritual.
“Kalau sukses di Besakih, berikutnya Batur. Kalau bisa seluruh pura di Bali dipolakan penataannya agar berjalan baik. Karena menjaga pura berarti menjaga peradaban Bali itu sendiri,” tutupnya. (red).




