Pesan Mendalam KH Mahmud: Saatnya Manusia “Naik Kelas” dengan Mengharap Cinta Allah
"Sering kali kita ingin tenar, kaya raya, dihormati, punya jabatan tinggi, dan mendapatkan berbagai keistimewaan"

Pacitan,JBM.co.id-Pendakwah kondang, KH Mahmud menyampaikan pesan spiritual yang menyentuh tentang orientasi hidup manusia. Ia menyoroti kecenderungan manusia yang terlalu lama menggantungkan kebahagiaan pada penilaian makhluk, seperti popularitas, kekayaan, jabatan, maupun penghormatan sosial.
Menurut KH Mahmud, keinginan untuk dicintai manusia sering kali membuat seseorang terjebak dalam ambisi duniawi yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Banyak orang, kata dia, berjuang keras agar dikenal, dihormati, disegani, bahkan mendapatkan berbagai keistimewaan di tengah masyarakat.
“Sering kali kita ingin tenar, kaya raya, dihormati, punya jabatan tinggi, dan mendapatkan berbagai keistimewaan. Itu membuat hidup kita habis untuk mengejar penilaian manusia,” ungkapnya, Selasa (17/3/2026).
Namun, KH Mahmud mengingatkan bahwa ada tingkatan yang lebih tinggi dalam menjalani kehidupan spiritual. Ia mengajak umat untuk “naik kelas”, yakni mengubah orientasi hidup dari sekadar mencari pengakuan manusia menjadi mengharap cinta dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menurutnya, ketika seseorang mulai memusatkan hidupnya pada keridaan Allah, maka ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh popularitas atau kekayaan, melainkan oleh kedekatan kepada Sang Pencipta.
“Mbok ya kita naik kelas. Jangan hanya ingin dicintai makhluk. Cobalah ingin dicintai Allah dan mengharapkan ridha-Nya,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati dalam Islam tidak terletak pada status sosial, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. KH Mahmud berharap umat Islam dapat menata kembali niat dalam setiap aktivitas, sehingga segala usaha yang dilakukan bermuara pada mencari ridha Allah.
Melalui nasihatnya tersebut, KH Mahmud mengajak masyarakat untuk kembali memaknai kesuksesan secara spiritual: bukan tentang seberapa dikenal manusia, tetapi seberapa dekat dirinya dengan Allah SWT.(Red/yun).




