Umbul-Umbul hingga Penjor, Pemkab Pacitan Hidupkan Nilai Budaya di Hari Jadi ke-281
"Secara kultural, penjor bukan sekadar ornamen. Kehadiran pisang raja dan polo pendem melambangkan rasa syukur atas hasil bumi, doa akan keberlanjutan rezeki, serta refleksi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai ini sejalan dengan tradisi sedekah bumi yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Pacitan"

Pacitan,JBM.co.id-Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-281 Tahun 2026 tidak sekadar dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan. Melalui instruksi resmi Sekretaris Daerah Pacitan Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, Pemerintah Kabupaten Pacitan menegaskan komitmen untuk menjadikan momentum hari jadi sebagai ruang edukasi publik, penguatan identitas daerah, sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Nomor 400.14.1.1/172/408.11/2026 tentang Pemasangan Umbul-umbul, Spanduk dan Penjor Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan Tahun 2026 yang ditujukan kepada seluruh Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Pacitan.
Salah satu poin penting dalam surat tersebut adalah kewajiban setiap perangkat daerah untuk memasang spanduk peringatan Hari Jadi dengan tema besar “PACITAN BINRAJA ING KAMULYAN.” Tema ini mengandung pesan filosofis tentang Pacitan sebagai daerah yang tumbuh dalam kebijaksanaan, kemandirian, serta cita-cita menuju kemuliaan dan kesejahteraan bersama.
Pemasangan spanduk dan umbul-umbul dijadwalkan berlangsung sepanjang 1 hingga 28 Februari 2026 di lingkungan kantor masing-masing perangkat daerah. Langkah ini tidak hanya bertujuan mempercantik ruang publik, tetapi juga menjadi sarana komunikasi visual pemerintah kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga rasa memiliki terhadap daerah.
Yang menarik, peringatan Hari Jadi ke-281 juga diwarnai dengan penguatan simbol budaya melalui pemasangan penjor. Penjor yang dipasang pada 18 Februari 2026 di halaman Pendopo Mas Tumenggung Djogokaryo diwajibkan memiliki panjang minimal 7 meter, dilengkapi tandan pisang raja matang serta polo pendem mentah yang diletakkan di bagian bawah.
“Secara kultural, penjor bukan sekadar ornamen. Kehadiran pisang raja dan polo pendem melambangkan rasa syukur atas hasil bumi, doa akan keberlanjutan rezeki, serta refleksi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai ini sejalan dengan tradisi sedekah bumi yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Pacitan,”ujar Sekda Maulana Heru, Kamis (22/1/2026).
Pemkab Pacitan bahkan memberikan ruang apresiasi bagi kreativitas perangkat daerah dengan menyiapkan penghargaan bagi penampil penjor terbaik. Hal ini diharapkan mendorong partisipasi aktif sekaligus pemahaman yang lebih mendalam terhadap makna budaya yang dihadirkan, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Dalam aspek partisipasi, seluruh karyawan dan karyawati Pemkab Pacitan juga diinstruksikan untuk mengikuti Prosesi Resepsi Hari Jadi ke-281 yang akan digelar pada Kamis, 19 Februari 2026 pukul 08.00 WIB, melalui siaran langsung di kanal YouTube resmi Pemkab Pacitan. Skema ini dinilai sebagai bentuk adaptasi pemerintahan daerah terhadap perkembangan teknologi informasi, sekaligus memperluas jangkauan partisipasi tanpa mengganggu layanan publik.
Penguatan identitas lokal juga tercermin dari kewajiban mengenakan Pakaian Khas Pacitan atau Batik Khas Pacitan, dilengkapi aksesori batu mulia seperti akik, gelang, kalung, atau bros selama periode 1–28 Februari 2026. Kebijakan ini tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi kreatif dengan mendorong penggunaan produk lokal serta keberlangsungan para perajin daerah.
Untuk menjaga keseragaman pesan dan estetika visual, Pemkab Pacitan telah menyiapkan desain resmi spanduk dan banner yang dapat diunduh oleh seluruh perangkat daerah.
Melalui rangkaian kebijakan tersebut, peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan diharapkan menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun daerah. Ia menjadi medium pembelajaran kolektif tentang sejarah, budaya, dan arah pembangunan, sekaligus ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat jati diri Pacitan di tengah dinamika zaman.(Red/yun).




