Trisno Nugroho Kembangkan Model REGENESIS di Desa Wisata Penglipuran Targetkan Pariwisata Bali Lebih Sejahtera hingga 100 Tahun

Jbm.co.id-DENPASAR | Pengamat ekonomi dan pariwisata, sekaligus mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA., mengembangkan Model REGENESIS sebagai pendekatan pariwisata regeneratif yang tidak hanya menjaga kelestarian alam dan budaya, tetapi juga memulihkan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Model tersebut dikembangkan melalui disertasi berjudul “Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali”.
Setelah menyelesaikan ujian terbuka promosi doktor pada 11 Agustus 2026, Trisno Nugroho mengikuti prosesi Wisuda ke-180 Universitas Udayana, Sabtu (24/10/2026).
Penelitian tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan Bali berkualitas, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang, sebagaimana tertuang dalam Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125.
Trisno Nugroho menegaskan, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tingkat hunian hotel, ataupun besarnya pendapatan yang dihasilkan. Lebih dari itu, pariwisata harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat budaya, dan meningkatkan kualitas lingkungan.
“Pariwisata yang berhasil bukan hanya pariwisata yang mendatangkan banyak wisatawan, tetapi pariwisata yang meninggalkan lingkungan lebih baik, budaya lebih kuat, dan masyarakat lebih sejahtera. Itulah pesan utama dari penelitian saya,” kata Trisno Nugroho.
Penglipuran Jadi Laboratorium Pariwisata Regeneratif
Melalui penelitian di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Trisno menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat berperan penting dalam mendorong keterlibatan mereka dalam pengembangan pariwisata.
Keterlibatan tersebut terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sejumlah manfaat pariwisata, terutama penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan kehidupan sosial.
Namun, penelitian itu juga menemukan bahwa keterlibatan masyarakat yang menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial belum terbukti secara statistik memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap pemulihan dan konservasi lingkungan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi pariwisata tidak otomatis menjamin perbaikan kondisi ekologis. Karena itu, diperlukan kebijakan, investasi, program lingkungan, dan tata kelola yang lebih terencana serta terukur.
“Penglipuran merupakan contoh desa wisata yang berhasil menjaga kekuatan adat, budaya, arsitektur tradisional, dan kearifan lokal. Keberhasilan tersebut perlu terus diperkuat, termasuk melalui perlindungan hutan bambu, pengelolaan sampah, pengaturan daya dukung kunjungan, dan pemberdayaan masyarakat. Tujuannya agar kemajuan pariwisata juga semakin meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat desa,” jelasnya.
Model REGENESIS Dorong Pariwisata Memberi Dampak Positif
Berdasarkan kajian teori dan temuan lapangan, Trisno Nugroho mengembangkan REGENESIS Model sebagai kerangka pengembangan pariwisata regeneratif yang menekankan enam prinsip utama.
Keenam prinsip tersebut mencakup pemulihan lingkungan, penjagaan keseimbangan ekosistem, penciptaan manfaat positif yang lebih besar, penguatan masyarakat dan budaya lokal, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, serta tata kelola yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Menurut Trisno Nugroho, pariwisata regeneratif merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Jika pariwisata berkelanjutan menitikberatkan pada upaya menjaga agar alam dan budaya tidak semakin rusak, pendekatan regeneratif melangkah lebih jauh dengan mendorong pemulihan dan peningkatan kualitas destinasi.
“Dengan pendekatan regeneratif, wisatawan diharapkan tidak hanya datang menikmati keindahan Bali, tetapi juga turut memberikan kontribusi positif. Masyarakat menjadi pelaku utama, sementara alam dan budaya bukan sekadar objek wisata, melainkan warisan yang harus dijaga dan diperkuat untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Sejalan dengan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun
Trisno Nugroho menilai pendekatan pariwisata regeneratif memiliki relevansi kuat dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Bali, sebagaimana tercermin dalam RPJMD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2025-2029 dan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125.
Keduanya menjadi bagian dari arah pembangunan yang menempatkan keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai landasan jangka panjang. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali serta kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster dalam mendorong pariwisata berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat.
Sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan prinsip regeneratif antara lain penguatan desa adat dan kebudayaan Bali, pengelolaan sampah berbasis sumber, penertiban tata kelola usaha pariwisata, pengaturan perilaku wisatawan asing, serta pungutan wisatawan asing untuk perlindungan budaya dan lingkungan.
Pengembangan kawasan rendah emisi melalui energi hijau, transportasi hijau, ekosistem hijau, pariwisata hijau, dan masyarakat hijau juga dinilai dapat mendukung penerapan pariwisata regeneratif.
“Secara substansi, arah pembangunan Bali sudah memberikan landasan yang kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai kebijakan tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur, baik pada kualitas lingkungan, penguatan budaya maupun kesejahteraan masyarakat,” kata Trisno Nugroho.
Pariwisata Berkualitas Harus Terukur
Trisno menggarisbawahi bahwa pariwisata berkualitas tidak semestinya hanya dimaknai sebagai pariwisata yang menarik wisatawan berdaya beli tinggi atau menghasilkan pengeluaran besar.
Pariwisata berkualitas juga harus dinilai berdasarkan pemerataan manfaat ekonomi, penghormatan atas budaya lokal, kenyamanan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta kualitas pengalaman wisatawan.
Oleh karena itu, penguatan tata kelola pariwisata Bali ke depan perlu memberikan perhatian pada pengendalian daya dukung destinasi, pengelolaan sampah dan air, perlindungan sawah dan subak, penataan mobilitas, serta peningkatan partisipasi dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ia juga mendorong penggunaan indikator terukur untuk mengevaluasi keberhasilan pembangunan pariwisata, mulai dari kualitas lingkungan, pengurangan sampah, kondisi sumber daya air, kontribusi ekonomi kepada masyarakat lokal, hingga pelestarian adat dan budaya.
Dengan demikian, kemajuan pariwisata tidak hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah kunjungan dan pendapatan, tetapi juga dari perubahan positif yang dihasilkan bagi Bali.
Dari Penglipuran untuk Masa Depan Bali dan Indonesia
Lebih lanjut, Trisno Nugroho menegaskan Desa Wisata Penglipuran memberikan pelajaran bahwa kekuatan utama sebuah destinasi tidak semata-mata terletak pada keindahan fisiknya. Masyarakat, nilai budaya, kelembagaan adat, dan lingkungan merupakan fondasi penting yang menentukan keberlanjutan kehidupan desa.
Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan desa wisata lain di Bali maupun Indonesia, dengan tetap menghormati karakter dan kearifan lokal masing-masing daerah.
Trisno Nugroho berharap hasil penelitiannya dapat menjadi kontribusi akademis sekaligus masukan praktis bagi pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun arah pariwisata masa depan.
Menurutnya, Bali telah dikenal dunia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan daya tarik tersebut, tetapi memastikan Bali tetap menjadi tempat hidup yang semakin baik bagi masyarakatnya.
“Jika kita ingin Bali tetap lestari dan bermartabat hingga 100 tahun mendatang, pariwisata harus menjadi bagian dari solusi untuk memperbaiki alam, memperkuat budaya, dan menyejahterakan masyarakat. Bukan hanya Bali yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga Bali yang semakin baik untuk diwariskan kepada anak cucu kita,” kata Trisno Nugroho.
Pesan tersebut menegaskan esensi pariwisata regeneratif: pariwisata yang tidak hanya bertumbuh, tetapi juga memberikan kehidupan yang lebih baik dari generasi ke generasi.
Editor: Putu Wiguna




