Polemik Restaurant Dharma Uluwatu Diduga Lecehkan Simbol Agama, PHK Sepihak, Intimidasi Hingga Hak Karyawan

Jbm.co.id-BADUNG | Sorotan publik atas Restaurant Dharma Uluwatu tidak lagi sebatas kontroversi penempatan simbol agama berupa gambar Dewa-Dewi di area toilet.
Kasus ini kini berkembang menjadi dugaan persoalan serius yang menyentuh aspek ketenagakerjaan, etika manajemen hingga transparansi pengelolaan usaha.
Kasus tersebut pertama kali mencuat setelah laporan masyarakat terkait penempatan simbol Dewa-Dewi di area toilet yang dinilai tidak pantas.
Belakangan, beredar informasi bahwa simbol tersebut telah diganti setelah adanya kunjungan media. Namun hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen terkait perubahan tersebut.
Tidak adanya penjelasan terbuka menimbulkan pertanyaan publik mengenai alasan pergantian simbol dan sikap manajemen dalam merespons kritik masyarakat. Dibalik polemik itu, muncul dugaan yang lebih serius terkait struktur kendali usaha.
Sebelumnya, pihak internal menyebut kepemilikan restoran berada pada WNI bernama Yuliana. Namun, sejumlah sumber menyebut operasional harian justru diduga dikendalikan oleh WNA asal Australia berinisial J.M.
Perbedaan informasi ini memunculkan pertanyaan terkait transparansi usaha dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, terutama dalam hal pengelolaan bisnis oleh tenaga asing.
Persoalan semakin memanas setelah muncul dugaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara verbal atas lima karyawan pada 26 Februari 2026. Kelima karyawan tersebut berinisial RA, E, DS, VN dan A.
PHK disebut dilakukan secara bertahap dan melibatkan langsung WNA berinisial J.M., meskipun secara administratif perusahaan masih menggunakan tanda tangan direktur lokal. Praktik tersebut dinilai tidak lazim dan berpotensi melanggar prosedur ketenagakerjaan yang semestinya dilakukan secara formal dan tertulis.
Salah satu dugaan PHK bahkan disebut dilakukan, saat hari libur karyawan dan di luar area properti restoran. Fakta ini memunculkan dugaan adanya keputusan sepihak yang dinilai mengabaikan etika dan standar perlindungan tenaga kerja.
Dari sejumlah karyawan yang terdampak, hanya satu orang yang disebut telah menerima haknya. Itu pun diduga, karena berani menuntut secara langsung. Sementara lima lainnya disebut belum mendapatkan pesangon maupun hak normatif lainnya.
Kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa hak pekerja tidak diberikan sebagai kewajiban perusahaan, melainkan bergantung pada keberanian individu untuk menuntut.
Selain dugaan PHK sepihak, seorang mantan karyawan juga mengungkap adanya kebijakan internal yang dinilai merugikan pekerja, salah satunya penghapusan uang makan tanpa penjelasan yang jelas. Kebijakan tersebut disebut memicu ketidakpuasan hingga mendorong pengunduran diri sejumlah karyawan.
Dugaan sikap intimidatif dari pihak internal juga menjadi sorotan publik. HRD berinisial F.R. disebut merespons keluhan karyawan dengan nada menantang dan mempersilakan untuk melapor ke instansi ketenagakerjaan terkait.
Jika benar terjadi, sikap tersebut dinilai menunjukkan lemahnya fungsi HRD sebagai pelindung dan penghubung antara manajemen dengan pekerja.
Kesaksian lain datang dari peristiwa kecelakaan kerja yang dialami salah satu karyawan. Dalam situasi darurat tersebut, penanganan awal disebut justru dilakukan oleh rekan kerja, termasuk dalam hal pembayaran deposit rumah sakit.
Peran internal perusahaan dalam kondisi tersebut dinilai tidak hadir secara maksimal. Situasi ini memperkuat dugaan lemahnya tanggung jawab perusahaan terhadap keselamatan dan perlindungan tenaga kerja.
Selain itu, mantan karyawan berinisial RA juga mengaku mengalami dugaan intimidasi melalui media sosial pribadinya. Hal ini semakin menambah daftar persoalan yang kini menyeret nama Restaurant Dharma Uluwatu.
Upaya konfirmasi kepada HRD berinisial F.R. telah dilakukan melalui pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum ada respons dari pihak terkait.
Publik kini menanti apakah manajemen Restaurant Dharma Uluwatu akan memberikan penjelasan secara terbuka atau membiarkan persoalan ini terus bergulir tanpa kepastian. (red).




