BadungBaliBeritaDaerahEkonomiPemerintahan

Peringati Hari Arak Bali ke-6, Gubernur Koster Tegaskan Legalitas Perkuat Tata Kelola Arak dan Brem Bali Tembus Pasar Global

Jbm.co.id-BADUNG | Legalitas industri Arak Bali menandai babak baru dan momen krusial dalam peringatan Hari Arak Bali ke-6.

Pada saat itu, Kementerian Perindustrian RI menyerahkan izin produksi Arak Bali kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, yang diterima secara simbolis oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Terbitnya izin industri dari Kementerian Perindustrian disebut sebagai kado besar bagi masyarakat Bali. Dengan izin tersebut, koperasi produsen akan bernaung dibawah Perumda Kertha Bali Saguna dan dikelola oleh PT Kanti Barak Sejahtera, sehingga produksi dan distribusi dapat berjalan lebih sehat, terukur dan berkelanjutan.

Peringatan Hari Arak Bali ke-6 ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum strategis penguatan legalitas, tata kelola dan arah besar industri Arak Bali.

Demikian terungkap, saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali menyelenggarakan Peringatan Hari Arak Bali ke-6 di The Westin Resort Nusa Dua-Bali International Convention Centre (BICC), Kabupaten Badung, Kamis, 29 Januari 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap keberadaan, nilai serta harkat Arak Bali sebagai warisan budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Mengusung tema “Arak Brem Bali-Local Spirit Goes Global”, acara ini bertujuan memperkuat tata kelola Arak dan Brem Bali dari hulu ke hilir sekaligus mempersiapkan langkah nyata agar mampu bersaing menembus pasar global.

Dalam sambutannya, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa Hari Arak Bali lahir dari Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 yang diundangkan pada 29 Januari 2020. Oleh karena itu, peringatan pada tahun 2026 ini menandai enam tahun hadirnya regulasi yang memberikan kepastian hukum bagi produksi dan tata kelola Arak Bali.

“Begitu Peraturan Gubernur (Pergub) ini keluar arak ini beredar dengan tata kelola yang diizinkan, kita menghadapi covid pada Maret 2020, beberapa bulan sejak Pergub arak ini dikeluarkan, kita covid,” kata Gubernur Koster.

Gubernur Koster menuturkan, saat Covid-19 pertama kali muncul di Bali pada 10 Maret 2020, Arak Bali justru menjadi bagian dari solusi pengendalian pandemi. Menurutnya, konsumsi arak secara tertib dan tidak berlebihan memberi manfaat kesehatan.

“Kalau minum arak secara baik, tertib, tidak mabuk, barang setengah sloki ada juga campuran kopi arak itulah yang saya endorse, kopi arak campur tanpa gula itu akan mengendalikan covid, kita tidak akan terkena covid, viral lah itu,” tutur orang nomor satu di Bali ini.

Gubernur Koster menegaskan dirinya tidak gentar terhadap berbagai kritik yang muncul saat itu. Fokus utama pemerintah, kata dia, adalah menyelamatkan ekonomi rakyat. Selama pandemi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali juga memproduksi usada barak berbahan dasar arak yang kemudian dibagikan ke rumah sakit dan puskesmas.

“Itulah yang kita bagi ke Rumah Sakit ke Puskesmas sehingga waktu itu covidnya cepat terkendali. Dalam waktu tiga hari kalau kena covid, hirup-hirup itu langsung dia dari positif menjadi negatif covid. Jadi, inilah yang mempercepat kemudian diproduksi secara gratis dibagikan ke seluruh Puskesmas yang ada di Bali sehingga covid di Bali itu sangat cepat dikendalikan dan bisa selesai. Bali pertama selesai dalam menangani covid, yaitu pada tanggal 7 Maret 2022,” kata Gubernur Koster.

Hingga kini, Gubernur Koster tetap mengkonsumsi kopi tanpa gula yang dicampur arak secara tertib tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore, sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

“Kalau kerja sampai malam ndak pernah capek, astungkara dan yang paling penting gak pernah flu. Karena menurut profesor Kesehatan, arak Bali itu Ph-nya 12, sedangkan virus Ph-nya cuman 7. Jadi, virus itu tidak akan mempan kalau kita rutin minum arak secara tertib bukan untuk mabuk, kalau mabuk itu salah sendiri, minumnya jangan banyak banyak,” paparnya.

Bahkan, perkembangan Arak Bali saat ini dinilai sangat pesat. Tercatat sudah ada 58 merek Arak Bali yang berkembang, dan produk lokal ini mulai menguasai pasar strategis, termasuk di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

“Di keberangkatan internasional, produk arak dari Lovina menjadi best seller, bahkan mengalahkan Red Label. Dalam satu bulan bisa habis 6.000 sampai 7.000 botol,” kata Gubernur Koster.

Gubernur Koster juga menegaskan target besar menjadikan Arak Bali sebagai spirit ketujuh dunia. Menurutnya, seluruh perangkat sudah tersedia, mulai dari regulasi, sertifikasi HKI, badan usaha daerah hingga izin industri.

“Perjuangan kita hampir tuntas. Ini kemajuan luar biasa. Kami juga melakukan penguatan ekosistem bahan baku melalui penanaman kelapa genjah sebagai langkah strategis jangka panjang. Kami akan tanam kelapa genjah maksimal empat meter. Tiga sampai empat tahun sudah panen untuk memperkuat ekosistem Arak Bali,” urainya.

Pada peringatan Hari Arak Bali ke-6 ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali juga menerima izin khusus usaha industri arak Bali yang diserahkan langsung oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, kepada Gubernur Wayan Koster. Dengan izin tersebut, koperasi-koperasi produksi arak di Bali resmi bernaung dibawah Perusahaan Umum Daerah Provinsi Bali.

“Astungkara, izinnya sudah diberikan tadi, sudah bisa memproduksi dengan legal, nyaman di Provinsi Bali,” terangnya.

Gubernur Koster menyebut izin usaha ini sebagai kado istimewa bagi Arak Bali di usia enam tahun. Bahkan, Pemprov Bali berharap Arak Bali mampu terus berkembang dan bersaing dengan produk minuman dari negara lain.

“Ini kemajuan yang sangat luar biasa, mudah mudahan dengan demikian arak Bali akan maju terus berdaya saing dengan minuman minuman yang ada di negara lain. Selamat hari arak Bali yang ke 6 tahun 2026 dan ini akan menjadi momentum kita semua untuk memajukan arak Bali,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Arak Bali 2026, Ida Bagus Agung Partha Adnyana menyatakan peringatan tahun ini sebagai titik balik gerakan kolektif mengangkat Arak dan Brem Bali sebagai produk budaya unggulan.

“Ini bukan perayaan biasa, tetapi forum konsolidasi dan titik balik lompatan awal gerakan bersama,” ucapnya.

Partha Adnyana juga menyampaikan bahwa saat ini terdapat 58 brand Arak Bali yang dinaungi 18 koperasi. Menurutnya, pencapaian ini tidak hanya mengangkat nilai ekonomi, tetapi juga martabat pengrajin lokal.

“Enam tahun lalu dimulai perjalanan besar mengangkat Arak Bali dari ruang informal menjadi produk budaya yang sah dan formal,” terangnya.

Melalui Hari Arak Bali 2026, pihaknya berharap menjadi tonggak penting pengenalan warisan budaya Bali ke dunia internasional. Lebih dari sekadar produk, Arak dan Brem Bali diposisikan sebagai warisan budaya-spiritual yang dikelola secara modern, bertanggung jawab dan berdaya saing global tanpa kehilangan makna sakral dan akar tradisi lokal. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button