Penjelasan KH Mahmud: Lebih Utama Sholat Ba’diyah Isya, Witir, atau Tarawih?
"Ketiganya merupakan amalan yang memiliki kedudukan penting, namun memiliki hukum dan tingkat keutamaan yang berbeda"

Pacitan,JBM.co.id- Perbincangan mengenai amalan malam di bulan Ramadan kembali mencuat. Mana yang lebih utama, sholat ba’diyah Isya, witir, atau tarawih? Menjawab pertanyaan tersebut, pendakwah yang juga menjabat sebagai Inspektur Inspektorat Pacitan, KH Mahmud, memberikan penjelasannya, pada Ahad (22/2/2026).
KH Mahmud menegaskan bahwa ketiganya merupakan amalan yang memiliki kedudukan penting, namun memiliki hukum dan tingkat keutamaan yang berbeda.
“Sholat ba’diyah Isya adalah bagian dari sholat sunnah rawatib yang sangat dianjurkan. Ia mengiringi sholat fardhu Isya dan termasuk sunnah muakkadah yang rutin dilakukan Rasulullah,” jelasnya.
Menurut KH Mahmud, sholat sunnah rawatib memiliki keutamaan besar karena berfungsi menyempurnakan kekurangan dalam sholat wajib. Oleh sebab itu, menjaga sholat ba’diyah Isya menjadi amalan yang tidak sepatutnya ditinggalkan.
Sementara itu, sholat tarawih memiliki keistimewaan tersendiri karena hanya dikerjakan pada bulan Ramadan. Tarawih juga termasuk sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan, bahkan menjadi syiar utama Ramadan.
“Tarawih adalah ibadah khas Ramadan. Pahalanya besar dan dikerjakan secara berjamaah lebih utama. Namun secara kedudukan sebagai sunnah rawatib yang mengiringi sholat wajib, ba’diyah Isya tetap memiliki perhatian khusus dalam keseharian,” ungkapnya.
Adapun sholat witir, KH Mahmud menyebutnya sebagai penutup sholat malam yang memiliki keutamaan sangat tinggi. Bahkan dalam sejumlah pendapat ulama, witir sangat ditekankan hingga hampir mendekati wajib.
“Witir adalah penutup sholat malam. Rasulullah sangat menjaga witir, baik dalam keadaan mukim maupun safar. Karena itu, jangan sampai meninggalkan witir,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan mana yang lebih utama, KH Mahmud menjelaskan bahwa dalam konteks Ramadan, tarawih dan witir menjadi rangkaian ibadah malam yang tidak terpisahkan. Namun secara umum, witir memiliki penekanan paling kuat karena menjadi penutup dan sangat dijaga oleh Nabi Muhammad SAW.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak mempertentangkan amalan, melainkan berusaha melaksanakan semuanya sesuai kemampuan.
“Kalau mampu, kerjakan ba’diyah Isya, lanjut tarawih, dan tutup dengan witir. Jangan memilih salah satu lalu meninggalkan yang lain tanpa alasan syar’i,” pesannya.
Penjelasan KH Mahmud tersebut, memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang prioritas ibadah malam, terutama saat awal-awal Ramadan, umat Muslim diharapkan semakin mantap dalam menghidupkan malam dengan amalan yang terarah dan penuh keikhlasan.(Red/yun).




