BeritaDaerahOpiniPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Pengamat Pendidikan Pacitan Dukung Wacana Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, Dinilai Pacu Prestasi Belajar

"Wacana tersebut dapat menjadi momentum untuk mengubah pola pikir bahwa rajin berangkat ke sekolah sudah cukup untuk memastikan seorang siswa naik kelas"

Pacitan,JBM.co.id-Wacana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang membuka peluang penerapan kebijakan siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027 mendapat dukungan dari pengamat pendidikan di Kabupaten Pacitan, Heru Suranto Adi.

Heru yang juga dikenal sebagai pegiat lembaga swadaya masyarakat (NGO) tersebut menilai, kebijakan ini berpotensi menjadi stimulus bagi siswa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam belajar. Menurutnya, kepastian kenaikan kelas yang tidak semata-mata didasarkan pada kehadiran di sekolah dapat mendorong peserta didik lebih bertanggung jawab terhadap capaian akademiknya.

“Jadi, siswa didik akan lebih memacu prestasi belajarnya. Sebab, kalau sampai jeblok, mereka terancam tinggal kelas. Bagus wacana ini sebagai stimulus agar siswa didik lebih giat belajar,” ujarnya, Ahad (11/10).

Menurut Heru, wacana tersebut dapat menjadi momentum untuk mengubah pola pikir bahwa rajin berangkat ke sekolah sudah cukup untuk memastikan seorang siswa naik kelas. Kehadiran di ruang kelas, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kesungguhan belajar, pemahaman materi, serta pencapaian kompetensi yang diharapkan.

Dengan demikian, kenaikan kelas tidak sekadar menjadi rutinitas administratif setiap akhir tahun ajaran, melainkan juga mencerminkan perkembangan kemampuan dan kesiapan siswa untuk menempuh jenjang pembelajaran berikutnya.

Orang Tua Didorong Lebih Aktif Mendampingi Anak

Di sisi lain, Heru menilai wacana tersebut juga berpotensi meningkatkan kepedulian orang tua terhadap perkembangan pendidikan putra-putrinya. Peran keluarga dinilai penting dalam membangun kebiasaan belajar yang baik, memantau perkembangan akademik, serta memberikan pendampingan ketika anak menghadapi kesulitan dalam memahami pelajaran.

Menurutnya, keterlibatan orang tua tidak cukup hanya dengan memastikan anak berangkat ke sekolah setiap hari. Lebih dari itu, orang tua perlu mengetahui perkembangan belajar anak, menjalin komunikasi dengan pihak sekolah, dan menciptakan suasana rumah yang mendukung proses belajar.

“Sehingga anggapan seng penting sregep sekolah, pasti naik kelas akan berubah dengan motivasi yang mendidik agar putra-putrinya benar-benar bisa mengejar prestasi belajarnya,” jelasnya.

Ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut kurang lebih bermakna bahwa yang penting rajin masuk sekolah, maka siswa pasti naik kelas. Heru berharap, pola pikir semacam itu dapat bergeser menuju kesadaran bahwa pendidikan membutuhkan keterlibatan aktif siswa, dukungan keluarga, dan pendampingan guru secara berkelanjutan.

Tantangan Implementasi: Mengutamakan Pembelajaran, Bukan Sekadar Hukuman

Meski demikian, penerapan kebijakan siswa tidak otomatis naik kelas perlu dirancang secara cermat agar benar-benar menjadi instrumen peningkatan mutu pendidikan. Evaluasi hasil belajar idealnya tidak berhenti pada pemberian konsekuensi berupa tinggal kelas, tetapi juga diikuti upaya mengidentifikasi penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.

Pendampingan tambahan, pembelajaran remedial, serta komunikasi intensif antara guru dan orang tua menjadi bagian penting untuk membantu peserta didik mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.

Sebab, setiap siswa memiliki kemampuan, latar belakang, dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, kebijakan evaluasi kenaikan kelas perlu disertai mekanisme dukungan yang adil agar siswa yang mengalami hambatan tidak sekadar menerima sanksi, melainkan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki capaian belajarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa tegas aturan diterapkan, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu menumbuhkan budaya belajar, memperkuat tanggung jawab, dan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Wacana yang ditujukan untuk mendorong peningkatan prestasi tersebut pun diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pendidikan bukan sekadar soal naik kelas, melainkan proses membangun pengetahuan, karakter, dan masa depan generasi penerus bangsa.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button