Pak Oles Kritik Tajam Pertamina: Janji dan Fakta Tidak Sinkron Jangan Cuma Minta Maaf, Pejabat Tak Mampu Diminta Mundur Soal BBM Langka

Jbm.co.id-DENPASAR | Pengusaha Senior sekaligus Pemerhati Pembangunan Bali, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., atau akrab disapa Pak Oles, melontarkan kritik keras terhadap penanganan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Ia menilai krisis pasokan yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU telah merugikan perekonomian dan mengganggu aktivitas keseharian masyarakat.
Pak Oles menyebut, tanda-tanda kelangkaan BBM sebenarnya sudah terlihat sejak sepekan terakhir. Antrean kendaraan yang semakin panjang di berbagai SPBU menjadi indikasi awal persoalan distribusi yang semestinya segera diantisipasi. Namun, kondisi tersebut justru semakin parah hingga memicu keresahan masyarakat dan viral di media sosial.
Pak Oles menyayangkan lambatnya penanganan serta respons para pemangku kebijakan terhadap persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat tersebut.
“Tolonglah yang merasa dirinya pejabat, yang sudah digaji untuk mengatur jalannya negara dan kehidupan masyarakat banyak, mereka sudah bekerja mati-matian dan membayar pajak untuk gaji Anda. Ternyata Anda masih pura-pura bingung, padahal itu tanggung jawab Anda. Sementara rakyat menangis mengais rejeki untuk menggaji Anda,” tegas Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr (Pak Oles).
Menurutnya, kelangkaan BBM tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis distribusi semata. Gangguan pasokan energi berpotensi menghambat mobilitas masyarakat, meningkatkan beban operasional pelaku usaha, serta mengganggu roda perekonomian Bali yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi dan aktivitas pariwisata.
Soroti Alasan Keterlambatan Kapal Tanker
Pak Oles juga menyoroti penjelasan Pertamina mengenai keterlambatan pasokan BBM akibat kendala teknis penjangkaran kapal tanker di dermaga. Ia menilai penjelasan dan permohonan maaf dari jajaran pimpinan BUMN tersebut belum cukup menjawab akar persoalan yang menyebabkan kelangkaan BBM meluas di Bali.
Baginya, permohonan maaf harus diikuti tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Tanpa pemulihan distribusi sesuai target yang disampaikan, penjelasan pihak terkait berisiko hanya menjadi janji tanpa realisasi.
“Masalah BBM langka di Bali minggu ini, yang dampaknya sangat serius bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat Bali, diselesaikan dengan minta maaf oleh Dirut Pertamina karena alasan jangkar kapal. Saat janji dan kenyataan tidak sinkron, itulah yang disebut lip service, atau istilah Balinya bungut gebuh. Artinya hanya sekadar berkoar tanpa bukti nyata,” ujarnya.
Pak Oles menegaskan, pemerintah dan Pertamina harus terbuka kepada publik mengenai penyebab sebenarnya dari gangguan pasokan tersebut. Transparansi dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas, sekaligus memastikan langkah penanganan dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab.
Desak Perbaikan Sistem dan Tanggung Jawab Pejabat
Lebih lanjut, Pak Oles mendesak pemerintah bersama jajaran Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan distribusi BBM di seluruh wilayah terdampak. Ia juga meminta adanya perbaikan sistemik agar persoalan serupa tidak kembali terulang, mengingat besarnya dampak kelangkaan energi terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat Bali.
Menurutnya, penanganan krisis harus berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan sebatas penyampaian penjelasan atau permohonan maaf. Pejabat dan pihak terkait harus mampu menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan nyata, terutama ketika masyarakat kesulitan mendapatkan BBM untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pak Oles bahkan menegaskan, pejabat yang merasa tidak lagi mampu menjalankan amanah dan memenuhi tanggung jawab pelayanan publik seharusnya berani mengundurkan diri.
Oleh karena itu, Pak Oles berharap persoalan kelangkaan BBM di Bali segera dituntaskan melalui langkah yang transparan, cepat, dan tepat sasaran sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dan perekonomian Bali tidak terus terbebani oleh krisis pasokan energi.
Editor: Putu Wiguna



