Pacitan Peringati HPSN 2026, DLH Ajak Warga Kelola Sampah Mandiri dari Rumah
"Setiap hari kita semua menghasilkan sampah. Jika tidak dikelola dengan benar, dampaknya akan kembali kepada kita dalam bentuk banjir, pencemaran, hingga gangguan kesehatan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah"

Pacitan,JBM.co.id-Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dengan mengusung semangat kolaborasi dan penguatan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Momentum 21 Februari ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan semata urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pacitan, Cicik Ruhdotul Jannah, menegaskan bahwa peringatan HPSN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah secara mandiri, dimulai dari rumah tangga.
“Setiap hari kita semua menghasilkan sampah. Jika tidak dikelola dengan benar, dampaknya akan kembali kepada kita dalam bentuk banjir, pencemaran, hingga gangguan kesehatan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Peringatan HPSN 2026 di Pacitan sejalan dengan semangat nasional yang diusung Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, yakni “Kolaborasi untuk Indonesia Asri”. Pemerintah menargetkan 100 persen sampah terkelola pada tahun 2029 melalui sistem yang profesional, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menurut Cicik, keberhasilan target tersebut membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. “Kami terus mendorong pengurangan sampah dari sumbernya. Prinsipnya bukan lagi kumpul-angkut-buang, tetapi kurangi, pilah, dan olah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan ekonomi sirkular menjadi salah satu solusi strategis. Sampah yang dipilah dengan benar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku daur ulang atau produk bernilai ekonomis. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, langkah ini juga membuka peluang usaha baru berbasis lingkungan.
DLH Pacitan mengedukasi masyarakat untuk mulai memilah sampah menjadi tiga kategori utama:
1. Organik, seperti sisa makanan dan daun, yang dapat diolah menjadi kompos.
2. Anorganik, seperti plastik, kertas, dan logam, yang bisa didaur ulang.
3. Residu, yaitu sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Dengan pemilahan sejak dari rumah, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan. “Kalau setiap rumah tangga konsisten memilah sampah, dampaknya akan luar biasa bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan Pacitan,” tegas Cicik.
Selain itu, DLH juga mengajak sekolah, kantor, dan pelaku usaha untuk menerapkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta memperkuat gerakan bank sampah di tingkat desa dan kelurahan.
Dalam refleksi HPSN 2026, DLH Pacitan mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang masa depan anak cucu. Lingkungan yang kumuh dan tercemar akan berdampak pada kualitas hidup generasi mendatang.
“Jangan sampai kita mewariskan bumi yang penuh sampah. Mari jadikan HPSN ini sebagai momentum untuk menjaga Pacitan tetap bersih, sehat, dan bermartabat,” pungkas Cicik.
Semangat Pacitan BISA dan Indonesia Asri, peringatan HPSN 2026 diharapkan menjadi titik penguatan komitmen bersama menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, demi lingkungan yang lestari dan kehidupan yang penuh berkah.(Red/yun).




