BangliBeritaDaerahLingkungan HidupPariwisataPemerintahan

Ngajak Nandur Libatkan Wisatawan Tanam Padi di DTW Jatiluwih, Tabanan

Jbm.co.id-TABANAN | Hamparan terasering hijau di Jatiluwih kembali menjadi saksi pelaksanaan tradisi Ngajak Nandur sebagai sebuah kegiatan gotong royong menanam padi yang telah dilestarikan turun-temurun.

Kegiatan ini menggambarkan harmoni antara manusia dan alam serta menjadi simbol kebersamaan masyarakat desa yang masih memegang erat nilai kearifan lokal.

Tradisi Ngajak Nandur ini melibatkan para petani yang saling membantu menanam padi tanpa pamrih.

Sebagai pengganti upah, pemilik lahan menyajikan hidangan tradisional seperti nasi campur, lawar serta minuman hangat teh dan kopi yang dinikmati bersama setelah pekerjaan selesai.

Kegiatan ini dimulai sejak pagi hari pukul 06.00 WITA dan berlangsung dalam suasana penuh keakraban.

Penanaman beras merah menjadi inti kegiatan Ngajak Nandur, karena dikenal sebagai sumber pangan bergizi tinggi serta simbol ketahanan pangan masyarakat Jatiluwih.

Teknik penanaman ini diwariskan lintas generasi, mencerminkan kearifan lokal yang kaya nilai dan komitmen menjaga keberlanjutan pertanian.

John Ketut Purna selaku Kepala Pengelola Desa Jatiluwih menyatakan, bahwa tradisi ini bukan hanya tentang menanam padi, tetapi juga tentang menjaga persaudaraan dan menghormati alam.

“Ngajak Nandur adalah cermin kehidupan kami di Jatiluwih. Kegiatan ini mengajarkan bahwa kebersamaan membuat pekerjaan berat menjadi ringan dan penuh makna. Kehadiran wisatawan yang ikut menanam padi menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya milik kami, tetapi warisan yang bisa dinikmati dan dipelajari dunia,” ujarnya.

Tradisi ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas bertani yang autentik.

Hal ini mendukung pertumbuhan ekonomi desa sekaligus memperkuat promosi pariwisata berbasis budaya dan keberlanjutan.

Melalui Tradisi Ngajak Nandur, DTW Jatiluwih tidak hanya mempertahankan warisan budaya leluhur, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan mendorong pariwisata berkelanjutan.

Dengan panorama sawah yang memukau dan semangat gotong royong yang tulus, tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa syukur dan harmoni hidup.

Seperti yang diungkapkan John Ketut Purna, dari setiap benih yang ditanam dengan keikhlasan dan kebersamaan, lahirlah kekuatan sosial, keseimbangan alam, dan warisan budaya yang lestari.

Tradisi ini menjadi simbol bahwa harmoni dapat terwujud, ketika manusia hidup berdampingan dengan alam dan saling membantu dengan penuh ketulusan. (In/red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button