Mi-Reng Perkuat Forum New Music for Gamelan Libatkan Seniman hingga Akademisi Hadir di Sukawati, Singaraja dan Denpasar

Jbm.co.id-DENPASAR | Program Mi-Reng: New Music for Gamelan kembali menghadirkan ruang literasi budaya melalui rangkaian Dialog Budaya serta Seminar dan Diskusi Buku Srawung Mi-Reng: New Music for Gamelan yang akan digelar di tiga daerah di Bali pada 22, 24, dan 27 April 2026.
Kegiatan tersebut akan berlangsung di SMK Negeri 3 Sukawati, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja, dan SMK Negeri 5 Denpasar.
Rangkaian acara dirancang untuk mempertemukan seniman, akademisi, pendidik, pelaku budaya, hingga masyarakat dalam membahas perkembangan musik gamelan kontemporer atau new music for gamelan.
Program Mi-Reng menjadi wadah untuk memperluas pemahaman mengenai hubungan antara tradisi gamelan dengan praktik penciptaan musik kontemporer. Selain itu, forum ini juga membahas kolaborasi lintas media, seni pertunjukan, hingga pengelolaan ekosistem seni yang relevan dengan perkembangan budaya saat ini.
Dialog Budaya pertama akan digelar pada 22 April 2026 di SMK Negeri 3 Sukawati dengan tema “Festival sebagai Praktik Artistik dan Wacana Seni Pertunjukan”. Diskusi menghadirkan narasumber I Made Sukadana, I Gede Yogi Sukawiadnyana, dan I Komang Pasek Wijaya.
Dalam forum tersebut, festival dipandang bukan sekadar ajang menampilkan karya seni, melainkan ruang yang mempertemukan gagasan, proses kreatif, publik, dan konteks sosial sehingga mampu membentuk perkembangan seni pertunjukan secara berkelanjutan.
I Made Sukadana mengatakan Festival tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga melibatkan proses kreativitas yang kompleks; termasuk bagaimana seni itu dibicarakan setelah difestivalkan.
Sementara itu, I Gede Yogi Sukawiadnyana menegaskan New Music for Gamelan adalah sebuah sikap: membebaskan gamelan dari aturan yang sudah berlaku, sambil tetap menjadikan prinsip-prinsip tradisi sebagai pijakan.
Sedangkan, I Komang Pasek Wijaya menyampaikan, “New Music for Gamelan memikirkan keberlangsungan gamelan, bukan hanya sebagai warisan tradisi yang harus dilestarikan, tetapi sebagai ruang untuk terus dikembangkan.
Rangkaian berikutnya berlangsung pada 24 April 2026 di Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja dengan tema “Dari Wacana ke Peristiwa: Menjaga Keberlanjutan Festival Seni.” Dialog menghadirkan Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par., I Gede Titah Pratyaksa, dan I Ketut Pani Ryandhi.
Diskusi ini menyoroti pentingnya kesinambungan festival seni melalui dokumentasi, pendidikan publik, distribusi karya, dukungan media, hingga keterlibatan institusi agar festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata.
I Gede Titah Pratyaksa menyampaikan Mireng bukan hanya sekadar konser, tetapi ruang cipta dan ruang temu yang lahir dari tradisi, lalu bergerak menembus batas-batas kekinian.
Sementara I Ketut Pani Ryandhi menilai kalau festival selesai lalu tidak didiskusikan, ia menjadi tidak berarti. Sesuatu menjadi hidup ketika terus-menerus diperbincangkan.
Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par. menambahkan jika Mireng ingin berkelanjutan, ia harus menghadirkan sesuatu yang baru dan tetap berakar pada kearifan lokal masyarakat pendukungnya.
Rangkaian penutup akan digelar pada 27 April 2026 di SMK Negeri 5 Denpasar melalui Seminar dan Diskusi Buku Srawung Mi-Reng: New Music for Gamelan. Kegiatan ini menjadi lanjutan dari berbagai program Mi-Reng sepanjang 2025, mulai dari Lokacipta, Sarasehan hingga Ritus Cipta.
Buku Srawung Mi-Reng memuat dokumentasi perjalanan program sekaligus menjadi ruang refleksi mengenai perkembangan new music for gamelan, termasuk hubungan antara tradisi, eksplorasi artistik, teknologi, dan dinamika budaya masa kini.
I Gede Made Indra Sadguna menegaskan, “New Music for Gamelan bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari pemahaman yang mendalam terhadap cara kerja tradisi.
Senada dengan itu, I Gusti Ngurah Ardana mengatakan tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya, maka generasi muda perlu berani bereksperimen, namun tetap berakar pada nilai budaya.
Sementara itu, I Made Adnyana menyampaikan pihaknya tidak sedang menjaga gamelan agar tetap sama seperti dulu, tetapi menjaga gamelan agar tetap hidup dan harus terus bereksplorasi.
Melalui tiga rangkaian kegiatan tersebut, Mi-Reng berharap dapat memperkuat ekosistem literasi seni pertunjukan di Bali sekaligus membuka ruang dialog yang inklusif bagi perkembangan gamelan di tengah dinamika budaya kontemporer.
Program ini juga diharapkan menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan antara seniman, akademisi, pendidik, dan masyarakat dalam merawat sekaligus mengembangkan seni gamelan sebagai bagian dari kebudayaan yang terus hidup. (ace).



