Ketum IADO Gatot S. Dewa Broto: 11 Jebakan Doping Bisa Tamatkan Karier Atlet

Jbm.co.id-JAKARTA | Banyak atlet kita masih memiliki pemahaman yang naif dan berbahaya soal doping. Mereka mengira urusannya sesimpel tidak menyuntik atau tidak meminum obat terlarang, maka sudah aman. Padahal, aturan anti-doping di dunia olahraga modern jauh lebih kompleks dan menuntut kedisiplinan tingkat tinggi. Demikian Ketua Umum IADO, Gatot S. Dewa Broto di Jakarta (01/10/2026).
“Aturan doping itu tidak sederhana. Banyak atlet berpikir kalau tidak pakai obat berarti aman, padahal tidak sesimpel itu,” demikian jelas Gatot.
Ketum IADO itu menegaskan, pelaku doping bukan hanya atlet yang terbukti memakai zat terlarang. “Pelaku doping bukan hanya atlet yang memakai. Atlet yang mengabaikan tes, mengelak, menunda-nunda tes, itu sudah dianggap sebagai pelaku. Ada 11 aturan yang harus dipahami,” tegas Gatot.
Kesebelas pelanggaran itu meliputi temuan zat terlarang dalam tubuh, menggunakan atau mencoba menggunakan, menghindari atau menolak tes, kegagalan melaporkan keberadaan atau Whereabouts, merusak proses kontrol doping, kepemilikan, perdagangan, pemberian zat kepada atlet lain, persekongkolan, hingga asosiasi dan intimidasi.
“Jangan main-main, satu saja dilanggar karier Anda bisa tamat,” lanjut Gatot.
Titik rawan pertama yang paling sering menjebak atlet Indonesia adalah soal Whereabouts. Atlet yang masuk dalam Registered Testing Pool wajib melaporkan posisi hariannya setiap hari melalui aplikasi ADAMS untuk kemungkinan tes mendadak di luar kompetisi.
“Ini bukan soal niat baik atau buruk, ini soal profesionalisme. Tiga kali gagal melapor dalam 12 bulan, Anda sudah dianggap melakukan pelanggaran doping tanpa perlu hasil lab,” Gatot menegaskan.
Jebakan kedua adalah suplemen. Ini menjadi alasan klasik “tidak sengaja” yang paling sering terjadi.
“Saya selalu mewanti-wanti, hati-hati dengan suplemen. Jangan sampai mengandung zat yang dilarang WADA. Kami menganut prinsip strict liability, apa yang ada di tubuh Anda adalah tanggung jawab mutlak Anda,” demikian jelas Gatot.
Jika memang sakit dan membutuhkan obat yang masuk dalam daftar terlarang, Gatot mengingatkan jangan pernah minum sendiri. “Ada jalur resmi namanya TUE, Therapeutic Use Exemptions. Konsultasikan dengan dokter tim, ajukan TUE. Itu SOP atlet profesional di seluruh dunia,” lanjut Gatot.
Mengenai cap IADO sebagai penghambat prestasi, Ketum IADO itu menegaskan anggapan itu salah besar. “Kami ini polisi pengawas atlet, penjamin integritas. Jangan lupa aib sanksi WADA 2021, Bendera Merah Putih tidak boleh berkibar. Dari situlah IADO lahir untuk membangun good governance,” tegasnya.
Pengawasan kini sangat ketat. Sampel urin dan darah atlet Indonesia dikirim ke laboratorium terakreditasi WADA di Bangkok, Thailand. “Kami tidak pandang bulu. Di PON Papua 2021, lima atlet kami nyatakan positif dan kami minta medali dicabut serta larangan tanding empat tahun,” lanjut Gatot.
Oleh karena itu pesan saya sangat tajam. “Jangan jadi atlet bodoh. Di era sekarang, latihan fisik saja tidak cukup. Disiplin memahami 11 aturan, jujur mengisi Whereabouts, kritis terhadap suplemen, dan patuh pada TUE adalah bagian dari profesionalisme,” lanjut Gatot.
“Prestasi setinggi apapun tanpa integritas adalah nol besar. Sekali Anda melanggar, bukan hanya karier Anda yang hancur, tapi nama baik bangsa yang ikut tercoreng. Jadilah atlet yang disiplin, bukan hanya di lapangan tapi juga dalam menjaga kemurnian tubuh Anda,” pungkasnya.
Pewarta: V. Barus
Editor: Putu Wiguna




