Kadisos P3A Bali Soroti Trend Sing Beling Sing Nganten

Jbm.co.id-DENPASAR | Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kadisos P3A Provinsi Bali, Dr. Drh. Luh Ayu Aryani, M.P., bersama Ketua Biro Bantuan Hukum (BBH) Mulia Asosiasi Advokat Indonesia Officium Nobile (AAI ON) Provinsi Bali Yanuar Nahak dan Ketua DPC AAI ON Denpasar Gede Wija Kusuma (GWK) serta Tim Dinsos Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Bali menyoroti trend Sing Beling Sing Nganten, yang berkembang menjadi sebuah budaya sebagian besar generasi muda di Bali. Untuk itu, para remaja Bali diingatkan akan bahaya dari penyebaran virus HIV/AIDS.
Demikian diungkapkan Kadisos P3A Provinsi Bali, Dr. Drh. Luh Ayu Aryani, M.P., saat disinggung terkait tingginya angka temuan kasus HIV/AIDS dikalangan remaja Bali, berkorelasi dengan dampak dari trend Sing Beling Sing Nganten di kalangan generasi muda Bali.
Tak hanya itu, Kadisos P3A Bali juga menegaskan trend itu sangat bertentangan dengan aspek-aspek kehidupan lain seperti norma, nilai dan kepercayaan masyarakat Bali.
“Selain tidak bagus dari sisi norma kesusilaan itukan tidak bagus, trend Sing Beling Sing Nganten itu khan juga sangat mendeskriditkan kaum perempuan. Sekedar mengingatkan untuk bajang-bajang, perempuan generasi muda Bali, agar selalu menjaga kehormatan kalian, sedangkan untuk nak teruna-teruna, laki-laki generasi muda Bali ini agar waspada. Virus HIV itu tidak mengenal umur dan waktu,” kata Kadisos Bali, Senin, 24 Februari 2025.
Selanjutnya, Kadisos Bali juga turut memberikan edukasinya terkait bahayanya fenomena hamil di luar nikah terhadap resiko stunting, sangat merugikan bagi kaum perempuan yang dijadikan mesin percobaan untuk menghasilkan keturunan, trend itu juga sangat identik dengan seks bebas merupakan budaya orang barat.
“Penting bagi orangtua untuk kembali mengingatkan anak-anaknya yang sudah remaja, agar tren itu tidak menjadi budaya di kalangan mereka. Selain sangat rentan akan penyebaran HIV, trend itu juga sangat merugikan kaum perempuan, sehingga perlu adanya normalisasi dan edukasi yang dimulai dari lingkungan keluarga terkait bahayanya dari pergaulan seks bebas,” paparnya.
Sebelumnya diberitakan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali mencatat data komulatif penemuan kasus baru HIV/AIDS di Provinsi Bali, per 25 November 2024, angka tertinggi didominasi oleh kalangan remaja rentang umur 20-29 tahun, dengan temuan sebanyak 11401 kasus, 6071 diantaranya merupakan para remaja khususnya di Kota Denpasar.
Berdasarkan faktor resiko, prilaku heteroseksual atau orientasi seksual yang mengacu pada ketertarikan terhadap lawan jenis (laki-laki dan perempuan) menjadi penyebab utama tingginya penularan HIV/AIDS di Bali dengan total temuan sebanyak 22875 kasus, dengan 93,8 persen merupakan perempuan dan 6,12 persen sisanya laki-laki.
Saat disinggung terkait fenomena Sing Beling Sing Nganten, Komisioner KPA Provinsi Bali, Gus Yuni Ambara mengatakan hal tersebut dapat menjadi salah satu pemicunya, mengingat hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman (kondom) dengan bergonta-ganti pasangan, merupakan penyebab utama menyebarnya virus HIV/AIDS dan istilah tersebut sangat dekat korelasinya dengan budaya prilaku seks bebas.
“Sebisa mungkin Sing Beling Sing Nganten jangan dijadikan budaya. Tetapi kami sangat memahami bahwa diusia remaja hubungan seksual lawan jenis bisa kapan saja terjadi. Untuk itu, kami mengingatkan anak-anak muda di Bali ini harus menghindari prilaku bergonta-ganti pasangan, jangan lupa gunakan kondom jika memang hasrat kalian sudah tak lagi terbendung,” kata Gus Yuni, dikutip Sabtu, 22 Februari 2025.
Senada dengan KPA Bali, Ketua Yakeba, I Made Adi Mantara menambahkan, pihaknya tidak memungkiri bahwa fenomena tersebut memang terjadi di Bali, sehingga tanpa disadari Bali mengalami lonjakan temuan kasus HIV/AIDS, khususnya usia-usia remaja yang mengalami peningkatan sangat signifikan.
“Sebagai upaya untuk menekan tingginya angka temuan kasus tersebut, kami berharap upaya edukasi kali ini yang ditujukan kepada muda-mudi di Bali bisa memberikan pandangan, memberikan pemahaman bagi mereka bahwa sesungguhnya prilaku tersebut sangat rawan akan penularan virus berbahaya, terlebih juga memungkinkan resiko lainnya seperti stunting,” tutupnya. (red/tim).




