
Jbm.co.id-BADUNG | Memasuki Puncak Hari Kelima Bahan Bakar Minyak (BBM) langka di Bali mulai mengganggu operasional usaha pariwisata.
Bahkan, sejumlah agen perjalanan pariwisata terpaksa membatalkan tour, karena kesulitan menjemput wisatawan akibat kendaraan kehabisan BBM.
Menariknya, kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih, Kabupaten Tangan sangat berdampak sekali akibat kelangkaan BBM.
Ketua DPC PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) Kabupaten Tabanan, I Ketut Purna atau akrab disapa John Purna menyatakan pihak DTW Jatiluwih mengalami penurunan drastis 30 persen dua hari lalu dan kemarin turun lagi hampir 50 persen.
Alasannya, karena turis tidak bisa datang ke DTW Jatiluwih akibat driver memang tidak bisa dan tidak punya amunisi untuk berangkat ke DTW Jatiluwih.
Bahkan, ada beberapa karyawan DTW Jatiluwih tidak bisa masuk kerja, karena kelangkaan BBM itu.
“Kita benar-benar merasa dirugikan dengan dampak kelangkaan BBM yang ada di Bali. Dan saya yakin, bukan di tourism saja, suplai makanan juga kayaknya kita akan masalah banget di Bali, kalau terus kelangkaan ini berjalan,” kata Ketua DPC PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) Kabupaten Tabanan, I Ketut Purna atau akrab disapa John Purna, praktisi dan tokoh pariwisata senior Bali sekaligus Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih disela-sela Pembukaan dan Pelaksanaan Musyawarah Daerah (MUSDA) XV ASITA Bali Tahun 2026 bertema “Repositioning the Future of Tourim” di InterContinental Bali Resort Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).
Mengenai upaya untuk mengantisipasi kelangkaan BBM, John Purna menyebutkan pihaknya tidak ada upaya antisipasi, karena memang tamu tidak bisa berangkat ke DTW Jatiluwih, lantaran sopir-sopir juga tidak bisa berangkat ke sana.
Akhirnya, John Purna hanya bisa berharap, pemangku kebijakan bisa melakukan antisipasi, khususnya kelangkaan masalah BBM di Bali, lantaran Bali adalah wilayah internasional.
Bahkan, John Purna mengakui pihaknya yang paling terdampak BBM langka di Bali, akibat menurunnya tamu internasional ke Bali.
“Memang reservasi yang paling banyak kemarin ke Jatiluwih itu kan datang dari wisatawan domestik. Tapi memang dari reservasi, saya dengar dari restoran yang ada di Jatiluwih yang masuk itu memang banyak sekali juga ada pembatalan untuk datang ke Jatiluwih. Karena alasan utama, yaitu tidak punya amunisi untuk datang karena tidak ada mobil yang dipakai untuk memuat tamunya ke situ. Itu info cancel dari guide atau travel agent-nya,” kata John Purna.
Untuk itu, John Purna berharap hari ini mudah-mudahan tidak seperti sebelumnya kondisi BBM di Bali.
Apalagi, John Purna melihat kondisi BBM sudah mulai ada, tidak separah 2-3 hari lalu.
“Tapi mudah-mudahan hari ini kita lihat ada perubahan, besok mungkin saya akan kasih statement lagi tentang penurunan. Mudah-mudahan kemarin saya lihat kunjungannya sudah hampir 50 persen turun, dari 30 persen dua hari yang lalu,” kata John Purna.
Lebih lanjut, John Purna menyatakan kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih favorit kebanyakan dari tamu negara Eropa.
Terkait BBM langka di Bali, John Purna memberikan masukan ke pemerintah dengan hormat sekali, mohon masalah BBM ini diselesaikan, khususnya yang kompeten di bidangnya itu, karena hal ini akan berdampak sekali dengan pariwisata Bali.
“Nama Bali juga akan jelek. Saat ini, sebenarnya kita bersaing bukan antara pulau di Indonesia saja, sebenarnya kita bersaing banget dengannegara seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan lain sebagainya. Ini akan jelek banget mata Bali di dunia internasional,” kata John Purna.
Terkait pengalihan destinasi sendiri, setelah destinasi di Jatiluwih itu di-cancel, John Purna menanggapi sebenarnya bukan cancel ke Jatiluwih, bukan dialihkan ke daerah lain, karena cancel ke Jatiluwih karena memang tidak ada BBM.
“Tamu itu berhenti di hotel dia. Itu kan dampaknya jelek banget. Dia sebenarnya ke Bali untuk berkunjung ke objek wisata yang ada di Bali, tapi sekarang tidak bisa. Ini sebenarnya komplain dari tamu sudah mulai banyak,” terangnya.
Mengenai MUSDA XV ASITA Bali, John Purna berharap kekompakan dari para pelaku pariwisata untuk membawa peran ini ke ranah nasional, karena benar-benar terdampak negatif sekali buat pariwisata Bali.
“Tapi, kalau kita nih kan satu tujuan. Padahal kan ada wakil rakyat di Bali. Nanti kita akan ngomongin disini, didalam MUSDA. Ini kan sudah krusial sekali dampaknya bagi kita,” kata John Purna.
Mengenai Putri Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), John Purna menyebutkan ada 10 sampai 13 ada di Tabanan.
“Saya sebagai ketuanya, Tanah Lot sebagai bendahara, Ulun Danu sebagai sekretaris. Dibawah itu ada ketua satu, ketua dua, gitu lah. Ya, objek wisata yang ada daya tarik wisata yang kecil-kecil itu di Tabanan,” tutupnya.
Pewarta: Ace Wiguna
Editor: Putu Wiguna




