BeritaDaerahEkonomiGaya HidupPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Harga Pertamax Green Melonjak, Mobil LCGC di Pacitan Kian Diburu

"Mobil dengan kapasitas mesin kecil dinilai semakin diminati karena dianggap lebih efisien dalam konsumsi BBM, sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang kini semakin selektif dalam memilih kendaraan"

Pacitan,JBM.co.id- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax Green dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, mulai menimbulkan efek berantai di berbagai sektor, termasuk dunia otomotif di Pacitan. Di tengah tekanan biaya operasional kendaraan yang kian tinggi, minat masyarakat terhadap mobil hemat bahan bakar pun ikut bergeser.

Pelaku usaha jual-beli mobil di Pacitan, Andrea, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut mulai mendorong kenaikan harga mobil bekas segmen Low Cost Green Car (LCGC). Mobil dengan kapasitas mesin kecil dinilai semakin diminati karena dianggap lebih efisien dalam konsumsi BBM, sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang kini semakin selektif dalam memilih kendaraan.

“LCGC semakin trending, mengingat mahalnya harga BBM. Jadi masyarakat lebih tertarik memiliki mobil dengan kapasitas silinder kecil dan tentu lebih hemat bahan bakar,” ujar Andrea, Ahad (21/6/2026).

Menurut dia, tren ini berbanding terbalik dengan nasib mobil bermesin besar, termasuk kendaraan diesel, yang justru mulai kehilangan peminat. Biaya operasional yang lebih tinggi membuat mobil dengan kapasitas mesin besar kian sulit dilirik pasar. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana kenaikan harga BBM tidak hanya memengaruhi pola konsumsi masyarakat, tetapi juga mengubah arah pergerakan pasar otomotif lokal.

Di sisi lain, Andrea menilai tekanan ekonomi juga ikut menahan laju transaksi kendaraan secara umum. Daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sekunder, termasuk mobil, disebut terus melemah. Dalam situasi serba mahal seperti sekarang, banyak warga memilih menahan keinginan membeli kendaraan dan lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

“Kalau untuk mobil CC besar, termasuk diesel, sekarang cenderung lesu. Secara umum daya beli masyarakat juga sedang menurun. Mereka lebih memilih memenuhi kebutuhan dasar daripada membeli mobil,” imbuhnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kendaraan tak lagi semata dipandang sebagai simbol gaya hidup atau penunjang mobilitas, melainkan mulai dihitung secara ketat dari sisi efisiensi biaya. Saat harga BBM terus menekan, masyarakat pun dipaksa menyesuaikan pilihan, mencari kendaraan yang lebih ramah di kantong dan hemat konsumsi bahan bakar.

Di tengah situasi tersebut, sepeda motor menjadi salah satu alternatif transportasi yang dinilai paling realistis. Selain lebih irit BBM, biaya perawatan dan operasional sepeda motor juga jauh lebih ringan dibandingkan mobil. Tak heran, ketika harga bahan bakar melonjak, roda dua kembali menjadi pilihan banyak orang untuk tetap bergerak tanpa harus dibebani ongkos perjalanan yang tinggi.

Kenaikan harga BBM pada akhirnya tak hanya berdampak pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga mengubah peta preferensi masyarakat dalam memilih kendaraan. Di Pacitan, mobil-mobil mungil hemat BBM mulai naik daun, sementara kendaraan bermesin besar perlahan tersisih oleh tuntutan efisiensi.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button