Di Balik Riuh Goa Gong, Langkah Tenang Seorang Wakil Rakyat
"Langkahnya santai, raut wajahnya teduh, namun sorot matanya menyiratkan ketegasan"

Pacitan, JBM.co.id-Pacitan siang itu tak sepenuhnya tenang. Di antara gemuruh keindahan alam dan pesona stalaktit Goa Gong yang selama ini memikat wisatawan, terselip riak kegelisahan yang tak kasat mata. Sengketa lahan yang membayangi kawasan wisata tersebut perlahan mengusik harmoni yang telah lama terjaga.
Namun di tengah suasana yang nyaris memanas, hadir sosok dengan pembawaan berbeda. Langkahnya santai, raut wajahnya teduh, namun sorot matanya menyiratkan ketegasan. Dialah Doktor Arif Setia Budi, Ketua DPRD Pacitan periode 2024–2029.
Kehadirannya bukan untuk menambah riuh, melainkan justru meredam. Di antara warga yang menyimpan keluh dan harap, ia memilih mendekat, mendengar, dan merasakan. Tidak ada jarak yang diciptakan, hanya percakapan yang mengalir, dari hati ke hati.
“Saya datang untuk mendengar langsung,” ucapnya sederhana, namun sarat makna, Rabu (29/4/2026).
Di kawasan yang selama tiga dekade menjadi destinasi wisata kebanggaan Pacitan itu, tersimpan cerita lain, tentang mereka yang merasa belum mendapatkan keadilan atas tanah yang telah lama dimanfaatkan. Aduan demi aduan disampaikan, bukan dengan amarah, tetapi dengan harapan agar didengar.
Arif Setia Budi memahami, bahwa konflik bukan sekadar persoalan hukum atau administrasi. Ia adalah persoalan rasa, tentang keadilan, tentang pengakuan, dan tentang hak yang dirasakan belum terpenuhi.
Dengan sikap yang tenang, ia menegaskan bahwa semua yang disampaikan akan menjadi bahan kajian bersama, antara legislatif dan eksekutif. Tidak ada janji berlebihan, hanya komitmen untuk mencari jalan terbaik.
“Kami tidak memastikan, namun informasi ini akan kami jadikan bahan kajian bersama,” tuturnya.
Di balik kalimat yang sederhana itu, tersimpan harapan besar: agar konflik tidak terus berlarut, agar tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan, dan agar Pacitan tetap menjadi tempat yang adem ayem, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi warganya sendiri.
Goa Gong, dengan segala keindahannya, bukan hanya tentang destinasi. Ia adalah ruang hidup, ruang harap, dan ruang dialog. Dan di hari itu, di antara lorong-lorong batu yang sunyi, suara keadilan mulai dicari, dengan cara yang lebih sejuk.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang baik bukan hanya tentang kemajuan, tetapi juga tentang merangkul semua yang ada di dalamnya.(Red/yun).




