Di Balik Jam Tangan Dua Ratus Ribu: Kesederhanaan yang Menjaga Wibawa Seorang Pejabat Bernama Chuznul
"Bagi sebagian orang, kesederhanaan seperti itu mungkin sulit ditemukan pada sosok pejabat pimpinan tinggi pratama"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah era ketika penampilan kerap menjadi simbol status dan jabatan sering diidentikkan dengan kemewahan, ada kisah berbeda yang mengalir tenang dari salah satu sudut Kantor Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Di ruang kerjanya yang sederhana, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pacitan, Mochamad Chuznul Faozi, duduk santai menyambut tamu. Tidak ada kesan berlebihan dari penampilannya. Pakaian yang dikenakan terlihat rapi namun sederhana, demikian pula aksesori yang melekat di tubuhnya. Bahkan kendaraan pribadi yang digunakan sehari-hari pun merupakan jenis kendaraan yang lazim dimiliki masyarakat kebanyakan.
Bagi sebagian orang, kesederhanaan seperti itu mungkin sulit ditemukan pada sosok pejabat pimpinan tinggi pratama. Namun bagi Chuznul, hidup sederhana bukanlah pencitraan, melainkan prinsip yang telah melekat sejak lama.
Dengan senyum ringan, alumni Sekolah Tinggi Kepamongprajaan (STPDN) itu mengungkapkan kebiasaan yang mungkin membuat banyak orang terkejut. Sejak remaja hingga kini, ia mengaku hampir tidak pernah membeli pakaian kecuali menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Iya Mas, mungkin Anda tidak percaya kalau saya membeli pakaian hanya saat mau Lebaran saja,” ujarnya sembari tersenyum, Selasa (2/6/2026).
Ucapan itu meluncur tanpa kesan dibuat-buat. Bagi Chuznul, pakaian hanyalah kebutuhan, bukan sarana untuk menunjukkan kelas sosial. Yang terpenting adalah tetap tampil bersih, rapi, dan pantas dalam menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat.
Di atas pergelangan tangannya terpasang sebuah jam tangan sederhana. Tidak berkilau seperti jam-jam mewah yang kerap menjadi simbol prestise. Namun benda itulah yang justru memiliki nilai paling berharga baginya.
“Ini hadiah dari istri. Harganya hanya sekitar dua ratus ribuan, tapi sangat bermakna,” tuturnya sambil menatap jam tangan yang setia menemaninya bekerja.
Bagi mantan Sekretaris Bappeda Pacitan itu, nilai sebuah benda tidak selalu diukur dari nominal rupiah. Ada kenangan, perhatian, dan kasih sayang yang tersimpan di balik hadiah sederhana tersebut. Karena itulah, jam tangan itu memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Kesederhanaan yang dijaga Chuznul ternyata tidak berhenti pada urusan penampilan. Dalam kehidupan sehari-hari, ia berusaha menjaga perasaan orang lain. Ia memahami bahwa jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu dapat berganti, sementara penghormatan kepada sesama harus tetap terpelihara.
Karena itu, ia memilih menjauh dari gaya hidup berlebihan. Tidak ada keinginan untuk tampil mencolok atau menunjukkan kemapanan di hadapan masyarakat. Baginya, seorang pejabat cukup menunjukkan kinerja dan keteladanan, bukan kemewahan.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, prinsip hidup seperti yang dijalani Chuznul menjadi pengingat bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari pakaian mahal, kendaraan mewah, atau aksesori bernilai fantastis. Kadang, wibawa justru tumbuh dari kesederhanaan yang dijaga dengan konsisten.
Dan di balik angka digital jam tangan seharga dua ratus ribu rupiah itu, tersimpan sebuah pesan sederhana: bahwa menjadi pejabat bukan tentang seberapa tinggi gengsi yang ditampilkan, melainkan seberapa tulus seseorang menjaga amanah dan tetap membumi di tengah masyarakat yang dilayaninya.(Red/yun).




