Deflasi Pacitan Kian Dalam di Akhir April 2026, Harga Pangan Jadi Penentu Utama
"Dinamika harga pangan memang sangat berpengaruh terhadap kondisi inflasi daerah"

Pacitan,JBM.co.id-Laju harga kebutuhan pokok di Kabupaten Pacitan menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan pada pekan terakhir April 2026. Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), daerah ini mengalami deflasi sebesar -2,72 persen pada Minggu ke-4 April.
Penurunan harga ini terutama dipicu oleh melemahnya harga sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar deflasi, diikuti oleh daging sapi dan daging ayam ras. Fluktuasi harga pada komoditas tersebut memberikan dampak dominan terhadap pergerakan IPH secara keseluruhan.
Kabag Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyo Budi, menjelaskan bahwa dinamika harga pangan memang sangat berpengaruh terhadap kondisi inflasi daerah. “Penurunan harga cabai rawit dan komoditas protein hewani seperti daging sapi serta ayam ras menjadi faktor utama yang mendorong deflasi pada pekan ini,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Secara posisi, IPH Pacitan berada di peringkat 323 nasional, peringkat 19 di Jawa Timur, serta urutan 51 di Pulau Jawa. Capaian ini menunjukkan bahwa tren penurunan harga di Pacitan masih sejalan dengan pola yang terjadi di sejumlah wilayah lain, khususnya di Jawa Timur yang mayoritas juga mengalami deflasi.
Sementara itu, jika dilihat dari indikator waktu yang lebih luas, IPH Pacitan mencatat:
Year on Year (Maret 2026): -0,48 persen
Year to Date: 0,80 persen
Month to Month (Maret): 1,28 persen
Menariknya, meski secara bulanan Maret masih mencatat inflasi, tren hingga akhir April justru berbalik arah menjadi deflasi cukup dalam. Hal ini mencerminkan adanya koreksi harga yang cukup tajam, terutama pada komoditas hortikultura dan pangan segar.
Dari sisi pergerakan harga mingguan, beberapa komoditas seperti minyak goreng, cabai merah, dan gula pasir sempat mengalami kenaikan. Namun, penurunan harga pada komoditas lain seperti daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, serta bawang merah dan putih, lebih dominan sehingga menekan indeks secara keseluruhan.
Ayub menambahkan bahwa kondisi ini perlu terus dicermati, terutama menjelang bulan-bulan dengan potensi peningkatan permintaan. “Keseimbangan pasokan dan distribusi harus tetap dijaga agar fluktuasi harga tidak terlalu tajam, baik saat mengalami kenaikan maupun penurunan,” jelasnya.
Secara regional, fenomena deflasi juga terjadi di banyak kabupaten/kota di Jawa Timur, dengan pola yang hampir serupa—yakni dipengaruhi oleh turunnya harga cabai rawit dan komoditas pangan utama lainnya.
Dengan kondisi ini, pemerintah daerah terus berupaya menjaga stabilitas harga melalui pemantauan rutin serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Harapannya, daya beli masyarakat tetap terjaga dan gejolak harga dapat dikendalikan secara berkelanjutan.(Red/yun).




