BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Dari Jejak Transmigrasi hingga Harapan Baru Pacitan: Kelapa CRD/KINA Kembali Menyapa Bumi Leluhur

"Dulu kelapa ini biasa dipakai untuk program Transmigrasi di Inhil-Riau. Banyak warga Pacitan yang hidupnya terangkat karena kelapa ini"

Pacitan,JBM.co.id- Ingatan kolektif masyarakat Pacitan seolah ditarik kembali ke beberapa dekade silam, saat ribuan warganya memilih meninggalkan tanah kelahiran demi harapan hidup yang lebih baik melalui program transmigrasi. Kala itu, perjalanan jauh ke luar pulau, terutama ke Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau bukan hanya membawa cangkul dan bekal seadanya, tetapi juga benih masa depan kelapa hibrida CRD/KINA.

Kenangan itulah yang kini kembali dihidupkan oleh Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi (ASB). Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim pertanian, ASB mengajak masyarakat menengok ulang potensi komoditas yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi para transmigran Pacitan.

“Dulu kelapa ini biasa dipakai untuk program transmigrasi di Inhil-Riau. Banyak warga Pacitan yang hidupnya terangkat karena kelapa ini,” tutur ASB saat meninjau tanaman kelapa CRD/KINA di Desa Bubakan, Ahad (25/1/2026).

Kelapa CRD/KINA bukanlah kelapa biasa. Secara teknis, varietas ini dikenal memiliki kandungan minyak tinggi hingga ±67 persen, menjadikannya sangat potensial untuk industri minyak kelapa. Selain itu, santannya lebih kental, cocok untuk kebutuhan rumah tangga hingga skala usaha, serta dapat dimanfaatkan untuk nira, gula kelapa, dan degan. Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah karakter pohonnya yang lambat tinggi, sehingga lebih mudah dirawat dan dipanen oleh petani.

Berangkat dari keunggulan itulah, ASB mendorong pengembangan kelapa CRD/KINA di Kabupaten Pacitan. Beberapa desa mulai dijadikan lokasi percontohan, salah satunya Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan. Di desa ini, tanaman kelapa CRD/KINA yang baru berusia dua tahun menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan.

“Ini salah satu contohnya. Usianya dua tahun, Alhamdulillah tumbuh dengan baik. Insyaallah dua tahun lagi sudah manggar dan sudah bisa dideres untuk diambil niranya,” jelas ASB dengan nada optimistis.

Lebih dari sekadar komoditas pertanian, kelapa CRD/KINA membawa nilai edukasi bagi generasi muda Pacitan. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari hal baru, tetapi bisa dari kearifan dan pengalaman masa lalu yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

ASB berharap, pengembangan kelapa CRD/KINA dapat menjadi alternatif sumber pendapatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Dengan perawatan yang relatif mudah dan hasil yang beragam, kelapa ini dinilai mampu mendukung ketahanan ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang usaha berbasis olahan kelapa.

Kebun kelapa Hibrida di Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan.
Kebun kelapa Hibrida di Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan.
“Kalau dulu kelapa ini menjadi bekal hidup para transmigran Pacitan di tanah orang, sekarang saatnya kita jadikan sebagai harapan baru di tanah sendiri,” pungkasnya.

Langkah ini pun menjadi simbol bahwa Pacitan tidak hanya kaya akan sejarah dan kenangan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menata masa depan—berakar kuat pada pengalaman, tumbuh bersama pengetahuan, dan berbuah kesejahteraan bagi masyarakatnya.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button