BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahan

Bali Butuh Tambahan Pasokan Listrik 200 Megawatt saat Reserve Margin Tinggal 2 Persen Diminta Segera Dibangun Pembangkit Listrik Berbasis Gas

Jbm.co.id-DENPASAR | Komisi XII DPR RI menyoroti meningkatnya kebutuhan listrik di Bali yang dinilai memerlukan tambahan pasokan energi agar tetap terjaga keandalan sistem kelistrikan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, saat Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Masa Persidangan V Tahun 2025-2026 ke lokasi rencana pembangunan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) LNG di Sanur dan Serangan, Denpasar, Rabu, 22 Juli 2026.

Ketua Tim Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto menegaskan pertumbuhan konsumsi listrik di Bali saat ini mencapai sekitar 8,3 persen, jauh diatas rata-rata nasional yang berada di kisaran 4,3 persen.

Sementara itu, cadangan daya atau reserve margin sistem kelistrikan Bali hanya tersisa sekitar 2 persen, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan.

“Padahal kita sama-sama ketahui tadi pertumbuhan listrik demikian pesat, maka untuk disegerakan dibangun setidaknya tadi akan nambah 200 Mega Watt dengan bahan baku dari Gas,” tegasnya.

Menurut Sugeng Suparwoto, tambahan pasokan listrik sebesar sekitar 200 megawatt dari pembangkit berbahan bakar gas menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik Bali yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata.

Sugeng Suparwoto menjelaskan, Bali memiliki karakteristik berbeda dengan Pulau Jawa karena sistem kelistrikannya belum terkoneksi dengan jaringan Jawa. Kondisi tersebut membuat Bali membutuhkan pasokan listrik yang andal dari pembangkit di wilayahnya sendiri.

Selain menjamin keandalan pasokan, penggunaan gas juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pembangkit berbahan bakar diesel yang masih digunakan di sejumlah lokasi.

“Itu mahal sekali dan juga pasti polutif khan begitu. Nah, ini di Bali mau Green menuju Renuable Energi maka ikhtiar salah satunya Pembangkit dengan Gas, yang Relative Green, maka Fosil itu tetap ada Karbonnya, tapi sangat rendah dibandingkan dengan Diesel,” paparnya.

Sugeng Suparwoto menambahkan, gas merupakan energi transisi menuju pemanfaatan energi terbarukan. Pemanfaatannya dinilai sejalan dengan komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon melalui Paris Agreement.

Meski demikian, Komisi XII DPR RI menegaskan pembangunan infrastruktur energi tetap harus memperhatikan aspirasi masyarakat, khususnya warga Desa Adat Serangan yang menyampaikan berbagai masukan terkait rencana pembangunan FSRU LNG.

“Nah inilah kita datang ke Bali mau mencari titik temu, lantaran penting sekali pembangunan FSRU LNG,” terangnya.

Komisi XII DPR RI berharap kebutuhan listrik Bali dapat terpenuhi melalui pembangunan infrastruktur energi yang andal, sekaligus tetap mengedepankan aspek lingkungan, sosial dan keberlanjutan. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button