Unud, WSU dan NCPI Bali Bentuk BASA Dorong Riset Kolaborasi Berdampak Nyata Bagi Masyarakat Bidik Isu Strategis Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Universitas Udayana (Unud), Western Sydney University (WSU), dan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali memperkuat kolaborasi akademik dan riset melalui pembentukan Bali Australia Spirit Alliance (BASA).
Aliansi ini bertujuan menjadi wadah sinergi tiga pihak untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Direktur Kemitraan Institusi Universitas Udayana, Ni Putu Sri Harta Mimba, S.E.,M.Si.,Ph.D.,Ak.,CA., CMA.,ASEAN CPA., menegaskan BASA memiliki posisi strategis dalam mengorkestrasi kepentingan tripartit antara NCPI Bali, Universitas Udayana (Unud), Western Sydney University (WSU) dan NCPI Bali.
Menurutnya, BASA dapat menjadi ruang pertemuan dan diskusi yang menghimpun berbagai unsur, mulai dari akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, hingga pemerintah. Bahkan, dukungan media sosial juga penting untuk memperluas penyebaran gagasan dan hasil kolaborasi.
“Kami dari dunia akademika, kemudian ada dari teman-teman di bisnis dan juga ada masyarakat serta pemerintah, dan tentunya disini dengan support dari sosial media. Jadi, kita nanti akan merangkum apa isu-isu strategis yang terkait dengan aliansi Bali Australia Spirit of Alliances,” kata Direktur Kemitraan Institusi Universitas Udayana, Ni Putu Sri Harta Mimba, S.E.,M.Si.,Ph.D.,Ak.,CA., CMA.,ASEAN CPA., saat diwawancarai insan media di Denpasar, Kamis (6/11/2026).
Sri Harta Mimba menegaskan Universitas Udayana (Unud) memberikan dukungan penuh atas pembentukan BASA sebagai langkah awal membangun sinergi yang berorientasi pada hasil dan manfaat langsung bagi masyarakat.
Selain itu, Sri Harta Mimba berharap implementasi program BASA memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan terukur, termasuk kontribusi atas pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Dukungan atas aliansi ini juga datang dari Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. Setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kesepakatan tersebut ke dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang konkret dan dapat diimplementasikan.
Sri Harta Mimba menjelaskan, implementasi BASA nantinya dapat melibatkan berbagai fakultas dan sekolah di lingkungan Universitas Udayana. Sinergi tersebut juga membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, serta media sosial agar semangat kolaborasi Bali-Australia semakin luas.
“Jadi, challenge-nya di situ dan kita tentu akan dapat mengimplementasikan kegiatan-kegiatan, baik dari kami ada berbagai fakultas, sekolah, terkait dengan kegiatan-kegiatan dari BASA. Jadi, kita bersinergi seperti itu, didukung oleh support pemerintah, kemudian support masyarakat serta dukungan sosial media, yang tentunya bisa menyebarkan semangat spirit dari BASA ini,” kata Sri Harta Mimba.
Terkait program awal, Sri Harta Mimba menyebut riset kolaboratif menjadi salah satu agenda yang dapat diprioritaskan. Selain itu, pertukaran mahasiswa, workshop, serta pertemuan antar peneliti dari kedua universitas juga berpeluang masuk dalam agenda kerja sama.
Hingga saat ini, kedua pihak akan melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi isu-isu strategis dan menentukan program prioritas. Langkah tersebut penting agar kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi segera menghasilkan kegiatan yang relevan dan berdampak.
“Jadi nanti mungkin kita akan petakan mana yang urgen, terus nanti yang apa, langkah-langkahnya. Kita akan putuskan supaya gini nanti, kadang kalau kita tidak tepat untuk angkah mana yang mau diaambil sehingga impact-nya langsung dan nyata,” terangnya.
Lebih lanjut, Sri Harta Mimba berharap kolaborasi BASA mampu menghadirkan langkah strategis yang terarah.
“Dengan demikian, pertemuan dan pertukaran gagasan para peneliti dari Universitas Udayana dan Western Sydney University dapat memberikan manfaat timbal balik bagi kedua institusi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Sri Harta Mimba.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali, Agus Maha Usadha menyatakan sebenarnya progres MoU Universitas Udayana (Unud) dan Western Sydney University (WSU) dalam bentuk Bali Australia Spirit of Alliance (BASA), kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama (MoA) tidak hanya sampai disitu, malah langkah pertama sudah dilakukan sebelumnya.
Pada saat itu, pihaknya langsung mengadakan kuliah umum yang dihadiri mahasiswa dan almost full serta Dekan hingga dibuka oleh Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D.
“Jadi, itu sebagai langkah awal. Kemarin dan hari ini kita membicarakan dari strategis daripada aliansi ini, dari bahasa antara Western Sydney University Researchers dan Udayana Researchers University,” kata Agus Maha Usadha.
Selanjutnya, pihaknya sudah melangkah lebih jauh lagi kepada pemilihan topik subjek, desain hingga konsep bahasa yang akan dilakukan di tahun depan.
Dalam 10 hari ini, pihaknya sudah melakukan analisis hingga disepakati bersama punya deadline 10 hari untuk dijadikan suatu pattern kesepakatan bersama sebagai langkah kedua pihak setelah kesepakatan meeting hari ini.
“Harapannya, hari ini beliau kembali ke Australia, semuanya akan kita mulai koordinasikan bersama. Seperti tadi Bu Direktur sampaikan, bahwa kita akan pilih scale of priority dari subjek-subjek desain konsep yang akan dipakai. Kita ada 3, 4, 5 project concept, itu akan kita pilih dari skala prioritas yang bisa menimbulkan impact, dampak langsung dari apa yang kita tujukan. Jadi di situ sebenarnya konsep yang kita harapkan. Jadi, kita sudah melangkah jauh ke depan,” kata Agus Maha Usadha.
Mengenai program urgen belum spesifik men-summary, lantaran dalam 10 hari inilah pihaknya akan memilih dari beberapa alternatif yang akan dikeluarkan dari masing-masing researchers ini, terutama, program yang dimiliki dari Bali, yang akan dijadikan scale of priority. Bahkan, pihaknya yang akan memberikan input utama beserta prioritasnya.
Selanjutnya, mereka akan mempelajari dulu, yang kemudian akan bersama-sama melakukan kolaborasi bekerja sama, akan dipilih konsep pertama, kedua dan ketiga berdasarkan skala prioritas (scale of priority).
Untuk itu, pihaknya tidak bisa average saja membahas isu-isu ini. Nanti semua itu akan dikaji secara akademis berdasarkan data akurasi dari researchers BASA, kemudian baru dibahas, diolah kembali menjadi langkah-langkah selanjutnya.
“Apakah langkah implementasi dalam arti riil di lapangan, menjadi program kerja lanjutan, apakah kita perlu akses government untuk public policy dan lain sebagainya, kita perlu support dari pihak yang lainnya untuk berpartisipasi seperti ini,” kata Agus Maha Usadha.
Menurutnya, kalau di Unud sendiri, awalnya baliologi termasuk dalam suatu bentuk kolaborasi sebagai base. Namun, lebih penting sekarang adalah tentang Bali terkini dan future-nya. Mengingat, baliologi yang sudah dimiliki dari tahun 1984-1985 sebagai background melangkah ke depan.
“Karena dengan situasi sekarang, perubahan-perubahan, nah, itulah dengan, dengan waktu yang berjalan ini, kita akan melangkah ke sana, sehingga kita menemukan lagi apa yang ke depan langkah-langkah yang strategis yang bisa dijadikan langkah untuk pembangunan Bali atau menjaga Bali kita lebih bagus lagi ke depan,” pungkasnya.
Pewarta: Ace Wiguna
Editor: Putu Wiguna




