BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahan

Dewa Rai Sentil Tanggung Jawab Pertamina Jika Tak Mampu, Mundur! Peringatkan Krisis BBM Lumpuhkan Pariwisata Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bali.

Kondisi ini dinilai berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi dan mengancam kepercayaan wisatawan terhadap Pulau Dewata sebagai destinasi pariwisata internasional.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai, memperingatkan bahwa kelangkaan BBM tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada operasional usaha pariwisata, mulai dari transportasi, perhotelan, hingga layanan kepada wisatawan.

Menurutnya, persoalan tersebut harus segera ditangani secara serius karena perekonomian Bali sangat bergantung pada kelancaran aktivitas pariwisata.

“Ini dunia, Bali bukan hanya regional, tetapi internasional,” tegas Dewa Rai di Denpasar, Kamis (15/10/2026).

Dewa Rai menilai, apabila gangguan pasokan BBM berlangsung berlarut-larut, dampaknya bisa meluas dan menimbulkan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar daripada persoalan antrean di SPBU.

Dewa Rai mencontohkan kesulitan yang dialami pengemudi ojek daring dalam memperoleh bensin untuk bekerja. Kondisi tersebut berpotensi menghambat mobilitas masyarakat sekaligus mengganggu layanan transportasi bagi wisatawan.

Dampak serupa juga dapat dirasakan sektor perhotelan. Keterlambatan transportasi akibat kemacetan dan antrean BBM berisiko mengganggu jadwal perjalanan tamu, termasuk keberangkatan menuju bandara.

Situasi itu dapat memicu biaya tambahan, perubahan jadwal perjalanan, hingga keluhan wisatawan terhadap pelayanan selama berlibur di Bali.

Pelaku usaha pariwisata pun berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi keluhan tamu dan kemungkinan menanggung biaya operasional tambahan, meskipun persoalan tersebut berada di luar kendali langsung mereka.

Beban Pariwisata Semakin Berat

Ditengah persoalan kelangkaan BBM, Dewa Rai turut menyoroti keluhan mengenai sulitnya memperoleh air bersih di sejumlah kawasan pariwisata, terutama Bali bagian selatan dan beberapa wilayah Bali utara.

Menurutnya, persoalan tersebut semakin membebani pengelola akomodasi wisata yang harus memastikan kebutuhan dasar tamu tetap terpenuhi.

Ketika pasokan air tidak mencukupi, pelaku usaha terpaksa mencari alternatif, termasuk membeli air untuk memenuhi kebutuhan operasional. Pengeluaran tambahan ini menjadi beban tersendiri ketika mobilitas dan distribusi barang juga menghadapi hambatan akibat kelangkaan BBM.

Padahal, wisatawan tetap mengharapkan pelayanan sesuai dengan biaya yang telah mereka keluarkan.

Dewa Rai mengingatkan, apabila kebutuhan dasar seperti air bersih dan transportasi tidak terpenuhi dengan baik, keluhan wisatawan berpotensi meningkat. Dampaknya bukan hanya dirasakan hotel besar, tetapi juga pengusaha akomodasi, penyedia transportasi, dan pekerja yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas pariwisata.

Oleh karena itu, Dewa Rai menekankan pentingnya langkah cepat dan terukur untuk memulihkan distribusi BBM di Bali.

Menurutnya, pengiriman BBM menuju SPBU perlu diatur agar tidak terhambat kemacetan yang juga dipicu antrean kendaraan. Koordinasi lintas instansi, termasuk dengan aparat kepolisian, dinilai penting untuk memperlancar pergerakan armada pengangkut BBM.

Pengawalan distribusi dapat dipertimbangkan pada jalur-jalur yang mengalami hambatan sehingga armada pengangkut dapat mencapai SPBU lebih cepat dan pasokan segera tersedia bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah bersama pihak terkait perlu memastikan kecukupan stok, memetakan wilayah yang paling terdampak, mempercepat distribusi, serta menyampaikan informasi ketersediaan BBM secara transparan.

Dewa Rai juga menyoroti janji pemulihan pasokan dalam waktu singkat yang dinilainya belum sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat. Ketika antrean masih terjadi di berbagai wilayah, evaluasi terhadap strategi penanganan krisis menjadi mendesak.

Singgung Dampak yang Berbeda dengan Pandemi

Dewa Rai turut membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman Bali menghadapi pandemi COVID-19. Namun, menurutnya, karakter persoalan kali ini berbeda.

Pada masa pandemi, aktivitas ekonomi mengalami tekanan akibat pembatasan kegiatan dan penurunan mobilitas. Sementara dalam krisis BBM, aktivitas pariwisata tetap berjalan, tetapi mobilitas dan operasional usaha berpotensi terganggu karena bahan bakar sulit diperoleh.

Hotel tetap harus melayani tamu, kendaraan tetap dibutuhkan untuk mengantar wisatawan, dan pekerja harus tetap beraktivitas untuk mencari nafkah. Namun, seluruh kegiatan itu menghadapi hambatan ketika pasokan BBM tidak memadai.

Beban operasional berpotensi meningkat, sementara pelaku usaha tetap dituntut menjaga kualitas pelayanan.

Atas kondisi tersebut, Dewa Rai mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap persoalan ini sebagai gangguan sementara yang dapat dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah konkret.

Dewa Rai juga menyinggung pentingnya tanggung jawab dan evaluasi terhadap pihak yang dinilai gagal menjalankan tugasnya. Apabila persoalan berkaitan dengan kesalahan personal atau kelemahan dalam pelaksanaan tanggung jawab, menurutnya, evaluasi harus dilakukan secara serius.

Bahkan, Dewa Rai menyinggung opsi pengunduran diri sebagai bentuk pertanggungjawaban apabila pihak yang bersangkutan memang tidak mampu menjalankan tugasnya.

Menurutnya, kepentingan masyarakat dan nama baik Bali harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Meski demikian, tuntutan pertanggungjawaban harus didasarkan pada fakta, kewenangan, dan hasil evaluasi yang objektif agar penyelesaian persoalan tidak berhenti pada saling menyalahkan.

Bagi Dewa Rai, krisis ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan sektor strategis yang menopang perekonomian Bali membutuhkan perencanaan matang, respons cepat, serta kemampuan mengantisipasi risiko.

Dewa Rai menegaskan, masyarakat membutuhkan kepastian kapan antrean BBM berakhir, pelaku usaha memerlukan kelancaran operasional, dan wisatawan berhak memperoleh pelayanan yang aman serta nyaman.

Oleh karena itu, pemerintah bersama Pertamina dan seluruh pihak terkait perlu memastikan distribusi berjalan efektif, hambatan di lapangan segera diatasi, serta informasi mengenai ketersediaan BBM disampaikan secara terbuka.

Di saat yang sama, persoalan air bersih di kawasan pariwisata juga harus mendapat perhatian serius agar tidak semakin membebani pelaku usaha.

Dewa Rai mengingatkan, sebagai destinasi pariwisata internasional, Bali membutuhkan kepastian pasokan energi, kelancaran transportasi, dan pemenuhan kebutuhan dasar untuk menjaga kepercayaan wisatawan sekaligus melindungi keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Pewarta: Ivan

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button