GPS Soroti Krisis BBM di Bali Singgung Impor Minyak Rusia dan Selat Hormuz: Masalah Global Jangan Ditangani Feodal

Jbm.co.id-DENPASAR | Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), I Gede Pasek Suardika, S.H., M.H., yang akrab disapa GPS, menyoroti krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
GPS menduga kelangkaan BBM tidak bisa dilepaskan dari persoalan pasokan minyak di tingkat global, termasuk potensi keterlambatan kedatangan stok dan dinamika geopolitik internasional.
“Adakah ketidakmampuan penyediaan BBM saat ini karena kementeriannya Bahlil memang di hulu terdapat kelambatan kedatangan stok. Alias stok langka,” kata Advokat sekaligus Ketua Umum PKN I Gede Pasek Suardika (GPS) di Denpasar, Rabu (14/10/2026).
Lebih jauh, GPS menilai perang Rusia-Ukraina yang menyasar sejumlah kilang minyak Rusia berpotensi menjadi salah satu pemicu gejolak pasokan energi dunia. Terlebih, Indonesia juga mengimpor minyak dari Rusia.
Menurutnya, indikasi dampak konflik tersebut terlihat dari sikap Amerika Serikat (AS) melalui Presiden Donald Trump yang menegur Ukraina agar tidak menyerang infrastruktur pasokan minyak Rusia karena berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia.
GPS menilai, jika gejolak energi sampai mengguncang AS, dampaknya terhadap Indonesia bisa lebih berat. Sebab, posisi tawar Indonesia dalam perdagangan energi internasional dinilai masih lemah.
Disisi lain, kondisi Selat Hormuz yang belum stabil juga berpotensi menambah ketidakpastian pasokan energi global. Namun, GPS menyayangkan belum adanya keterbukaan pemerintah mengenai penyebab pasti kelangkaan BBM yang terjadi di Bali.
GPS juga menyinggung kerja sama antar pemerintah atau government to government (G to G) terkait kebutuhan 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.
“Saat ini memasuki tahap kedua, dimana tahap pertama sekitar 700 ribu barrel. Sekarang berlanjut ke tahap kedua,” kata GPS.
Terkait berbagai alasan yang dikaitkan dengan kelangkaan BBM di Bali, GPS menilai persoalan tersebut tidak semestinya disederhanakan hanya pada satu faktor.
“Kalau hanya urusan GP Mandalika dianggap penyebabnya sepertinya terlalu menyederhanakan masalah. Kalau alasan cuaca susah juga, karena tidak ada gelombang badai,” ujarnya.
Menurut GPS, hal paling mendesak saat ini adalah keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan penyebab gangguan pasokan BBM. Informasi yang jelas diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan kebutuhan sehari-hari di tengah situasi yang belum menentu.
GPS menyoroti kondisi di lapangan yang dinilai bertolak belakang dengan pernyataan bahwa pasokan dalam keadaan aman. Faktanya, masyarakat masih harus mengantre di SPBU sejak dini hari hingga malam hari.
“Permasalahan global jangan ditangani dengan cara-cara komunikasi feodal,” kata GPS mengakhiri.
Editor: Putu Wiguna




