
Jbm.co.id-BADUNG | Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II sekaligus Ketua DPC Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota mendorong organisasi pengusaha tidak berhenti pada forum rapat dan seremoni, tetapi mampu membuka akses pasar serta memperluas networking bagi pelaku UMKM.
Hal itu disampaikan Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II sekaligus Ketua DPC Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, saat Rakerda II DPD HIPPI Bali sekaligus peringatan HUT ke-3 DPD HIPPI Bali di Kartika Plaza Hotel, Kuta, Badung, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Menguatkan Komitmen Mewujudkan Bali sebagai Pusat Ekonomi Hijau”. Bahkan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun komitmen organisasi secara berkelanjutan.
Winie Kaori mengatakan, persiapan Rakerda telah dilakukan sejak dua minggu sebelum pelaksanaan. Persiapan tersebut tidak hanya menyangkut teknis kegiatan, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi dan komunitas antarpelaku usaha.
“Persiapan yang sudah kita lakukan dua minggu sebelum hari H menjadi catatan penting bagaimana penyelenggaraan sebuah Rakerda dalam komunikasi dan komunitas wajib kita lakukan,” kata Winie Kaori.
Menurutnya, banyak organisasi memiliki agenda rapat kerja. Namun, tantangan sesungguhnya adalah memastikan hasil Rakerda tidak berhenti sebagai dokumen atau pembahasan, melainkan diterjemahkan menjadi program dan kolaborasi yang berkelanjutan.
“Banyak organisasi yang mengadakan adanya Rakerda ini, tetapi Rakerda yang berkomitmen untuk berkelanjutan, di sinilah kita belajar bagaimana menentukan sebuah tema berhubungan dengan jangka panjang dari karya kerja nyata apa yang sudah dilakukan,” jelasnya.
Dorong UMKM Bertemu Langsung dengan Buyer
Winie Kaori menilai salah satu hal penting dalam Rakerda II HIPPI Bali adalah membuka ruang networking seluas-luasnya.
Stakeholder, pelaku usaha, maupun undangan yang hadir diharapkan tidak sekadar mengikuti acara, tetapi menemukan titik temu untuk membangun kerja sama.
“Melalui Rakerda ini diharapkan mampu membuka networking seluas-luasnya dari stakeholder yang hadir, para undangan, pelaku usaha, sampai mereka menemukan apa yang menjadi titik temu sebuah komunitas yang kita bangun di HIPPI Bali,” ungkapnya.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan dengan mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pengguna produk secara langsung.
Winie Kaori mencontohkan pelaku usaha beras yang dipertemukan dengan para general manager hotel yang tergabung dalam asosiasi general manager hotel di Bali.
Menurutnya, pertemuan langsung dapat memperpendek rantai komunikasi antara pelaku usaha dan calon pembeli.
“Contoh kecil tadi kita pertemukan antara stakeholder GM hotel dengan pelaku usaha beras. Kalau usaha beras ini langsung datang ke hotel bintang lima, mungkin diterima dulu oleh manager purchasing, belum tentu langsung diakses oleh GM-nya,” kata Winie Kaori.
Oleh karena itu, HIPPI Bali menghadirkan para general manager agar UMKM yang tergabung dalam organisasi dapat memiliki akses komunikasi secara langsung sekaligus membuka peluang transaksi.
“Kita hadirkan supaya UMKM-UMKM yang tergabung di HIPPI Bali bisa koneksi langsung dan mempercepat adanya transaksi,” kata Winie Kaori.
Bagi Winie Kaori, pola tersebut merupakan salah satu manfaat nyata berorganisasi. HIPPI Bali diharapkan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan pengguna maupun pembeli.
“Disinilah manfaat untuk ikut berorganisasi supaya ketemu antara seller dan buyer, ketemu antara pengguna dan pelaku, ketemu antara pembeli dan penjual,” ujarnya.
Jaringan tersebut, kata dia, dapat dikembangkan pada berbagai sektor usaha, mulai dari pertanian, suvenir hingga coffee shop.
“Baik itu usaha agriculture, usaha souvenir, usaha coffee shop yang nantinya bisa berkolaborasi, tidak satu titik, tetapi bisa 100 titik, 1.000 titik,” tegasnya.
Ekonomi Hijau Dimulai dari Hal Sederhana
Selain membuka akses pasar, Winie menekankan pentingnya membangun kesadaran pelaku usaha terhadap konsep ekonomi hijau.
Menurutnya, ekonomi hijau bukan sekadar tema kegiatan, melainkan harus diterapkan melalui langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap individu maupun pelaku usaha.
“Ekonomi hijau bukannya hanya wacana semata. Ekonomi hijau merupakan langkah kecil kita. Kalau tidak diingatkan dari sekarang, kita tidak menunggu lagi yang namanya bencana,” terangnya.
Winie Kaori mencontohkan penerapan ekonomi hijau melalui pemilahan sampah, prinsip reduce, reuse, recycle, pemanfaatan solar panel, hingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan usaha.
“Langkah kecil itu bisa berupa memilah sampah, menggunakan reuse, recycle, reduce, menggunakan solar panel, sampai halnya kita sebagai pelaku usaha untuk mengefektifkan dan mengefisienkan apa yang terjadi dalam satu usaha yang kita kerjakan,” ujarnya.
Winie Kaori mengajak pelaku usaha tidak hanya menghitung keberhasilan dari sisi keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak kegiatan usaha terhadap lingkungan.
“Tidak melihat jauh kepada orang-orangnya, tetapi melihat diri kita sendiri. Apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan dan alam semesta yang ada di sekitar kita,” tegasnya.
Winie Kaori juga menambahkan, program organisasi juga perlu dirancang dengan mempertimbangkan manfaat jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Tidak hanya melihat keuntungan secara profit di depan mata apa yang harus kita kerjakan, tetapi ada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjangnya,” kata Winie Kaori.
Oleh karena itu, Winie Kaori berharap HIPPI Bali dapat terus menjadi ruang kolaborasi bagi anggotanya, sekaligus memberikan manfaat nyata melalui pembukaan akses pasar, penguatan jaringan usaha, dan penerapan prinsip ekonomi hijau.
“Ini menjadi harapan kita, apa yang kita dapat rasakan menjadi orang anggota atau pengurus komunitas yang positif,” pungkasnya.
Reporter: Ivan
Redaktur: Putu Wiguna




