BaliBeritaDaerahDenpasarGaya HidupLalu LintasLingkungan HidupPariwisata

Ngurah Wijaya “Solo Rider” Jelajahi 79 Negara di 5 Benua, Putu Suasta: Ini Perjalanan Spiritual Berani Lepaskan Diri dari Kemelekatan

Jbm.co.id-DENPASAR | Tokoh pariwisata Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya mencatat perjalanan luar biasa dengan menjelajahi 79 negara di 5 benua menggunakan sepeda motor seorang diri atau “Solo Rider “.

Selama petualangannya, Ngurah Wijaya membawa nama Bali dan Indonesia dengan tetap mengibarkan Bendera Merah Putih serta menggunakan sepeda motor berpelat DK.

Ekspedisi tersebut ditempuh dengan jarak sekitar 190.000 kilometer. Perjalanan dimulai dari berbagai wilayah di Indonesia, sebelum Ngurah Wijaya memperluas petualangannya ke mancanegara.

Ngurah Wijaya mulai melakukan perjalanan keluar negeri, ketika usianya memasuki 73 tahun. Kini, di usia 75 tahun, ekspedisi dunia yang berlangsung selama tujuh tahun sejak 2019 hingga 2026 itu akhirnya dirampungkan.

Perjalanan panjang tersebut mendapat apresiasi dari Pengelana Global sekaligus Pendiri LSM JARRAK, Putu Suasta, bersama filolog, pembaca manuskrip lontar Bali dan Jawa Kuno, serta pengamat budaya asal Bali, Sugi Lanus, saat peluncuran dua buku Ida Bagus Ngurah Wijaya berjudul “Menembus Horizon” dan Wolrd Solo Ride”: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia di Istana Taman Jepun, Denpasar, Jumat (11/9/2026).

Putu Suasta menilai keberanian Ngurah Wijaya tidak sekadar menunjukkan kemampuan melakukan perjalanan jarak jauh, tetapi juga menggambarkan kekuatan mental, keteguhan hati, serta keberanian melepaskan diri dari berbagai bentuk kemelekatan.

“Sebetulnya yang paling penting itu adalah tujuan hidupnya. Tidak banyak orang yang bisa melakukan hal seperti itu. Walaupun niatnya ada di dalam pikiran, eksekusinya belum tentu ada. Hal ini memerlukan persiapan mentalitas dan ideologi yang sangat luar biasa,” kata Putu Suasta.

Menurutnya, keputusan melakukan perjalanan seorang diri memiliki konsekuensi besar. Proses melepaskan diri dari kemelekatan dapat berakhir pada keberhasilan, tetapi juga memiliki risiko kehilangan nyawa.

Putu Suasta menyebut hampir seluruh perjalanan semacam itu memiliki bahaya. Oleh karena itu, mentalitas dan energi yang dimiliki Ngurah Wijaya dinilai sangat luar biasa.

Putu Suasta juga menilai perjalanan tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa landasan ideologis yang kuat.

Sebagai “Solo Rider”, lanjut Putu Suasta, berbagai aspek perjalanan harus diperhitungkan secara detail, mulai dari menentukan musim, pengiriman sepeda motor, pihak yang menopang perjalanan, hingga penyusunan rute harus dirancang secara spesifik dan presisi.

Model perjalanan seperti yang dilakukan Ngurah Wijaya disebutnya cukup jarang ditemukan. Namun, ketika mampu dilakukan dengan konsisten, perjalanan tersebut dapat dimaknai lebih jauh sebagai perjalanan spiritualitas.

“Naik motor disini bukan sekadar berkendara, melainkan hanya sebagai katalis. Perjalanannya itu sendiri adalah perjalanan spiritualitas,” ujarnya.

Putu Suasta bahkan melihat kisah perjalanan Ngurah Wijaya berpotensi menjadi karya sastra yang kuat.

“Kalau seorang penulis merangkai hal ini bisa menjadi karya puisi yang sangat dahsyat,” terangnya.

Putu Suasta membandingkan perjalanan Ngurah Wijaya dengan pengalaman spiritual yang pernah dilakukan melalui Camino de Santiago, sebuah perjalanan spiritual umat Katolik.

Putu Suasta mengaku telah dua kali menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki. Pertama dari Porto, Portugal, menuju Katedral Santiago de Compostela sejauh sekitar 210 kilometer. Perjalanan kedua ditempuh dari Bilbao menuju Katedral Santiago sekitar 240 kilometer.

Apalagi yang dilakukan Ngurah Wijaya ini, tentu jauh lebih berat. Putu Suasta saja berjalan kaki ditengah badai selama 11-13 hari sampai ke lokasi, melintasi hutan, dan tidur di biara. Hal tersebut rasanya antara hidup dan mati perbandingan 50:50, dan memang banyak orang yang meninggal dunia, saat melakukan perjalanan itu.

Menurutnya, perjalanan Ngurah Wijaya layak diapresiasi sebagai salah satu bentuk perjalanan orang Bali yang memiliki nilai inspiratif.

“Sugi Lanus juga pernah melakukan hal serupa dulu, kan? Jadi, apa yang dilakukan Pak Ngurah ini adalah sesuatu dari orang Bali yang sangat kita apresiasi dan hormati. Meskipun, belum tentu bisa diikuti oleh generasi berikutnya, ini bisa menjadi sebuah model,” kata Putu Suasta.

Dharma Yatra dalam Wujud Modern

Sementara itu, Sugi Lanus melihat perjalanan Ngurah Wijaya dari perspektif yang lebih luas. Ia menilai ekspedisi tersebut bukan sekadar aktivitas menjelajahi dunia, tetapi juga bentuk Dharma Yatra dalam konteks kehidupan modern.

Sugi Lanus mengaku sempat bertemu dan makan malam bersama Ngurah Wijaya pada pekan sebelumnya. Dalam kesempatan itu, Ngurah Wijaya memperlihatkan buku yang memuat perjalanan ekspedisinya.

Menurut Sugi Lanus, buku tersebut menarik, karena memperlihatkan bagaimana orang Bali mengeksplorasi dunia dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya melihat dirinya dari konteks pulau Bali.

“​Saya bahkan sempat bercanda, kalau kita melihatnya secara sederhana saja, kita bisa tahu bagaimana kualitas beliau dalam melihat dan mengeksekusi perjalanan di jalan raya dari sudut pandang kebijakan publik, tata kota, dan lain-lain. Orang Bali, terutama dari generasi beliau, kan jarang sekali melakukan hal seperti ini. Namun, karena beliau sejak muda sudah mengecap pendidikan S1 di Eropa, perjalanan ini seperti menjejaki kembali dunia Eropa bagi Pak Ngurah,” kata Sugi Lanus.

Menurutnya, perjalanan sepanjang itu bukan hanya membutuhkan biaya, tetapi juga kemampuan mengorganisasi berbagai aspek perjalanan.

Sugi Lanus menyebut kemampuan mengatur itinerary, rute, waktu dan berbagai kebutuhan teknis menjadi bagian penting dari keberhasilan ekspedisi tersebut.

“Jadi, naik motornya sendiri bukanlah hal yang berat bagi beliau, melainkan bagaimana mengorganisasi perjalanannya. Anak-anak muda sekarang jangankan ke Jawa, mengendarai motor di Bali saja banyak yang tidak mau,” kata Sugi Lanus.

Sugi Lanus menilai faktor utama yang membuat perjalanan Ngurah Wijaya berbeda adalah mindset.

Menurutnya, masyarakat Bali selama ini lebih terbiasa melakukan perjalanan secara berkelompok.

Oleh karena itu, keputusan melakukan perjalanan lintas benua seorang diri menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Sugi Lanus berharap pengalaman tersebut dapat menjadi role model bagi generasi muda.

Bukan mengenai apakah seseorang memiliki kekayaan atau tidak, melainkan bagaimana membangun mindset, mengorganisasi perjalanan, serta memiliki keberanian untuk keluar dan mengeksplorasi sesuatu yang baru.

Sugi Lanus bahkan memaknai perjalanan Ngurah Wijaya sebagai bentuk Dharma Yatra modern.

“Kalau Anda mengendarai motor berkapasitas 200 cc atau 400 cc ke atas tanpa fokus dan meditasi, resikonya bisa fatal. Jadi, ribuan kilometer yang beliau tempuh itu pada dasarnya adalah proses meditasi,” kata Sugi Lanus.

Menurutnya, perjalanan tersebut semakin menarik karena Ngurah Wijaya berasal dari keluarga pendeta. Oleh karena itu, konsep Dharma Yatra dapat dimaknai lebih luas sesuai konteks kehidupan modern.

“Beliau membebaskan diri dari hal itu dan menjalankan Dharma Yatra manusia Bali modern. Ini sangat monumental,” kata Sugi Lanus.

Sugi Lanus menilai tantangan terbesar dalam perjalanan tersebut bukan semata-mata persoalan finansial. Ada rasa takut yang harus dilampaui, terutama ketakutan tidak dapat kembali pulang.

Terlebih, Ngurah Wijaya harus melintasi sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, termasuk Ethiopia, Somalia, Mozambik hingga Tanzania.

“Banyak pertempuran terjadi di sana. Jalurnya jelas sangat berbeda dengan rute santai seperti Denpasar ke Banyuwangi. Selamat dan tetap semangat Bli Ngurah. Terima kasih sudah memberikan inspirasi bagi kita semua untuk terus belajar,” tutupnya.

Reporter: Ace Wiguna

Redaktur: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button