100 Tukik Dilepasliarkan di Pantai Camplung, Warga Banyuasri Mulai Gerakkan Konservasi Penyu

Jbm.co.id-BULELENG | Upaya pelestarian penyu di pesisir Kabupaten Buleleng mulai mendapat perhatian serius dari masyarakat. Sebanyak 100 ekor tukik dilepasliarkan di Pantai Camplung, Kelurahan Banyuasri, dalam aksi perdana yang digelar Komunitas Kurma Segara Raksa, Minggu, 16 Agustus 2026.
Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tersebut dihadiri Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng I Gede Melandrat, serta masyarakat dan anggota komunitas.

Komunitas Kurma Segara Raksa merupakan komunitas yang beranggotakan nelayan dan relawan di bawah naungan Desa Adat Banyuasri. Komunitas ini baru terbentuk pada 10 Mei 2026 dan sejak awal berdiri telah melakukan upaya penyelamatan serta penetasan telur penyu yang ditemukan di kawasan pesisir.
Ketua Komunitas Kurma Segara Raksa, I Nyoman Sadwika, menjelaskan 100 tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil penetasan mandiri yang dilakukan oleh para nelayan sekaligus relawan komunitas.
Dalam proses penyelamatan, telur penyu yang ditemukan ditangani melalui dua metode. Sebagian ditampung di bak penetasan sementara, sementara sebagian lainnya ditetaskan di rumah-rumah nelayan yang tergabung dalam komunitas.
Menurut Sadwika, selain 100 tukik yang dilepasliarkan, saat ini komunitas masih merawat sekitar 60 tukik yang baru menetas sekitar sepekan lalu. Tukik-tukik tersebut masih dipelihara sementara hingga kondisinya dinilai cukup kuat untuk dilepas ke habitat alaminya.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengapresiasi inisiatif masyarakat Desa Adat Banyuasri dan Komunitas Kurma Segara Raksa yang secara swadaya membangun penangkaran sederhana untuk menyelamatkan telur-telur penyu.
Sutjidra menyebut kawasan Pantai Camplung hingga Pantai Penimbangan merupakan salah satu wilayah pesisir Buleleng yang rutin menjadi lokasi pendaratan penyu untuk bertelur, terutama pada periode Mei hingga Agustus.
Namun, telur penyu yang berada di alam menghadapi berbagai ancaman, termasuk predator alami seperti anjing dan biawak yang berkeliaran di kawasan pantai.
“Kami menyambut sangat baik kegiatan ini. Ternyata di perairan Pantai Camplung ini banyak penyu yang bertelur. Namun karena adanya ancaman predator, warga berinisiatif membuat penangkaran sederhana sehingga hari ini kita bisa melepasliarkan sekitar 100 ekor tukik,” kata Sutjidra.
Pemkab Buleleng, kata Sutjidra, siap berkolaborasi dengan desa adat dan masyarakat dalam memperkuat upaya pelestarian penyu. Dukungan juga akan melibatkan perangkat daerah terkait, termasuk sektor lingkungan hidup serta pertanian, ketahanan pangan dan perikanan.
Tak hanya konservasi, pemerintah daerah juga melihat potensi pengembangan kawasan pesisir Banyuasri sebagai destinasi wisata bahari berkelanjutan. Konsep tersebut nantinya dapat memadukan konservasi penyu dengan berbagai potensi wisata lainnya.
Sementara itu, Sadwika mengatakan pelepasan perdana 100 tukik ini menjadi langkah awal bagi komunitas untuk merealisasikan rencana besar pengembangan kawasan Pantai Camplung.
“Kami berharap langkah kecil yang kami lakukan sekarang bisa berdampak kepada langkah-langkah besar selanjutnya. Kami juga merencanakan grand design kawasan Pantai Camplung sebagai wisata bahari yang memadukan pelestarian penyu, kuliner, water sport, dan wisata spiritual,” ungkapnya.
Ke depan, Komunitas Kurma Segara Raksa juga berencana melibatkan anak-anak sekolah dasar dalam kegiatan pelepasan tukik. Program tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi lingkungan sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian satwa laut.
Komunitas juga mengimbau nelayan dan masyarakat yang menemukan sarang penyu di sepanjang pesisir Banyuasri untuk segera berkoordinasi dengan relawan. Langkah tersebut penting agar telur penyu dapat diamankan dari ancaman predator maupun kerusakan sarang.
Pelepasan 100 tukik ini menjadi momentum awal kolaborasi antara masyarakat, desa adat dan pemerintah. (yul/red).



