Komisi XII DPR RI Cari Titik Temu Proyek FSRU LNG di Bali Soroti Keandalan Listrik Serap Aspirasi Warga Desa Adat Serangan

Jbm.co.id-DENPASAR | Komisi XII DPR RI melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Masa Persidangan V Tahun 2025-2026 dengan meninjau lokasi rencana pembangunan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) LNG di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Sanur Kauh, serta Pelabuhan Sire Agen, Serangan, Denpasar, Rabu, 22 Juli 2026.
Rombongan Komisi XII DPR RI dipimpin Ketua Tim Sugeng Suparwoto, M.T., didampingi Wakil Ketua Tim, Dr. Bambang Patijaya, SE., MM., Dony Maryadi Oekon, S.T., dan juga Wakil Ketua Tim, Putri Zulkifli Hasan, S.Mn., M.Bus.
Hadir pula, Anggota Komisi XII DPR RI diantaranya Ir. Bambang Wuryanto, MBA., H. Yulian Gunhar, SH., M.H., Sigit Karyawan Yunianto, SH., MAP., Jamaludiin Malik, S.H., M.H., drg. Alfons Manibui, Ir. Beniyanto, S.T., Dr. Ramson Siagian, Rocky Chandra, Cheroline Chrisye Makalew, Dr. Syarif Fasha, SE., M.E., N.M Dipo Nusantara Pua Upa, S.H., M.Kn., Syafruddin, S. Pd., Dr. Ir. H. A. Junaidi Auly, M.M., H. Jalal Abdul Nasir, AK., Aqib Ardiansyah, M.Si., H. Totok Daryanto, S.E., Dr. H. Eddy Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc., dan Dr. Sartono, SE.,MM ., serta 3 orang Sekretaris, yaitu Dwiyanti, Taufiq dan Abd. Waiz.
Selain itu, Kunker Reses Komisi XII DPR RI juga dihadiri oleh Para pendamping meliputi Ir. Sigit Reliantoro, M.Sc. (Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Lingkungan Hidup KLH RI), La Ode Sulaiman (Dirjen Migas KESDM RI), Arief K. Risdianto (Dirut PT PGN,Tbk., Dirut PT. Dewata Energi Bersih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan Perwakilan PLN.
Kunker Reses Komisi XII DPR RI difokuskan pada pengawasan rencana pembangunan infrastruktur energi di Bali sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait proyek FSRU LNG yang menjadi perhatian publik.
Ketua Tim Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR di bidang energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, dan investasi di Bali.
“Kehadiran kami menindaklanjuti aspirasi Masyarakat Adat Serangan terkait rencana pembangunan FSRU, yang kami sikapi secara serius,” kata Sugeng Suparwoto.
Menurutnya, gas alam yang akan dimanfaatkan berasal dari Lapangan Tangguh di Papua Barat. Gas tersebut diproses menjadi LNG, diangkut melalui kapal, kemudian diregasifikasi sebelum disalurkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik berbasis gas berkapasitas sekitar 200 Megawatt yang direncanakan dibangun oleh PLN.
Sugeng Suparwoto menjelaskan, pihaknya juga mendengar langsung berbagai masukan dari masyarakat Desa Adat Serangan yang menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak proyek terhadap lingkungan, budaya, hingga mata pencaharian nelayan.
“Maka perlu kami ke Bali ini mendengar langsung dari investor dimana ini Joint Venture antara investor dengan Perusda Bali,” kata Sugeng Suparwoto.
Sugeng Suparwoto menilai kehadiran investor tidak hanya berbicara mengenai investasi, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat lokal.
“Nah inilah kita datang ke Bali mau mencari titik temu, lantaran penting sekali pembangunan FSRU LNG,” terangnya.
Disisi lain, Sugeng Suparwoto mengungkapkan kebutuhan listrik Bali terus meningkat. Pertumbuhan konsumsi listrik di Pulau Dewata mencapai sekitar 8,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sekitar 4,3 persen. Sementara itu, cadangan daya (reserve margin) Bali disebut hanya tersisa sekitar 2 persen sehingga berpotensi mengganggu keandalan sistem kelistrikan.
“Padahal kita sama-sama ketahui tadi pertumbuhan listrik demikian pesat, maka untuk disegerakan dibangun setidaknya tadi akan nambah 200 Mega Watt dengan bahan baku dari Gas,” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan gas menjadi solusi transisi menuju energi yang lebih bersih karena menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lain, khususnya diesel yang masih digunakan pada sejumlah pembangkit listrik di Bali.
Sugeng Suparwoto juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki komitmen internasional melalui Paris Agreement untuk menurunkan emisi karbon sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.
Sugeng Suparwoto menilai penggunaan gas sebagai energi transisi menjadi salah satu langkah yang dapat mendukung target tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar diesel yang dinilai mahal dan lebih mencemari lingkungan.
“Itu mahal sekali dan juga pasti polutif khan begitu. Nah, ini di Bali mau Green menuju Renuable Energi maka ikhtiar salah satunya Pembangkit dengan Gas, yang Relative Green, maka Fosil itu tetap ada Karbonnya, tapi sangat rendah dibandingkan dengan Diesel,” paparnya.
Komisi XII DPR RI, lanjut Sugeng Suparwoto, berupaya menjalankan fungsi penyelesaian masalah dengan mencari solusi terbaik agar pembangunan FSRU LNG tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan aspirasi masyarakat adat.
“Kebetulan saya langsung yang terima mereka. Jadi, hari ini kami terjun langsung ke lapangan. Saat di Pantai Muntig Siokan tidak ada warganya, maka kami datang ke tempat Warga di seberang sana di Desa Adat Serangan. Setelah disini, kami akan kesana. Itulah ikhtiar kita mau mencari jalan keluar bukan mau mencari masalah, karena hal ini buat kepentingan kita bersama,” tandasnya.
Sugeng Suparwoto juga menekankan bahwa sistem kelistrikan Bali memiliki karakteristik berbeda karena belum terhubung dengan jaringan listrik Jawa. Kondisi tersebut membuat penguatan pasokan energi menjadi kebutuhan mendesak, namun tetap harus mengedepankan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.
“Pulau Jawa itu Reserve Margin 30 persen disini tinggal 2 persen. Maka disegerakan dibangun PLTU tetapi tetap yang Green. Bali sangatlah luar biasa harus menjadi percontohan Nasional saat komitmen G20. Ayo kita dukung semua pembangunan Pembangkit Listrik yang bersih dan berkelanjutan,” tutupnya. (ace).




