BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikanSeni Budaya

Teater SMA Harapan Denpasar Pukau Penonton Lewat Lakon Panen Anak di FSBJ VIII 2026

Jbm.co.id-DENPASAR  | Penampilan Teater SMA Harapan Denpasar menjadi salah satu sorotan dalam Lomba Teater Modern pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, Sabtu, 18 Juli 2026.

Membawakan lakon Panen Anak karya sastrawan Bali Manik Sukadana, para pelajar tersebut sukses memukau penonton hingga mendapat standing ovation sebagai bentuk apresiasi atas kualitas pementasan yang ditampilkan.

Foto: Penampilan Teater SMA Harapan Denpasar membawakan lakon Panen A dalam Lomba Teater Modern pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, Sabtu, 18 Juli 2026.

Keikutsertaan SMA Harapan Denpasar dalam ajang ini menjadi bagian dari upaya mendorong kreativitas generasi muda Bali melalui seni pertunjukan. Persiapan dilakukan secara matang dengan memanfaatkan pembinaan yang telah berlangsung melalui kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolah.

Sutradara Teater SMA Harapan Denpasar, Dede Satria, menjelaskan bahwa keterlibatan sekolah dalam Festival Seni Bali Jani merupakan bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi Bali dalam mengembangkan potensi seni generasi muda.

“Kebetulan kami mengikuti Festival Seni Bali Jani yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Bali. SMA Harapan ikut berpartisipasi dalam Lomba Teater Modern yang digelar hari ini,” ujar Dede.

Ia mengungkapkan, proses seleksi pemain dilakukan secara bertahap. Para siswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan dasar teater, kemudian tampil dalam pentas tunggal sebelum dipilih menjadi pemeran terbaik yang mewakili sekolah.

“Sebenarnya di SMA Harapan sudah ada ekstrakurikuler teater. Sebelum bergabung ke ekstrakurikuler, para siswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan dasar teater. Setelah itu kami mengadakan pentas tunggal, lalu memilih aktor-aktor terbaik untuk mewakili sekolah pada lomba kali ini. Persiapan khusus menuju festival ini berlangsung sekitar satu bulan,” jelasnya.

Melalui lakon Panen Anak, Teater SMA Harapan mengangkat isu sosial yang masih terjadi di masyarakat Bali, khususnya mengenai tekanan sosial terkait adat dan tuntutan memiliki keturunan. Naskah tersebut mengajak penonton melihat persoalan itu dari sudut pandang yang lebih humanis.

“Pada Festival Seni Bali Jani kali ini kami membawakan lakon ‘Panen Anak’, karya Manik Sukadana. Dari yang saya pahami bersama teman-teman, naskah ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat desa yang sering kali terkekang oleh adat, omongan orang lain, serta berbagai stigma yang berkembang di masyarakat,” ungkapnya.

Dede menilai karya tersebut menyampaikan kritik terhadap cara pandang yang masih memberikan tekanan kepada seseorang dalam menjalani kehidupan.

“Melalui naskah ini, Manik Sukadana ingin menggugat cara pandang tersebut. Memiliki anak bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau dijadikan tekanan. Namun, dalam kenyataannya masih ada orang tua yang tidak sabar dan terus mendesak anak-anaknya agar segera memberikan cucu,” tuturnya.

Menurutnya, pesan moral yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjalankan adat secara bijaksana tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

“Pesan moral yang ingin disampaikan adalah bahwa adat tidak harus dimaknai secara kaku. Adat perlu dijalankan dengan bijaksana dan lebih fleksibel. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ke mana pun seseorang pergi, pada akhirnya ia akan tetap kembali kepada akar dan keluarganya,” tutupnya.

Salah satu pemeran, Fellice Danilia, mengaku bangga dapat tampil dalam Festival Seni Bali Jani VIII. Baginya, festival tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkuat kecintaan terhadap seni dan budaya Bali.

“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani. Festival ini menjadi wadah yang sangat positif bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dan kemampuan berkesenian,” ujar Fellice.

Ia mengatakan seluruh tim menjalani latihan intensif selama sekitar 30 hari sebelum tampil di hadapan dewan juri dan masyarakat.

“Kami membutuhkan waktu sekitar 30 hari untuk melakukan persiapan hingga akhirnya mampu tampil maksimal di hadapan dewan juri. Semua proses latihan menjadi pengalaman yang sangat berharga karena mengajarkan kami tentang kerja sama, disiplin, dan totalitas dalam berkarya,” katanya.

Fellice berharap Festival Seni Bali Jani terus digelar secara berkelanjutan agar semakin banyak talenta muda memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Saya harap Festival Seni Bali Jani terus menjadi ruang yang mendorong lahirnya talenta-talenta muda di bidang seni dan budaya. Melalui ajang ini, kreativitas generasi muda dapat terus berkembang sekaligus memperkuat upaya pelestarian seni dan budaya Bali di masa depan,” harapnya.

Ia juga mengajak generasi muda Bali untuk terus berani berkarya dan menjaga warisan budaya melalui seni.

“Saya ingin mengajak teman-teman generasi muda Bali untuk jangan ragu berkarya dan berani mencoba hal-hal positif, termasuk di bidang seni. Seni bukan hanya menjadi tempat menyalurkan bakat, tetapi juga cara kita menjaga identitas, budaya, dan warisan leluhur Bali. Semoga semakin banyak anak muda yang mau terlibat, karena di tangan generasi muda inilah seni dan budaya Bali akan terus hidup dan berkembang,” pungkasnya.

Di kesempatan terpisah, Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengapresiasi pelaksanaan Festival Seni Bali Jani VIII sebagai ruang berekspresi bagi generasi muda. Menurutnya, festival tersebut layak dikembangkan hingga tingkat kabupaten/kota agar semakin banyak talenta seni dari berbagai daerah memperoleh kesempatan untuk tampil.

Ia juga menilai dukungan Pemerintah Provinsi Bali terhadap kegiatan seni menjadi langkah penting untuk mengarahkan generasi muda pada aktivitas positif, mengasah kreativitas, sekaligus memperkuat komitmen dalam melestarikan seni dan budaya Bali. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button