Jejak Nengah Renaya, Anak Petani di Busungbiu Tembus Dunia Akademik dan Hukum

Jbm.co.id-DENPASAR | Ketua Dewan Pakar DPD Partai Hanura Bali, Dr Drs Nengah Renaya, SH.,SPd.,MKn.,MHum., masih menyimpan prinsip hidup sederhana yang telah dipegang sejak kecil: ilmu pengetahuan harus memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang, dibalik kesibukannya sebagai Notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), Pejabat Lelang Kelas II, akademisi.
Pria kelahiran Kabupaten Buleleng ini mengaku tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan membawanya ke berbagai bidang profesi sekaligus. Berasal dari keluarga petani di Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, ia tumbuh dalam kehidupan yang jauh dari kemewahan. Masa kecilnya dihabiskan membantu orang tua, bahkan ikut berjualan jajanan tradisional seperti laklak, pisang rai, hingga tipat untuk membantu ekonomi keluarga.
“Orang tua saya petani. Saya dibesarkan dalam kehidupan yang sederhana. Justru dari situ saya belajar bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan,” tuturnya, Minggu (6/7/2026).
Selepas menamatkan SMA, Renaya memilih merantau. Ia meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan sambil bekerja. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, ia menempuh pendidikan di bidang ekonomi sembari bekerja di sebuah kantor notaris. Pengalaman itulah yang kemudian memperkenalkannya pada dunia hukum dan menjadi titik awal perjalanan panjangnya hingga dikenal sebagai salah satu notaris senior di Bali.
Perjalanan akademiknya berkembang jauh melampaui rencana awal. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi, ia melanjutkan studi hukum, pendidikan, kenotariatan, hingga berbagai program pascasarjana. Semangatnya menuntut ilmu bahkan belum berhenti hingga kini. Renaya masih menjalani pendidikan doktor di bidang Linguistik Bahasa Inggris di Universitas Udayana.
Baginya, belajar bukan sekadar mengejar gelar akademik, tetapi membangun kualitas diri agar mampu memberi solusi bagi masyarakat.
“Saya percaya hanya ilmu pengetahuan yang membuka hati, membuka pikiran, sekaligus mencerdaskan jiwa. Karena itu saya tidak pernah berhenti belajar,” ujarnya.
Selain menjalankan profesi sebagai notaris, PPAT, dan Pejabat Lelang Kelas II, Renaya juga dikenal sebagai akademisi yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi. Ia menjadi dosen pada Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Program Magister Kenotariatan Universitas Warmadewa, Program Magister Hukum, hingga Program Sarjana Hukum. Tidak hanya mengajar, ia juga rutin menjadi pembimbing tesis, penguji, moderator seminar, serta narasumber dalam berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional.
Aktivitas akademiknya bahkan membawanya mengikuti berbagai kegiatan di sejumlah negara anggota ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Kamboja. Meski memiliki jadwal yang sangat padat, ia mengaku seluruh aktivitas dapat dijalani dengan disiplin dalam mengatur waktu.
“Saya memang terbiasa menyusun jadwal. Kalau semuanya sudah terencana, profesi, akademik, organisasi, dan keluarga tetap bisa berjalan seimbang,” katanya.
Di tengah kesibukan tersebut, Renaya justru memutuskan masuk ke dunia politik. Keputusan itu, menurutnya, bukan karena ambisi mengejar jabatan, melainkan lahir dari keinginan memperluas pengabdian.
Ia menilai profesi sebagai notaris maupun dosen telah memberinya kehidupan yang layak. Namun, ia merasa kontribusinya kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada ruang kuliah maupun pelayanan hukum semata.
“Saya punya pemikiran sederhana, mengapa saya tidak berbuat untuk orang banyak. Kalau kita hanya memikirkan diri sendiri, manfaatnya terbatas. Tetapi ketika kita memikirkan masyarakat, sesungguhnya kita juga sedang membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua,” ungkapnya.
Pilihan politiknya jatuh kepada Partai Hanura sejak tahun 2009. Selama lebih dari satu setengah dekade, ia tidak pernah berpindah partai. Menurutnya, loyalitas merupakan bagian dari integritas.
“Saya bergabung sejak 2009. Saya tidak pernah berpikir mencari partai lain. Saya merasa lebih baik konsisten mengabdi daripada berpindah-pindah,” ujarnya.
Kini kepercayaan sebagai Ketua Dewan Pakar DPD Partai Hanura Bali dijalaninya dengan memberikan masukan dan pemikiran strategis kepada organisasi. Latar belakang akademik dan profesinya di bidang hukum menjadi modal utama dalam menyusun berbagai kajian yang dibutuhkan partai.
Di luar profesi dan politik, Renaya tetap menjaga kedekatan dengan kampung halaman. Hampir setiap pekan ia pulang ke Buleleng untuk mengembangkan yayasan yang didirikannya. Yayasan tersebut tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian seni dan budaya Bali.
Ia tengah membangun galeri yang menampilkan berbagai karya seni, lukisan, serta ruang edukasi yang mengisahkan perjalanan lahirnya Weda. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga harus dibarengi pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual.
Renaya juga dikenal memiliki kegemaran menulis puisi. Di sela kesibukan, ia kerap menuangkan gagasan dalam bentuk karya sastra. Namun untuk sementara, aktivitas tersebut dikurangi agar fokus menyelesaikan pendidikan doktor.
“Saya senang menulis puisi. Hampir setiap minggu saya menulis. Tetapi sekarang saya fokus dulu menyelesaikan program doktor,” katanya.
Di balik seluruh aktivitas tersebut, Renaya berasal dari keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Salah satunya adalah adik kandungnya sendirim Dr. Ketut Sumedana, yang kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan setelah sebelumnya menduduki berbagai jabatan strategis di Kejaksaan Agung.
Meski demikian, Renaya menegaskan bahwa keluarganya dibesarkan dengan prinsip kerja keras, bukan mengandalkan jabatan. Ia bahkan mengaku menjadi orang pertama di keluarganya yang merintis pendidikan tinggi, kemudian mendorong adik-adiknya untuk menempuh jalan yang sama.
Kini, semangat tersebut juga diteruskan kepada ketiga anaknya. Salah satunya menempuh pendidikan dokter spesialis, sementara dua lainnya memilih mengikuti jejak sang ayah di bidang hukum dan kenotariatan.
Bagi Renaya, keberhasilan bukanlah soal seberapa banyak gelar atau jabatan yang berhasil diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
“Saya selalu percaya bahwa ilmu, profesi, maupun politik pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian. Kalau semua itu hanya untuk diri sendiri, maka nilainya menjadi sangat kecil. Tetapi kalau digunakan untuk membantu orang lain, di situlah makna sesungguhnya,” tutupnya. (red/tim).




