BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahanSeni Budaya

ICCB Belum Terwujud 22 Tahun, Wayan Supadno Kritik Tanah Pemprov Bali Tak Produktif dan Potensi PAD Terabaikan

Jbm.co.id-DENPASAR |  Praktisi Agribisnis Wayan Supadno menyoroti banyaknya aset tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang ironis di tengah tingginya kebutuhan pendapatan daerah dan peluang ekonomi yang tersedia.

Sorotan tajam itu disampaikan Wayan Supadno, saat menanggapi belum terealisasinya pembangunan India Cultural Center Bali (ICCB) di kawasan Renon, Denpasar, yang disebut telah mangkrak selama 22 tahun.

“Bali memang aneh. Harusnya Pemda Bali jadi teladan dalam pemberdayaan aset tanahnya,” kata Praktisi Agribisnis Wayan Supadno bertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurutnya, banyak aset tanah milik Pemprov Bali maupun pemerintah kabupaten/kota di Bali yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun justru tidak produktif dan hanya menjadi beban biaya pemeliharaan.

Keberadaan aset yang tidak dimanfaatkan secara maksimal itu dinilai berpotensi menjadi “Cost Centre” karena tetap membutuhkan biaya pajak, pemeliharaan, dan perawatan setiap tahun.

Padahal, lanjutnya, jika dikelola melalui kerja sama strategis dengan pihak lain, aset-aset tersebut bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang signifikan.

“Hanya mangkrak jauh dari harapan. Sangat tidak edukatif,” bebernya.

Wayan Supadno juga mencontohkan aset tanah di kawasan Baturiti yang memiliki luas cukup besar, namun belum dikembangkan secara produktif. Di sisi lain, Bali masih mendatangkan bunga potong untuk kebutuhan hotel dan dekorasi dari luar daerah.

“Kita impor bunga pajang di hotel-hotel, jumlah besar rutin dan jangka panjang,” geramnya.

Wayan Supadno menilai lahan-lahan tidur tersebut sebenarnya dapat dikembangkan menjadi kawasan greenhouse atau sentra produksi bunga hias untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Bali.

Berdasarkan data tahun 2019, Bali mendatangkan sekitar 1,52 juta batang bunga krisan per bulan, sebagian besar berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp2,2 miliar per bulan.

Menurut Wayan Supadno, jika produksi bunga lokal diperkuat melalui pemanfaatan aset daerah yang mangkrak, maka perputaran ekonomi bisa tetap berada di Bali sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button