Di Balik Gelap Goa Gong, Harapan Baru Mulai Menyala
"Konflik yang bertahun-tahun menggantung tanpa kepastian kini menunjukkan tanda-tanda mencair, seiring terbukanya ruang komunikasi antara para pihak yang bersengketa"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah sunyi yang selama ini menyelimuti polemik pengelolaan kawasan Goa Gong, secercah harapan perlahan mulai menemukan jalannya. Konflik yang bertahun-tahun menggantung tanpa kepastian kini menunjukkan tanda-tanda mencair, seiring terbukanya ruang komunikasi antara para pihak yang bersengketa.
Sutikno, salah satu pemilik lahan yang selama ini berada di pusaran persoalan, menuturkan bahwa langkah awal telah diambil. Utusan Pemerintah Kabupaten Pacitan mulai menjalin dialog dengan dirinya dan Kateni, pemilik lahan lainnya. Pertemuan demi pertemuan telah digelar, menghadirkan suasana yang lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
“Sudah ada pembicaraan yang lebih serius. Bahkan beberapa skema sudah mulai dirumuskan agar bisa mengakomodasi kedua belah pihak,” ungkap Sutikno, Sabtu (2/5/2026).

Meski demikian, jalan menuju kesepakatan final masih panjang. Skema yang dibahas belum sampai ke meja pengambilan keputusan tertinggi di tingkat pemerintah daerah. Dalam hal ini, Bupati Pacitan menjadi figur kunci yang nantinya akan menentukan arah kebijakan secara resmi.
Bagi Sutikno, proses ini bukan sekadar negosiasi biasa. Ada aspek legalitas yang harus benar-benar dipastikan sebelum keputusan diambil. Ia menegaskan bahwa kehati-hatian menjadi hal utama agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
“Ini menyangkut legalitas. Jadi semua harus benar-benar jelas dan tidak bisa terburu-buru,” katanya.
Namun, pengalaman masa lalu yang kerap berujung pada stagnasi membuat para pemilik lahan tidak ingin hanya bergantung pada satu jalur komunikasi. Mereka memilih untuk bergerak lebih aktif, menjemput bola hingga ke tingkat yang lebih tinggi.
Langkah itu diwujudkan dengan membangun komunikasi dengan pihak-pihak strategis di tingkat nasional. Bahkan, pada sebuah pagi di Kota Solo, Sutikno bersama Kateni melakukan pertemuan dengan salah satu anggota DPR RI.
Pertemuan tersebut menjadi simbol bahwa upaya penyelesaian kini tidak lagi berjalan di tempat. Ada dorongan kuat untuk memastikan persoalan Goa Gong tidak kembali terjebak dalam lingkaran penundaan.
Di balik stalaktit dan stalagmit yang menjadi daya tarik wisata alam itu, tersimpan cerita panjang tentang hak, harapan, dan keadilan. Kini, ketika komunikasi mulai terbangun dan pintu-pintu mulai terbuka, masyarakat menanti satu hal sederhana: kepastian.
Apakah kali ini Goa Gong benar-benar akan menemukan titik terang? Waktu yang akan menjawab. Namun setidaknya, langkah kecil telah dimulai dan harapan itu kini tidak lagi sekadar gema di dalam goa.(Red/yun).




