Dari Rumah untuk Bumi. Gerakan Pilah Sampah Pacitan demi Warisan Bersih bagi Generasi Mendatang
"Bukti bahwa kita cinta anak cucu adalah dengan mewariskan bumi yang bersih tanpa timbunan sampah"

Pacitan,JBM.co.id-Kesadaran menjaga lingkungan kini terus digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui ajakan sederhana namun berdampak besar: memilah sampah dari rumah.
Melalui kampanye bertajuk “Yuk, Mulai Pilah Sampah dari Rumah”, masyarakat diajak untuk membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sebagai langkah awal mengurangi timbunan sampah yang mencemari lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pacitan, Cicik Roudlotul Jannah, menegaskan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah dimulai dari kebiasaan kecil di tingkat rumah tangga.
“Bukti bahwa kita cinta anak cucu adalah dengan mewariskan bumi yang bersih tanpa timbunan sampah. Itu bisa dimulai dari rumah kita sendiri, dengan memilah sampah secara sederhana,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Secara umum, sampah rumah tangga terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu organik dan anorganik.
Sampah organik sering disebut sampah basah. Jenis sampah ini dapat terurai secara alami, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan daun kering. Pengolahannya relatif mudah, salah satunya dengan dijadikan kompos menggunakan ember komposter. Selain itu, sampah organik juga bisa dimasukkan ke dalam LRB (Lubang Resapan Biopori) untuk membantu proses penguraian alami sekaligus meningkatkan daya serap air tanah.
Sementara itu, sampah anorganik dikenal sebagai sampah kering yang tidak mudah membusuk dan sulit terurai, seperti plastik, botol minuman, dan kemasan makanan. Jika dibiarkan menumpuk di tanah, sampah ini dapat mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
“Untuk sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan makanan, masyarakat bisa menyetorkannya ke Bank Sampah, Sedekah Sampah, atau TPS3R terdekat. Bahkan bisa dimanfaatkan menjadi ecobrick yang bernilai guna,” jelas Cicik.
Pemilahan sampah dapat dimulai dengan menyiapkan dua tempat sampah di rumah: satu untuk organik dan satu untuk anorganik. Sisa makanan langsung dimasukkan ke tempat sampah organik.
Botol plastik dan kemasan makanan dimasukkan ke tempat sampah anorganik, dengan catatan kemasan makanan sebaiknya dicuci bersih dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum dibuang.
Langkah sederhana ini dinilai mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan potensi daur ulang.
DLH Pacitan juga mendorong masyarakat untuk menyalurkan sampah layak daur ulang ke Tempat Pengelolaan Sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Upaya ini sejalan dengan gerakan pengurangan sampah dari sumbernya.
Menurut Cicik, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
“Mulai dari sekarang, mulai dari rumah kita sendiri. Jika setiap keluarga di Pacitan memilah sampah, dampaknya akan luar biasa bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Diawali dengan semangat kolaborasi dan kesadaran kolektif, gerakan pilah sampah dari rumah diharapkan menjadi budaya baru masyarakat Pacitan, sebuah investasi nyata untuk masa depan bumi yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang.(Red/yun).




