Jelang Idulfitri 1447 H, Bupati Pacitan Tegaskan Stok BBM Aman: Warga Diminta Tak Terprovokasi Isu Geopolitik
"Ikuti kanal resmi pemberitaan pemerintah. Jangan mudah terprovokasi. Indonesia masih kondusif"

Pacitan,JBM.co.id-Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nurbayuaji Reksonagoro angkat bicara terkait isu keterbatasan stok bahan bakar minyak (BBM) menjelang Idulfitri 1447 Hijriah yang dikaitkan dengan memanasnya situasi geopolitik global. Pemerintah Kabupaten Pacitan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik dan diminta untuk tetap tenang menyikapi informasi yang beredar.
Melalui Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pacitan, Luthfi Azza Azizah, Bupati menyampaikan imbauan agar warga tidak mudah terprovokasi kabar yang belum jelas kebenarannya, terlebih isu yang menyebutkan stok BBM nasional hanya tersisa untuk 21 hari.
“Ikuti kanal resmi pemberitaan pemerintah. Jangan mudah terprovokasi. Indonesia masih kondusif,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, dinamika geopolitik global memang berpotensi memengaruhi berbagai sektor, termasuk energi. Namun hingga saat ini, pemerintah pusat maupun daerah terus melakukan koordinasi dan pemantauan guna memastikan distribusi serta ketersediaan BBM tetap terkendali, khususnya menjelang momentum mudik dan perayaan Idulfitri yang identik dengan peningkatan konsumsi energi.

Pemerintah Kabupaten Pacitan juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi di media sosial. Penyebaran kabar yang tidak terverifikasi dikhawatirkan dapat memicu kepanikan publik dan berdampak pada perilaku konsumsi berlebihan yang justru berpotensi mengganggu stabilitas pasokan di tingkat daerah.
Dengan kondisi yang disebut masih aman dan kondusif, Pemkab Pacitan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ketenangan, mempercayai mekanisme distribusi energi nasional, serta mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas menjelang hari besar keagamaan.
Momentum Idulfitri, lanjutnya, seharusnya menjadi waktu untuk mempererat kebersamaan dan memperkuat solidaritas, bukan diwarnai keresahan akibat informasi yang belum tentu benar.(Red/yun).



