Restorasi Besakih Tahap II Dimulai, Gubernur Koster Tegaskan Kembali ke Pakem Leluhur

Jbm.co.id-KARANGASEM | Restorasi kawasan suci Pura Agung Besakih resmi memasuki tahap kedua. Setelah sebelumnya fokus pada penataan infrastruktur luar, kini Pemerintah Provinsi Bali mulai menyentuh area paling sakral, yakni Parahyangan.
Gubernur Bali, Wayan Koster, memulai tahapan ini melalui prosesi ngeruwak dan mulang dasar pada Jumat, 1 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa seluruh proses penataan harus tetap berpegang pada pakem warisan leluhur.
“Ini bukan sekadar membangun fisik. Besakih adalah pusat spiritual Bali. Penataannya harus mengikuti pakem, tidak boleh sembarangan,” kata Gubernur Koster.
Sebanyak 30 parahyangan menjadi sasaran restorasi pada tahap ini. Pemerintah menolak pendekatan tambal sulam, dan memilih metode restorasi total dengan mengembalikan bentuk, struktur, serta karakter arsitektur sesuai aslinya.
“Kalau kayu ya harus kayu, kalau ijuk ya harus ijuk. Ukiran juga harus sesuai karakter pelinggihnya. Ini menyangkut kesucian, bukan proyek biasa,” kata Gubernur Koster.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp266 miliar. Dana ini bersumber dari APBD Provinsi Bali sebesar Rp63 miliar serta Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Badung sebesar Rp203 miliar. Target penyelesaian restorasi ditetapkan pada November 2026.
Gubernur Koster juga menegaskan target jangka menengah, yakni seluruh parahyangan di Besakih harus sudah dalam kondisi optimal saat pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2027.
“Targetnya jelas. Tahun 2027 saat karya besar, semua parahyangan sudah bagus. Itu komitmen kita,” ujarnya.
Restorasi tahap kedua ini merupakan lanjutan dari penataan tahap pertama yang telah menghabiskan anggaran Rp911 miliar. Tahap awal tersebut difokuskan pada pengembangan fasilitas penunjang seperti area parkir, wantilan, margi agung, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Masuknya restorasi ke kawasan inti sekaligus menjawab berbagai kritik yang sempat muncul di media sosial. Sejumlah pihak menilai penataan Besakih berpotensi mengganggu kesucian kawasan. Namun, Koster membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan melalui kajian bersama sulinggih dan bendesa adat.
“Saya tidak bekerja sendiri. Semua dibahas dengan yang memahami Besakih. Jadi jangan menilai tanpa dasar,” ujarnya.
Restorasi ini menyasar struktur kosmologis Besakih secara menyeluruh, mulai dari Catur Lokapala hingga Kahyangan Jagat. Penataan tidak dilakukan secara parsial, melainkan sebagai satu kesatuan sistem spiritual yang telah ada sejak era Dang Hyang Markandeya.
Bagi Gubernur Koster, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk pengabdian spiritual dalam menjaga pusat keagamaan umat Hindu di Bali.
“Ini wujud bhakti kita. Besakih harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, sekala dan niskala,” tutupnya. (red).




