Banjir Permukaan Jalan Provinsi di Borang Pacitan, Ini Penjelasan Teknis dan Langkah Penanganannya
"Saluran yang dangkal membuat air hujan tidak bisa mengalir dengan lancar. Akibatnya, air meluap dan menggenangi badan jalan. Hari ini sudah kami lakukan pembersihan agar aliran air kembali normal"

Pacitan,JBM.co.id-Keluhan warga terkait banjir permukaan yang kerap menggenangi jalan provinsi di Desa Borang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, mendapat respons cepat dari UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Wilayah Pacitan, Dinas PU dan Bina Marga Provinsi Jawa Timur. Tim teknis langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan sekaligus penanganan awal.
Kepala UPT PJJ Pacitan, Dinas PU dan Bina Marga Pemprov Jatim, Budi Harisantoso, menjelaskan bahwa hasil identifikasi di lapangan menunjukkan penyebab utama genangan air adalah pendangkalan saluran drainase dan gorong-gorong di sepanjang ruas jalan provinsi tersebut.
“Saluran yang dangkal membuat air hujan tidak bisa mengalir dengan lancar. Akibatnya, air meluap dan menggenangi badan jalan. Hari ini sudah kami lakukan pembersihan agar aliran air kembali normal,” ujar Budi Harisantoso, Selasa (3/2/2026).
ASN lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini menjelaskan, persoalan genangan jalan sebenarnya bukan hanya soal hujan deras, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sistem drainase jalan yang tidak berfungsi optimal. Ia memaparkan beberapa langkah teknis yang ideal dilakukan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Langkah pertama adalah normalisasi bahu jalan. Dalam konstruksi jalan, bahu jalan seharusnya memiliki kemiringan sekitar 3–5 persen dan posisinya lebih rendah dari perkerasan aspal, sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi badan jalan dan masuk ke saluran drainase.
Langkah kedua, lanjut Budi, adalah penyesuaian dimensi saluran dan gorong-gorong. Kapasitas saluran yang terlalu kecil tidak mampu menampung debit air hujan, terutama saat intensitas hujan tinggi. Oleh karena itu, perlu perhitungan ulang agar ukuran saluran sesuai dengan kondisi hidrologi wilayah.
Ketiga, yang tak kalah penting adalah perbaikan elevasi saluran. Idealnya, posisi inlet (saluran masuk) harus lebih tinggi dibandingkan outlet (saluran keluar) agar air bisa mengalir secara gravitasi. Jika elevasi terbalik atau tidak seimbang, air justru tertahan dan menimbulkan genangan.
Sementara langkah keempat adalah pembersihan rutin dan berkala terhadap sampah maupun endapan lumpur. Menurut Budi, drainase yang baik tidak hanya dibangun, tetapi juga harus dirawat secara konsisten.
“Untuk saat ini, penanganan yang bisa kami lakukan baru sebatas pembersihan saluran dan normalisasi bahu jalan. Sedangkan perubahan dimensi gorong-gorong masih memerlukan perencanaan teknis lanjutan, termasuk desain dan penganggaran,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat sekitar untuk ikut berperan menjaga fungsi drainase dengan tidak membuang sampah ke saluran air. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci agar infrastruktur jalan dapat berfungsi optimal dan aman bagi pengguna.
“Jalan ini milik bersama. Kalau saluran bersih dan terawat, manfaatnya kembali ke masyarakat sendiri, jalan aman, aktivitas lancar, dan risiko kecelakaan bisa ditekan,” pungkas Budi.(Red/yun).




