32 Tahun Kisah Pilu Yang Terpendam di Balik Keindahan Goa Gong
"Selama lebih dari tiga dekade, ia dan keluarganya memilih diam. Bukan karena tak mampu bersuara, melainkan karena harapan bahwa suatu hari keadilan akan datang dengan sendirinya"

Pacitan,JBM.co.id-Di balik gemerlap pesona Goa Gong yang memikat ribuan wisatawan, tersimpan kisah pilu yang lama terpendam. Keindahan stalaktit dan stalagmit yang memantulkan cahaya warna-warni itu seolah menutupi luka lama yang tak kunjung sembuh, yaitu luka milik sebuah keluarga yang merasa dilupakan oleh waktu dan kebijakan.
Adalah Kateni, ahli waris dari Sukimin, pemilik lahan utama yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari destinasi wisata kebanggaan daerah. Selama lebih dari tiga dekade, ia dan keluarganya memilih diam. Bukan karena tak mampu bersuara, melainkan karena harapan bahwa suatu hari keadilan akan datang dengan sendirinya.
Namun, harapan yang terus ditunda perlahan berubah menjadi kekecewaan.
Sejak awal beroperasinya objek wisata itu, lahan-lahan di sekitar kawasan goa telah dibebaskan oleh pemerintah. Sebagian warga bahkan disebut mendapat perhatian lebih, dari kompensasi hingga kesempatan menjadi aparatur negara. Ironisnya, keluarga yang memiliki lahan utama justru tak tersentuh kebijakan apa pun.
“Boro-boro diangkat sebagai pegawai, kompensasi pun tak pernah kami terima,” ujar Kateni lirih, suaranya menyiratkan kelelahan yang terakumulasi selama 32 tahun.
Waktu berjalan, generasi berganti, namun hak yang dinantikan tak kunjung tiba. Hingga akhirnya, sebuah momentum personal membuka kembali luka lama itu. Dalam waktu dekat, Kateni akan menggelar pernikahan putranya, sebuah peristiwa yang semestinya penuh sukacita, namun justru menghadirkan kegelisahan.
Biaya yang tak sedikit membuatnya tak punya pilihan selain kembali menoleh ke masa lalu, pada hak yang selama ini belum pernah ia terima.
Dengan suara yang kini lebih tegas, Kateni mengadu. Ia berharap pemerintah dapat melihat persoalan ini secara jernih dan memberikan kompensasi yang layak. Angka yang ia sebut, sekitar 20 miliar rupiah, bukan semata tuntutan, melainkan akumulasi dari nilai tanah dan hak yang menurutnya terabaikan selama puluhan tahun.
“Kami hanya ingin diperhatikan. Sudah terlalu lama kami diam,” katanya.
Kisah ini bukan sekadar tentang angka dan tanah. Ini tentang rasa keadilan yang tertunda, tentang keluarga yang berdiri di pinggir gemerlap pariwisata tanpa pernah benar-benar ikut merasakan manfaatnya.
Di tengah riuh wisatawan yang datang dan pergi, mungkin tak banyak yang tahu bahwa di balik indahnya Goa Gong, ada cerita pilu yang masih menunggu untuk diselesaikan.(Red/yun).




