
Jbm.co.id-DENPASAR | Narayan Seva Sansthan dari India berkolaborasi dengan Yayasan Puspadi Bali menggelar aksi kemanusiaan berupa pengukuran kaki palsu gratis bagi 150 penyandang disabilitas di Annika Linden Centre, Jalan Bakung Nomor 19, Tohpati, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar, Bali, Jumat (9/10/2026).
Program ini melibatkan penerima manfaat dari berbagai wilayah di Indonesia ini menjadi bagian dari kerja sama kemanusiaan Indonesia dan India. Sebanyak 150 kaki palsu baru akan diberikan secara gratis kepada penerima yang telah menjalani proses pengukuran.
Ketua Panitia Our Religion is Humanity, Sonia Kaur, mengatakan program tersebut menjadi wujud nyata dari upaya mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
“Banyak sekali bantuan dari rekan-rekan dan para dermawan yang mengapresiasi acara ini,” kata Sonia Kaur.
Lebih lanjut, Sonia Kaur menjelaskan, proses pengukuran dilaksanakan selama dua hari, yakni 9-10 Oktober 2026. Pada hari pertama, sekitar 80 peserta mengikuti pengukuran, sedangkan 70 peserta lainnya dijadwalkan pada hari berikutnya.
Pengukuran dilakukan untuk memastikan kaki palsu yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima manfaat.
“Jadi, peserta sebanyak 150 datang untuk diukur kakinya. Istilahnya, kaki yang didapatkan nanti sesuai dengan kebutuhan individu,” kata Sonia Kaur.
Setelah proses pengukuran selesai, kaki palsu akan diproduksi dan disiapkan untuk diserahkan sekitar 2,5 hingga 3 bulan kemudian, atau pada Desember 2026. Penerima manfaat nantinya kembali menjalani proses fitment atau penyesuaian, menerima kaki palsu, sekaligus mengikuti pelatihan penggunaannya.
Teknologi Lebih Ringan
Sonia Kaur mengungkapkan, kaki palsu yang disiapkan dalam program tersebut menggunakan teknologi terbaru dengan material yang lebih ringan dibandingkan kaki palsu konvensional.
Menurutnya, kaki palsu konvensional dapat memiliki bobot sekitar 8-9 kilogram, sedangkan produk yang digunakan dalam program ini berbobot sekitar 3-4 kilogram.
“Makanya, ini bisa digunakan mulai dari anak-anak usia 6 tahun dan sifatnya diabetic-friendly sehingga aman,” kata Sonia Kaur.
Kemudian, Sonia Kaur menambahkan, kaki palsu tersebut diperkirakan memiliki masa pakai sekitar 3-4 tahun. Dengan perawatan yang tepat, masa penggunaannya berpotensi lebih lama.
Untuk mendapatkan bantuan ini, calon penerima harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain warga negara Indonesia (WNI) berusia 8-60 tahun, serta telah menjalani amputasi atau operasi akibat kecelakaan lebih dari enam bulan sebelumnya.
Kondisi luka juga harus sudah kering dan calon penerima tidak memiliki kondisi medis berbahaya yang dapat menghambat penggunaan kaki palsu, seperti epilepsi dan sejenisnya.
Sonia Kaur menyebut program ini merupakan kegiatan pembagian kaki palsu gratis yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia melalui kolaborasi tersebut. Setelah Bali, pihaknya membuka peluang untuk memperluas kegiatan ke daerah lain.
“Kebetulan dari pihak Narayan Seva Sansthan Udaipur mempercayakan saya untuk menjalankan misi aksi kemanusiaan ini. Setelah Bali, mungkin kami akan ke daerah-daerah lain. Kami terbuka untuk berkolaborasi demi tujuan kemanusiaan,” terangnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dukungan para donatur dan berbagai instansi pemerintah. Dukungan tersebut diperlukan agar bantuan dapat diberikan sepenuhnya secara gratis, menggunakan produk baru, bukan barang bekas.
“Kami sangat berterima kasih karena pihak Bea Cukai juga sudah kami temui, responsnya sangat positif, dan pastinya akan dibantu untuk proses masuk barangnya nanti,” ungkapnya.
AWK Dorong Kerja Sama Indonesia-India
Sementara itu, Anggota DPD RI perwakilan Provinsi Bali, Arya Wedakarna (AWK), mengatakan inisiatif pembagian kaki palsu tersebut mulai dirintis sejak Juli 2026 melalui pertemuannya dengan pihak Narayan Seva Sansthan dan Sonia Kaur di kantor DPD RI.
AWK menjelaskan, Narayan Seva Sansthan merupakan lembaga dari India yang bergerak di bidang pelayanan kemanusiaan dan kesehatan, termasuk penyediaan kaki palsu bagi penyandang disabilitas.
Dalam pertemuan tersebut, AWK kemudian mempertemukan pihak Narayan Seva Sansthan dengan Yayasan Puspadi Bali untuk membangun kolaborasi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Dari pertemuan tersebut, kami mendampingi dan ternyata tercipta kesepahaman. Ternyata, kami menemukan bahwa daftar antrean warga yang membutuhkan kaki palsu gratis ini sangat banyak,” kata AWK.
Menurutnya, kuota 150 penerima manfaat berhasil terpenuhi hanya dalam waktu satu bulan sejak sosialisasi program dilakukan. Para penerima berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Lombok dan pulau-pulau lainnya.
AWK juga menyoroti teknologi yang digunakan, karena dinilai memiliki bobot lebih ringan dibandingkan produk konvensional yang selama ini digunakan di Indonesia.
AWK berharap Narayan Seva Sansthan dapat melanjutkan program tersebut setiap tahun dan memperluas jangkauannya ke daerah lain, termasuk Surabaya.
“Ini merupakan bentuk kerja sama bilateral yang luar biasa antara Indonesia dan India dalam kerangka G20, sebuah people-to-people connection nyata yang sangat saya dukung,” kata AWK.
Lebih lanjut, AWK menilai kerja sama tersebut dapat dikembangkan tidak hanya melalui pemberian bantuan, tetapi juga melalui transfer teknologi dari India ke Indonesia.
“Oleh karena itu, kami berharap ilmu fabrikasi artificial limb dari India ini bisa ditularkan ke kita. Kalau memungkinkan, kita berharap beliau bisa membangun klinik, rumah sakit, hingga pabriknya disini,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Narayan Seva Sansthan YS. Lodha, Ketua Pembina Yayasan Puspadi Bali Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali Ni Putu Yuni Candra Yanti, perwakilan Imigrasi Bali, Bea Cukai, serta undangan lainnya.
Pewarta: Ace Wiguna
Editor: Putu Wiguna




