BaliBeritaDaerahDenpasarGaya HidupPemerintahanSeni Budaya

Putri Koster Ajak ASN dan Masyarakat Bali Cintai Wastra Lokal Jadi Gaya Hidup dan Penggerak UMKM

Jbm.co.id-DENPASAR |  Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster mengajak aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat Bali untuk mencintai serta menggunakan wastra Bali dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Putri Koster, penggunaan wastra Bali tidak hanya menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga dapat memperkuat perekonomian perajin dan pelaku UMKM lokal.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, saat membuka Dekranasda Bali Fashion Day “Wastra Hita Kara” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (28/7/2026).

Putri Koster mengatakan, pemberdayaan UMKM dan industri kecil menengah (IKM) menjadi salah satu fokus Dekranasda Bali sejak periode pertama kepemimpinannya.

Melalui sinergi dengan Bank BPD Bali dan berbagai pihak, Dekranasda Bali terus memberikan pendampingan sekaligus membuka akses pasar bagi produk-produk lokal Bali.

Pada periode kedua kepemimpinannya, Dekranasda Bali kembali menghadirkan program IKM Bali Bangkit. Program tersebut dinilai terus menunjukkan perkembangan positif.

Sejak dibuka pada Maret hingga saat ini, nilai transaksi IKM Bali Bangkit telah mencapai kurang lebih Rp32 miliar.

“Ajang Pesta Kesenian Bali memberikan dampak yang sangat besar terhadap peningkatan penjualan produk UMKM. Kami menyediakan wadah secara gratis bagi para pelaku usaha selama mereka bersedia mengikuti aturan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Fashion Day Jadi Ruang Promosi Wastra Bali

Selain menyediakan ruang pameran, Dekranasda Bali secara rutin menggelar peragaan busana setiap bulan untuk mempromosikan produk wastra Bali.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para desainer dan perajin lokal untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

“Karena tahun ini kami tidak mengikuti Kriya Nusa, maka kami menghadirkan Fashion Week agar para desainer dan perajin tetap memiliki panggung untuk memperkenalkan karya-karyanya,” jelasnya.

Putri Koster juga mengajak seluruh kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali tidak hanya memberikan dukungan kepada UMKM secara simbolis. Ia mendorong para pejabat dan ASN untuk membeli serta mengenakan produk yang dipasarkan melalui IKM Bali Bangkit.

“Kalau kita ingin UMKM maju, mari kita mulai dengan membeli dan memakai produknya. Saat ini omzet IKM Bali Bangkit telah meningkat, dan hari ini ada empat OPD yang ikut tampil dalam fashion show menggunakan busana karya UMKM Bali,” paparnya.

Dalam Dekranasda Bali Fashion Day tersebut, sejumlah perangkat daerah tampil memperagakan busana berbahan wastra Bali, diantaranya Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali, RS Mata Bali Mandara, serta Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali.

Dorong Desainer Bali Jadi Trendsetter

Putri Koster menjelaskan, Dekranasda Bali Fashion Day merupakan bagian dari rangkaian program Trilogi Dekranasda.

Program tersebut mencakup Fashion Day, Fashion Week, dan Road Show yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis wastra Bali secara berkelanjutan.

Ia berharap desainer Bali tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu menciptakan tren dengan menghadirkan busana modern yang tetap mempertahankan identitas budaya Bali.

“Desainer harus menjadi trendsetter, sehingga masyarakat Bali tampil modis tetapi tetap berakar pada budaya sendiri,” tegasnya.

Wastra Tradisional Bali Perlu Dilindungi

Putri Koster juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan kain tenun tradisional Bali. Menurutnya, wastra Bali saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk semakin banyaknya motif tenun Bali yang ditiru.

Karena itu, perlindungan dan pelestarian terhadap wastra tradisional dinilai perlu dilakukan secara serius agar keaslian serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

Ia menyebut kain endek Bali telah memperoleh pengakuan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), sedangkan kain gringsing Tenganan telah memiliki Indikasi Geografis (IG).

Pengakuan tersebut menjadi instrumen penting untuk melindungi keaslian produk sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin.

“Kalau kita benar-benar mencintai kain tenun Bali, maka kita juga harus tahu bagaimana menjaga kelestariannya. Perlindungan terhadap wastra tradisional adalah bentuk penghormatan kepada para perajin sekaligus investasi bagi masa depan budaya Bali,” pungkasnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button