BeritaDaerahPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Pra-Revalidasi Geopark Gunung Sewu, Pacitan Perkuat Identitas Geoarkeologi dan Kolaborasi Tiga Daerah

"Hasil rekomendasi menjadi pijakan penting dalam menyelaraskan arah pengembangan geopark di tiga kabupaten"

Pacitan,JBM.co.id-Kolaborasi lintas daerah menjadi kunci penguatan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark dalam menghadapi agenda revalidasi pada 2027 mendatang. Tiga kabupaten yang berada dalam kawasan geopark, yakni Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul, didorong untuk mengembangkan keunggulan masing-masing dengan tetap menjaga identitas bersama sebagai bagian dari warisan geologi dunia.

Hal tersebut mengemuka dalam Berita Acara Hasil Rekomendasi Pra-Revalidasi Geopark Gunung Sewu yang berlangsung di salah satu hotel kenamaan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (27/10).

Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Hesti Suteki, menyampaikan bahwa hasil rekomendasi tersebut menjadi pijakan penting dalam menyelaraskan arah pengembangan geopark di tiga kabupaten.

Menurutnya, setiap daerah memiliki kekhasan yang perlu ditonjolkan, tetapi pengembangannya harus tetap berada dalam semangat kebersamaan dan kolaborasi.

“Pengembangan Geopark Gunung Sewu perlu mengedepankan semangat kebersamaan dan kolaborasi antardaerah, dengan tetap mempertahankan identitas bersama sebagai Gunung Sewu UNESCO Global Geopark,” kata Hesti, Rabu (28/10).

Pembagian fokus pengembangan menjadi salah satu strategi untuk memperkuat karakter setiap wilayah. Kabupaten Pacitan diarahkan pada geoarkeologi, dengan menonjolkan kekayaan peninggalan arkeologi dan keterkaitannya dengan sejarah geologi.

Kabupaten Wonogiri mengedepankan geomorfologi dan kehidupan masyarakat, mencakup bentang alam, mata pencaharian, kesenian, tradisi, hingga kebiasaan lokal. Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul berfokus pada geohidrologi, terutama karakteristik sistem tata air di kawasan karst Gunung Sewu.

Perbedaan fokus tersebut bukan untuk memisahkan identitas ketiga daerah, melainkan membangun narasi yang saling melengkapi. Keunikan geologi, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di setiap wilayah diharapkan menjadi kekuatan bersama yang memperkaya daya tarik geopark.

Selain mempertegas identitas wilayah, rekomendasi pra-revalidasi juga menyoroti pentingnya pengembangan gastronomi sebagai bagian dari warisan geologi dan budaya.

Gastronomi dipandang lebih luas daripada sekadar makanan khas. Di dalamnya terdapat cerita mengenai sejarah pertanian, sumber bahan pangan, teknik pengolahan, nilai budaya, hingga tradisi penyajian yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat setempat.

Pendekatan ini membuka peluang bagi Geopark Gunung Sewu untuk menghadirkan pengalaman yang lebih utuh kepada pengunjung. Bentang alam tidak hanya dinikmati sebagai panorama, tetapi juga dipahami melalui cara masyarakat mengolah sumber daya alam dan mempertahankan tradisi dari generasi ke generasi.

“Pengembangan geopark tidak hanya menampilkan keunikan geosite, tetapi juga memperkenalkan keterkaitan bentang alam dengan pangan dan kehidupan masyarakat setempat,” jelas pejabat alumni Sekolah Tinggi Kepamongprajaan ini.

Dari sisi tata kelola, sambung dia, masing-masing kabupaten, yakni Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul, diharapkan menugaskan personel khusus yang menangani urusan geopark secara penuh waktu (full-time).

Keberadaan personel khusus dinilai penting untuk memperkuat koordinasi, memastikan pelaksanaan program berjalan konsisten, serta menjamin tindak lanjut kegiatan tidak terhambat oleh keterbatasan pengelolaan kelembagaan.

Rekomendasi lainnya menyangkut penentuan batas wilayah maritim Geopark Gunung Sewu yang harus memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini menjadi bagian penting untuk memastikan pengembangan kawasan berjalan sesuai dengan kerangka hukum yang ditetapkan.

Sebagai bagian dari persiapan revalidasi tahun 2027, berita acara tersebut merekomendasikan sejumlah lokasi kunjungan yang dinilai mewakili potensi geologi, budaya, dan kehidupan masyarakat di masing-masing kabupaten.

Di Kabupaten Pacitan, lokasi yang direkomendasikan meliputi Etalase Geopark, Teluk Pacitan, Pantai Tamperan, Sentono Genthong, Ngrijangan, Museum Song Terus, dan Pantai Buyutan.

Di Kabupaten Wonogiri, lokasi yang masuk dalam rekomendasi ialah SMK Negeri 1 Pracimantoro, Lembah Kering Giritronto–Sadeng, Museum Karst Indonesia, dan Goa Potro Bunder. Lokasi-lokasi tersebut dipersiapkan untuk mewakili kekayaan bentang alam, geologi, dan budaya setempat.

Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul merekomendasikan Kali Suci, termasuk Studio Tani dan Geosite Kali Suci, Goa Seropan, Gunung Api Purba Nglanggeran, serta Wanagama.

Pemilihan lokasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kekayaan Gunung Sewu. Setiap lokasi memiliki potensi untuk menceritakan hubungan antara proses geologi, lingkungan, sejarah, budaya, dan aktivitas masyarakat.

Penguatan geoarkeologi menjadi kesempatan untuk semakin menonjolkan keterkaitan warisan arkeologi dengan perjalanan geologi kawasan. Potensi tersebut diharapkan dapat memperkaya narasi geopark sekaligus meningkatkan pemahaman pengunjung terhadap nilai penting kawasan Gunung Sewu.

Dengan semangat kolaborasi, penguatan kelembagaan, serta pengembangan potensi lokal yang lebih terarah, Geopark Gunung Sewu diharapkan semakin siap menghadapi revalidasi 2027.

Lebih dari sekadar mempertahankan pengakuan internasional, proses ini menjadi momentum bagi ketiga kabupaten untuk memastikan bahwa warisan geologi dan budaya tetap terjaga, dikenal lebih luas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button