BadungBaliBeritaDaerahEkonomiPemerintahan

Perumda MGS Badung Kejar Serapan Gabah 400 Ton per Bulan Ditengah Ancaman El Nino saat Harga Beras Premium Tembus Rp16.500

Jbm.co.id-BADUNG | Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung memastikan sistem pertanian, khususnya produksi gabah, sejauh ini belum terdampak signifikan oleh musim El Nino.

Direktur Utama Perumda MGS Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha mengatakan pihaknya justru tengah memperkuat pasokan bahan baku untuk mengoptimalkan operasional Rice Milling Unit (RMU) yang dimiliki perusahaan.

“Mudah-mudahan tidak berpengaruh, karena harapan kami butuh pasokan bahan baku dan bahan produksi untuk RMU (Rice Milling Unit) kami. Rencananya, kami berharap bisa memenuhi kebutuhan mulai dari 400 ton per bulan. Mudah-mudahan sistem pertanian di Kabupaten Badung tidak terpengaruh,” kata Direktur Utama Perumda MGS Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha, saat diwawancarai insan media disela-sela acara Penyampaian Penjelasan Bupati Badung atas Raperda tentang Perubahan APBD Kabupaten Badung Tahun Anggaran 2026 di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Badung, Kamis, 3 September 2026.

Menurutnya, salah satu langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino dilakukan melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD), baik dengan daerah di Provinsi Bali maupun daerah lainnya.

Pihaknya juga tengah mencari informasi mengenai potensi produksi gabah dan hasil pertanian dari sejumlah daerah di luar Badung, seperti Tabanan, Bangli hingga Singaraja.

“Harapan kami, khususnya di Provinsi Bali dan Kabupaten Badung, dampaknya tidak begitu signifikan,” kata Pasek Wedha.

Serapan Baru 100-160 Ton

Pasek Wedha mengakui target penyerapan gabah sebanyak 400 ton per bulan belum tercapai. Saat ini, Perumda MGS Badung baru mampu menyerap sekitar 100 hingga 160 ton gabah per bulan. Padahal, target tersebut diperlukan agar RMU dapat beroperasi secara optimal.

RMU milik Perumda MGS Badung memiliki kapasitas pengolahan sekitar 2 ton gabah per jam. Dengan asumsi beroperasi selama 10 jam sehari, RMU dapat mengolah sekitar 20 ton gabah per hari. Jika beroperasi selama 20 hari kerja, kapasitas pengolahan tersebut mencapai sekitar 400 ton per bulan.

“Jika tidak optimal, beban listrik dan operasionalnya cukup tinggi, makanya kami terus mengejar pasokan bahan baku,” kata Pasek Wedha.

Pasek Wedha juga menjelaskan, belum tercapainya target penyerapan disebabkan pihaknya masih mencari pola kerja sama yang tepat dengan subak maupun antar pekaseh.

Kedepan, Perumda MGS Badung menargetkan dapat menyerap setidaknya 30 persen dari total produksi gabah di Kabupaten Badung.

“Dengan RMU yang optimal, minimal biaya operasional dapat tertutupi dan kami memperoleh keuntungan untuk keberlanjutan operasional,” terangnya.

Gandeng Subak dan Terapkan PMAAS

Untuk memperkuat pasokan, Perumda MGS Badung telah menjalin kerja sama dengan sejumlah subak, termasuk Subak Pekaseh dan Subak Sempidi.

Pasek Wedha menyebut penyerapan gabah saat ini paling banyak berasal dari kawasan Subak Pekaseh. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 40 subak. Jika mampu menjangkau separuhnya, terdapat sekitar 20 subak yang berpotensi menjadi pemasok. Sementara di Subak Sempidi terdapat sekitar 60 subak, dengan potensi sekitar 30 subak apabila separuhnya dapat bekerja sama.

Selain itu, Perumda MGS Badung juga telah mengikat kontrak melalui pola PMAAS (Agriculture Advance System) di Subak Yang dengan luas lahan mencapai 50 hektar.

“Kalau dapat setengahnya berarti 20. Di Sempidi ada sekitar 60-an, setengahnya sekitar 30-an. Selain itu ada Subak Yang. Kemarin kami sudah mengikat kontrak melalui pola sistem PMAAS (Agriculture Advance System) seluas 50 hektar. Rencananya, hasil panen per hektar berkisar antara 10 hingga 12 ton. Kemarin Pak Bupati dan tim kami juga ikut turun langsung dalam proses penanamannya,” kata Pasek Wedha.

Dengan luas 50 hektar dan estimasi hasil 10 hingga 12 ton per hektar, kerja sama tersebut diharapkan mampu menambah pasokan gabah bagi kebutuhan RMU.

Untuk harga pembelian, Perumda MGS sebelumnya menyepakati harga gabah di Subak Pekaseh sebesar Rp6.600 per kilogram, sedangkan di Subak Sempidi Rp6.700 per kilogram.

“Subak Sempidi ini kami harapkan menjadi buffer untuk Puspam, jadi ada nilai tambah atau nilai lebihnya,” urainya.

Harga Beras Premium Tembus Rp16.500

Setelah gabah diterima, Perumda MGS Badung memprosesnya menjadi beras. Saat ini, produksi beras yang dihasilkan cenderung langsung terserap pasar.
Namun, apabila pasokan gabah sudah stabil di kisaran 400 ton per bulan, pihaknya akan menyiapkan gudang beras khusus untuk mendukung sistem manajemen stok.

“Saat ini kami belum memiliki gudang beras yang kapasitasnya mencukupi,” kata Pasek Wedha.

Beras produksi Perumda MGS Badung saat ini didistribusikan melalui koperasi, BUMDes, sejumlah Perumda lainnya, serta sebagian kecil disalurkan kepada ASN.

Ditengah kondisi harga beras dan gabah yang mengalami kenaikan, Perumda MGS Badung tetap berupaya menjaga pasokan. Terlebih, munculnya isu El Nino dikhawatirkan dapat semakin memengaruhi produksi dan harga pangan.

“Apalagi dengan adanya isu El Nino ini. Kami berharap ke depan memiliki gudang agar bisa menerapkan sistem manajemen stok beras yang baik.

Pasek Wedha mengatakan harga beras kualitas premium di pasaran saat ini telah mencapai Rp16.000 hingga Rp16.500 per kilogram. Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp15.000-an per kilogram. Sementara itu, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras berada di angka Rp13.500 per kilogram.

“Kami berharap ke depan harga bisa kembali stabil. Sebab jika harga gabah ditekan, kasihan petaninya. Namun jika kami membeli gabah terlalu mahal, harga beras ikut melonjak. Jadi, harus ada kompromi (tarik ulur) agar ketemu harga yang pas dan semua pihak sama-sama diuntungkan,” urainya.

Menurutnya, beras merupakan kebutuhan pokok sehingga masyarakat tetap akan membelinya meskipun terjadi kenaikan harga. Oleh karena itu, stabilitas pasokan dan harga menjadi perhatian penting ditengah potensi dampak El Nino.

Perumda MGS Badung berharap langkah antisipasi yang dilakukan bersama petani, subak, hingga pemerintah daerah dapat menjaga produksi sekaligus mencegah harga beras semakin melonjak.

“Sebenarnya kenaikan ini sudah berlangsung hampir satu setengah bulan terakhir,” tutupnya.

Reporter: Ace Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button